MAKALAH
RELASI
GENDER DALAM AGAMA KRISTEN
DISUSUN OLEH :
WAHYU
11140321000040
NURAFIFAH 11140321000004
DEWI NURSALINA 11140321000009
JURUSAN PERBANDINGAN
AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
A.
Sekilas tentang Alkitab
Alkitab
adalah kumpulan buku, atau “semacam perpustakaan kecil”, yang memuat kesaksian
tentang Sabda Allah, dari berbagai pengarang, yang ditulis dalam kurun waktu
2.000 tahun. Buku-buku tersebut mulanya tersebar-sebar diberbagai tempat dan
dari waktu yang berbeda-beda. Proses penyusunan buku-buku tersebut melibatkan
banyak penulis, bukan hanya beberapa orang saja. Yang jelas penyusunan Alkitab
memakan waktu yang sangat panjang : dari satu generasi ke generasi berikut
mengalami pengolahan, penyalinan, dst. Jadi Alkitab dalam bentuk buku seperti
sekarang ini mengalami perkembangan tahap demi tahap.[1]
Alkitab ditulis oleh manusia tetapi manusia mendapat penerangan dari Roh Allah
sendiri. Allah berkomunikasi, menyatakan diri-Nya pada manusia dengan bahasa
yang dimengerti manusia. Maka isi Alkitab berkisar pada kehidupan manusia,
misalnya ajaran , larangan etis atau perintah, petunjuk untuk beribadat, ritus
upacara, hukum; lagu pujian dll.[2]
Alkitab terdiri dari dua bagian besar. Perjanjian Lama (45 buku) dan Perjanjian
Baru (27 buku) sehingga jumlah seluruhnya 72 buku. [3]
Alkitab
terbagi menjadi dua yaitu;
1. Perjanjian Lama
adalah bagian pertama dari Alkitab
Kristen,
yang utamanya berdasarkan pada Alkitab
Ibrani, berisikan suatu kumpulan tulisan keagamaan karya bangsa Israel
kuno. Bagian ini merupakan pasangan dari Perjanjian
Baru, bagian kedua dari Alkitab Kristen. Terdapat variasi kanon Perjanjian Lama di
antara Gereja-gereja Kristen; kalangan Protestan
dan Orang Suci Zaman Akhir
hanya menerima kitab-kitab yang terdapat dalam kanon Alkitab Ibrani, yang mana
terbagi dalam 39 kitab, sedangkan kalangan Katolik Roma,
Ortodoks
Timur, dan Ortodoks Oriental menerima sekumpulan tulisan
dengan jumlah yang sedikit lebih banyak.
Perjanjian Lama terdiri dari banyak
kitab berbeda yang ditulis, disusun, dan disunting
oleh berbagai penulis selama kurun waktu berabad-abad. Alkitab
Ibrani merupakan dasar dari Perjanjian Lama Kristen, namun tidak ada kejelasan
sepenuhnya pada titik mana parameter-parameter dari Alkitab tersebut
ditetapkan. Beberapa akademisi mengajukan pendapat bahwa kanon Alkitab Ibrani
ditetapkan pada sekitar abad ke-3 M, atau bahkan setelahnya. [4]
Didalam perjanjian lama terdapat
surat-surat diantaranya : [5]
|
Nama kitab
|
Penulis
|
Perkiraan Tahun Penulisan
|
|
1445 SM
|
||
|
Musa
|
1444 SM
|
|
|
Musa
|
1443 SM
|
|
|
Musa
|
1443-1405 SM
|
|
|
Musa
|
1405 SM
|
|
|
1375 SM
|
||
|
1375-1075 SM
|
||
|
Selama masa Hakim-hakim (1100 SM)
|
||
|
Tidak dikenal
|
1000 SM
|
|
|
Tidak dikenal
|
960 SM
|
|
|
Tidak dikenal
|
Abad ke-6 SM
|
|
|
Tidak dikenal
|
Abad ke-6 SM
|
|
|
Abad ke-5 SM
|
||
|
Ezra
|
Abad ke-5 SM
|
|
|
Ezra
|
535-475 SM
|
|
|
445-433 SM
|
||
|
Tidak dikenal
|
483-474 SM
|
|
|
Tidak dikenal
|
1800 SM
|
|
|
1440-580 SM
|
||
|
Salomo dan penulis lain
|
950 SM
|
|
|
Salomo
|
935 SM
|
|
|
Salomo
|
960 SM
|
|
|
739-700 SM
|
||
|
627-560 SM
|
||
|
Yeremia
|
586 SM
|
|
|
593-571 SM
|
||
|
606-534 SM
|
||
|
760-725 SM
|
||
|
838 SM
|
||
|
760 SM
|
||
|
845 SM
|
||
|
782 SM
|
||
|
735 SM
|
||
|
650 SM
|
||
|
609-599 SM
|
||
|
640 SM
|
||
|
520 SM
|
||
|
520 SM
|
||
|
500 SM
|
||
|
45-60 M
|
||
|
57-60 M
|
||
|
40-65 M
|
||
|
Lukas
|
57-62
M
|
|
|
57
M
|
||
|
Paulus
|
55
M
|
|
|
Paulus
|
56
M
|
|
|
Paulus
|
56
M
|
|
|
Paulus
|
58
M
|
|
|
Paulus
|
58 M
|
|
|
Paulus
|
58 M
|
|
|
Paulus
|
50
M
|
|
|
Paulus
|
51
M
|
|
|
Paulus
|
55 M
|
|
|
Paulus
|
58
M
|
|
|
Paulus
|
57
M
|
|
|
Paulus
|
58
M
|
|
|
Tidak dikenal
|
67
M
|
|
|
63
M
|
||
|
Petrus
|
||
2. Perjanjian Baru
Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani Koine: Ἡ Καιν Διαθήκη,[1]
Hē Kainḕ Diathḗkē), atau biasa disingkat PB, merupakan bagian
utama kedua kanon Alkitab Kristen, yang bagian
pertamanya adalah Perjanjian Lama (PL) yang utamanya didasarkan
pada Alkitab Ibrani.[9]
Perjanjian Baru berbahasa Yunani ini membahas ajaran-ajaran dan
pribadi Yesus,
serta berbagai peristiwa dalam Kekristenan
pada abad ke-1. Umat Kristen memandang PB bersama-sama dengan PL
sebagai kitab suci.
PB (baik sebagian maupun secara keseluruhan) telah seringkali menyertai penyebaran agama Kristen di seluruh dunia.
Selain itu PB juga dianggap mencerminkan dan berfungsi sebagai suatu sumber
bagi moralitas
dan teologi Kristen. Berbagai frase dan bacaan yang
diambil langsung dari PB juga dimuat (bersama dengan bacaan-bacaan dari PL) ke
dalam beragam liturgi
Kristen. PB telah mempengaruhi berbagai gerakan
keagamaan, filosofis, dan politik
dalam dunia Kristen.[10]
Perjanjian Baru merupakan sebuah antologi,
yakni koleksi karya-karya Kristiani yang ditulis dalam bahasa Yunani yang umum digunakan pada abad
pertama, pada waktu yang berbeda-beda oleh berbagai penulis yang adalah murid-murid Yahudi pertama
kali dari Yesus. Dalam hampir semua tradisi Kristen masa kini, PB meliputi 27
kitab. Teks-teks aslinya dituliskan pada abad pertama dan mungkin abad kedua Era Kristen,
dan secara umum diyakini tertulis dalam bahasa Yunani Koine,
yang mana merupakan bahasa umum (lingua franca)
di Mediterania Timur mulai dari masa Penaklukan Aleksander Agung (335–323 SM) sampai evolusi dari bangsa Yunani Bizantium (kr. 600 M).[11]
Semua karya yang pada akhirnya tergabung dalam PB ini tampaknya dituliskan
paling akhir kr. 150 M,[2]
dan beberapa akademisi menganggapnya tidak lebih dari 70 M[3]
atau 80 M.[4]
Koleksi teks-teks terkait seperti surat-surat dari Rasul Paulus
(suatu koleksi utama yang telah ada pada awal abad ke-2) dan Injil kanonik
dari Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes (ditegaskan oleh Ireneus
pada akhir abad ke-2 sebagai Keempat Injil) secara bertahap bergabung dengan
karya tunggal dan koleksi lainnya dalam beragam kombinasi yang berbeda untuk
membentuk berbagai kanon Kitab Suci Kristen. Seiring
berjalannya waktu beberapa kitab yang diperdebatkan seperti Kitab Wahyu
dan beberapa Surat-surat Umum dimasukkan ke dalam kanon,
yang mana pada awalnya karya-karya ini tidak dianggap sebagai Kitab Suci.
Karya-karya lainnya yang pada awalnya dianggap sebagai Kitab Suci, seperti 1 Klemens,
Gembala Hermas, dan Diatessaron,
tidak dimasukkan dalam kanon Perjanjian Baru. Kanon Perjanjian Lama
tidak sepenuhnya seragam di antara semua kelompok Kristen utama seperti Katolik Roma,
Protestan,
Ortodoks Yunani, Ortodoks Slavia, dan Ortodoks Armenia. Namun demikian kanon
Perjanjian Baru yang berisikan 27 kitab ini, setidaknya sejak Abad Kuno
Akhir, telah diakui hampir secara universal dalam Kekristenan
(lihat: Perkembangan kanon Perjanjian Baru).[12]
Didalam perjanjian baru terdapat
surat-surat diantaranya : [13]
1. Roma - Penelaahan yang sistematis atas
pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan. Menelaah rencana Allah atas orang Yahudi
maupun non Yahudi.
2. 1 Korintus - Surat ini menyoroti perpecahan
dalam jemaat dan teguran atas pelanggaran susila, masalah mencari keadilan
kepada orang-orang yang tidak beriman, dan kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam
Perjamuan Kudus. Juga menyinggung tentang penyembahan berhala, pernikahan, dan
kebangkitan. [14]
3. 2 Korintus - Pembelaan Paulus atas
kerasulannya.
4. Galatia - Paulus membuktikan kesalahan dari
legalisme (menganggap Hukum Taurat sebagai mutlak dalam memperoleh keselamatan)
dan menelaah mengenai tempat yang layak bagi anugrah di dalam kehidupan
orang-orang Kristen.
5. Efesus - Posisi orang percaya di dalam
Kristus dan informasi mengenai peperangan rohani.
6. Filipi - Paulus membicarakan tentang
pemenjaraannya, kasihnya kepada jemaat di Filipi. Ia mendesak mereka ke arah
kesalehan dan memperingatkan mereka akan bahaya legalisme.
7. Kolose - Paulus memfokuskan pada keutamaan
Yesus dalam penciptaan, penebusan, dan kekudusanNya.
8. 1 Tesalonika - Pelayanan Paulus kepada jemaat
Tesalonika. Pengajaran mengenai kesucian dan menyinggung tentang kembalinya
Kristus untuk yang kedua kalinya.
9. 2 Tesalonika - Koreksi-koreksi atas pendapat
yang salah mengenai Hari Tuhan.
10. 1 Timotius - Instruksi-instruksi kepada
Timotius mengenai kepemimpinan yang benar dan cara-cara menghadapi ajaran
sesat, peranan wanita, doa, dan syarat-syarat bagi penilik jemaat dan diaken.
11. 2 Timotius - Sepucuk surat untuk menguatkan
Timotius.
12. Titus - Paulus meninggalkan Titus di
Kreta guna menggembalakan gereja-gereja di sana. Syarat-syarat menjadi penatua,
penilik jemaat.
13. Filemon - Supucuk surat kepada seorang tuan
mengenai budaknya yang melarikan diri. Permohonan Paulus kepada Filemon supaya
mengampuni Onesimus.
- Teks teks ayat tentang kesetaraan
Jumlah teks – teks yang memarjinalisasikan perempuan memang
cukup banyak dalam Alkitab, namun ini tidak berarti ayat-ayat yang setara
gender dapat diabaikan. Padahal naskah teologi kesetaraan gender jelas diungkapkan
di perjanjian Lama. Sebagaimana diungkapkan Rosemary Radford Ruether
“Pernyataan penuh semangat yang membenarkan sikap merendahkan perempuan saat
ini harus dilihat sebagai wujud dari agama Kristen patriarkhal paska Paulus
yang bertentangan dengan agama Kristen kerakyatan yang lebih awal” . ia
mengakui bahwa sebenarnya tidak ada ayat-ayat dalam alkitab yang membenarkan
untuk merendahkan perempuan.[15]
istri kepada
suami dalam segala sesuatu” (Efresus 5: 22-24).Dari penyataan alkitab ini dapat disimpulkan bahwa kesetaraan bukanlah
berarti kesetaraan dalam artian kesetaraan yang diungkapkan dalam ayat ini
menyampaikan pesan bahwa meskipun ada kesetaraan akan tetapi ada batasan –
batasan tertentu yang memang tidak boleh di kecualikan.
Pada dasarnya
Yesus sendiri telah merobohkan prinsip – prinsip yang dianut oleh Yahudi yang
terlalu menafikan dan memarjinalkan kaum perempuan. Seperti misalnya, tidak
menyebutkan anak perempuan dalam status kekeluargaannya. Seperti yang terjadi
dikalangan keluarga Yakub.
Yesus memperlakukan perempuan secara positif, misalnya dalam
Lukas 7:36-50, diceritakan bahwa Yesus sangat memperhatikan dan menerima secara
positif perempuan berdosa yang datang kepadanya untuk mengurapi kakinya dengan
minyak narwastu. Hal itu sangat bertentangan dengan sikap para laki-laki yang
juga hadir di tempat yang sama. Laki-laki cenderung menolak dan menyalahkan
perempuan berdosa yang meminyaki kaki Yesus. sangat menarik sikap Yesus jika
dibanding dengan laki-laki yang lain.[16]
Nampak bahwa sebagai laki-laki Yesus tidak memanfaatkan posisinya
untuk mendominasi perempuan
Dalam Kej 1:27 bahwa laki-laki dan
perempuan berbeda secara seksualitas tetapi posisi nya setara sebagai sesama
ciptaan Allah. Allah menciptakan manusia (laki-laki dan perempuan) menurut tselem
(gambar) dan demut (rupa) Allah. Kata tselem tidak pernah
digunakan untuk suatu gambaran visual yang konkrit, tetapi murni suatu gambar
yang tidak memiliki isi dan bentuk yang konkrit. Kata tselem merupakan
istilah umum yang menunjuk kepada hubungan, dan menggambarkan sesuatu yang
tidak ada. Kata tselem sebenarnya menunjuk kepada ‘tanda’, yakni suatu
tanda yang menunjuk kepada sesuatu atau seseorang yang tidak hadir. Ini
berarti, menurut Kej. 1:26-27, manusia yang ditempatkan di dunia adalah ‘tanda’
yang menunjuk kepada kehadiran Allah. Jadi manusia menjadi tanda kehadiran
Allah yang diberikan mandat sebagai wakil Allah untuk
memerintah di dalam dunia. Manusia yaitu laki-laki dan perempuan
diciptakan menurut gambar Allah menunjukkan bahwa posisi mereka setara tanpa
hierarki. Diciptakan menurut gambar Allah adalah suatu martabat dari laki-laki
dan perempuan untuk mendapatkan tugas yang sama dari Allah (Kej 1:26;28-29).
Sehingga laki-laki tidak akan berada diatas perempuan
ataupun sebaliknya.
Selanjutnya dalam teks kedua Allah menciptakan manusia
sebagai makluk yang belum terpisahkan. Ia masih merupakan satu kesatuan.
Kemudian Allah mengambil dari manusia itu (ha adam) satu rusuk lalu
menciptakan perempuan (ha adama).[17]
Namun tidak berarti perempuan memiliki kedudukan yang lebih rendah dari
laki-laki. Penulis kitab Kejadian mengungkapkan bahwa “Tuhan Allah mengambil
salah satu rusuk dari padanya lalu menutup tempat itu dengan daging”(Kej. 2:21)
Teks ini menegaskan bahwa perempuan adalah bagian atau belahan dari laki-laki.
Maka hanya dalam persatuan kedua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) itu,
terdapat seorang manusia yang sempurna, yang segambar dengan Allah. Setelah
diciptakan perempuan, laki-laki (adam) menjadi mahluk yang baru karena sebagian
dari dirinya telah menjadi bahan bagi perempuan. Adam (laki-laki) disebut
sebagai is dan hawa (perempuan) disebut sebagai issa. Bahkan Laki-laki sendiri
yang memberi nama bagi perempuan dengan pengakuan “inilah tulang dari tulangku
dan daging dari dagingku” (bnd Orang Ibrani menyebut saudara sekaum dengan
istilah darah-daging Kej 29:14)[18]
Dengan dijadikannya laki-laki dan perempuan sejak awal sudah
ada perbedaan tetapi bukan untuk dipertentangkan melainkan sebagai identitas
pembeda dalam peranan-peranan tertentu terkait dengan seksualitasnya sebagai
laki-laki dan perempuan. Perempuan diciptakan dari laki-laki bukan berarti
bahwa perempuan lebih lemah dari laki-laki. Saat Allah menciptakan perempuan
dari tulang rusuk dalam PL di pakai kata banna (Kej 2:22) yang berarti
membentuk atau membangun suatu yang keras (membangun menara, mezbah atau kota).
Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa Allah menciptakan perempuan bukan
sebagai mahluk yang lemah. Kehadiran perempuan dalam hubungannya dengan
laki-laki adalah sebagai penolong yang sepadan (Ibr. Ezer Kenegdo, Kej 2:18).
Sebagai penolong yang sepadan maka perempuan memiliki kekuatan dalam segi-segi
tertentu agar fungsi menolongnya dapat terealisasi.
- Teks teks ayat tentang Misoginis
Alkitab sebagaimana Kitab suci agama lainnya sangat ambigu
dalam melihat perempuan disatu sisi membela kehidupan perempuan, disisi lain
menempatkan perempuan dalam posisi marginal. Pembagian posisi atau peran yang
tidak adil sangat kental dalam tradisi agama Kristen cukup terlihat pada
Perjanjian baru, Khususnya naskah Paulus.[19]
Implikasinya
ketika kekuasaan laki-laki lebih dominan maka mengakibatkan suatu kemungkinan
larangan terhadap perempuan berbicara didepan publik. Hal ini termaktub dalam “Sama
seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan yang berdiam
diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk
berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh
hukum Taurat” (1 Kor 14 ayat 34). Hingga saat ini di Indonesia sendiri
masih banyak menganut paham tersebut terutama Katolik dan sangat kuat mendukung
pandangan tersebut.[20]
Dan yang
paling mengejutkan larangan perempuan berbicara di ruang publik termaktub dalam
kitab Injil yaitu: “Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran
dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak
mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1 Timotius 2: 11-12 Dari ayat inilah kemudian munculah
marjianalisai terhadap perempuan dan terkadang berakibat pada pelecehan dan diskriminasi
terutama dalam rumah tangga yang mengakibatkan munculnya KDRT. Seperti yang
terjadi dewasa ini.
Selain itu, perempuan diharuskan
menunjukan perilaku tertentu di luar dan di dalam gereja, dan Paulus secara
tegas menganjurkan hal berikut : “Perempuan kalian tidak boleh berbicara di
dalam Gereja, karena mereka tidak berhak untuk berbicara jika mereka ingin
belajar, kalau perlu mereka harus bertanya kepada suaminya di rumah karena
sangat memalukan jika seorang perempuan berbicara di dalam Gereja. ”
Dan argumen
tersebut digunakan dengan alasan sebab Adam lebih dahulu diciptakan, daripada
Hawa.[21]
Dengan begitu, Adam lebih tinggi nilainya daripada Hawa. Juga disebabkan
jatuhnya Adam dari Surga diyakini karena tergoda bujukan Hawa. Biblepun
menyatakan “Perempuan (Hawa) yang tergoda Iblis untuk memakan buah pohon
pengetahuan dan menyebabkan laki-laki (Adam) ikut memakan buah tersebut dan
melanggar larangan Tuhan” (Ulangan pasal 3 ayat 6, lihat juga 1 Tim 2: 13).
Karena itulah, Alkitab selalu menyalahkan perempuan atas dosa yang dilakukan
Adam. Alkitab menjelaskan, “lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan
perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa” (1 Timotius pasal 2 ayat
14).[22]
Oleh sebab
itu, hawa dikutuk atas perbuatannya. Kutukan itu berupa rasa sakit yang
diderita saat mengandung dan melahirkan pernyataan tersebut ditegaskan dalam
alkitab , “Firman-Nya kepada perempuan itu :Susah payahmu waktu mengandung akan
ku buat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu ; namun engkau
akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu” (Ulangan 3:16). Tidak
hanya itu, birahi perempuan terhadap suami dianggap sebagai kutukan, bukan
menifestasi dari cinta yang akibatnya perempuanpun ditempatkan di bawah
kekuasaan laki-laki.
Ajaran
Kristen yang merendahkan perempuan juga nampak pada anggapan perempuan sebagai
najis. Agak mirip dalam tradisi Hindu, Alkitab juga beranggapan bahwa seorang
perempuan yang mengalami menstruasi dianggap najis dan apapun yang disentuhnya
telah terkena najis (Efesus 5: 19-27). Implikasinya adalah perempuan harus
mengasingkan diri. Dan tidak cukup sampai di situ, menstruasi dipandang sebagai
dosa sehingga perempuan yang mengalaminya harus melaksanakan upacara korban
penghapusan dosa (Efesus pasal 5 ayat 28-30) selain itu, ajaran Kristen lainnya
yang menganding bias gender adalah konsep bahwa perempuan sebagai hak milik
laki-laki yang bisa dialihkan kepada siapa saja. Karena itu, seorang istri yang
ditinggalkan mati suaminya harus kawin dengan saudara laki-laki suaminya
(Ulangan 25: 5). Selain itu, perempuan juga dianggap sebagai rampasan perang
(Ulangan 20: 14, Ulangan pasal 31 ayat 9, II Twarikh 28: 8, Hakim-hakim 21:
14). [23]
Dari beberapa pernyatan diatas menyatakan bahwa perempuan merupakan the Second
class yang berimplikasi pada pudarnya keseteraan gender. Namun, perlu kita
ketahui bahwa ke tidakbolehan perempuan berbicara didepan publik pada kala itu
karena kurangnya pendidikan terhadap perempuan sehingga mengakibatkan keawaman
serta ketidaktahuan kalangan perempuan terhadap alkitab maupun
persoalan-persoalan gereja.
B.
Status Perempuan dalam
Ritual-Ritual
a. Kesetaraan dalam Pengabdian
1. Allah memberkati laki-laki dan perempuan
“Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan
memberikan nama “Manusia” kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan”
(Kejadian 5:2)[24]
2.Perempuan juga dipanggil sebagai nabi
“Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku
Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun
lamanya bersama suaminya” (Lukas 2:36)
3. Perempuan juga bernubuat dan dipenuhi Roh Kudus
“Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan
Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat” (Kisah 2:18).
“Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata
dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia
berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan
iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada
yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang
lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia
memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.[25]
Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh,
dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. [26]Tetapi
semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan
karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1
Korintus 12:8-11).[16]
4.Laki-laki dan perempuan memberikan persembahan kepada Tuhan
“Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun
perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting
hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam
barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan
unjukan dari emas bagi TUHAN” (Keluaran 35:22)
“Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong
hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN
dengan perantaraan Musa untuk dilakukan–mereka itu, yakni orang Israel,
membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN” (Keluaran 35:29).
5.Para perempuan bekerja keras untuk Tuhan
“Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja
membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi,
yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan” (Roma 16:12).[27]
6.Laki-laki dan perempuan menjadi pelayan Paulus
“Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri
dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis
Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain
bersama-sama dengan mereka” (Kisah 17:34)
7. Para perempuan bekerja keras untuk Tuhan
“Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja
membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi,
yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan” (Roma 16:12).
b.
Kesetaraan dalam Kebaktian
1. Perempuan menyanyi di hadapan Allah
“Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud
kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan
dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari
dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing”
(1Samuel 18:6).[17]
“Yeremia membuat suatu syair ratapan mengenai Yosia.
Dan sampai sekarang ini semua penyanyi laki-laki dan penyanyi perempuan
menyanyikan syair-syair ratapan mengenai Yosia, dan mereka jadikan itu suatu
kebiasaan di Israel. Semuanya itu tertulis dalam Syair-syair Ratapan (2Tawarikh
35:25).[28]
“selain dari budak mereka laki-laki dan perempuan
yang berjumlah tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh orang. Pada mereka ada
dua ratus penyanyi laki-laki dan perempuan” (Ezra 2:65).
“Selain dari budak mereka laki-laki dan perempuan
yang berjumlah tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh orang. Pada mereka ada
dua ratus empat puluh lima penyanyi laki-laki dan perempuan” (Nehemia 7:76).[29]
“Pada hari itu mereka mempersembahkan korban yang
besar. Mereka bersukaria karena Allah memberi mereka kesukaan yang besar. Juga
segala perempuan dan anak-anak bersukaria, sehingga kesukaan Yerusalem
terdengar sampai jauh” (Nehemia 12:43).
2.Laki-laki dan perempuan bisa mengerti hukum taurat
“Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam
Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun
perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti” (Nehemiah 8:2)[30]
3.Perempuan
sebagai penyembah hebat
“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu
berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan
suatu perbuatan yang baik pada-Ku” (Matius 26:10)
“Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si
kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu
buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah
dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala
Yesus” (Markus 14:3)
4.Perempuan dan laki-laki berdoa bersama-sama
“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa
bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan
saudara-saudara Yesus” (Kisah 1:14)
5.Laki-laki dan perempuan sama-sama dibaptis dengan air
“Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang
memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan
mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan” (Kisah
8:12)
c.
Kesetaraan dalam Gereja
1.Perempuan sebagai pengajar bagi anaknya prempuan
dan laki-laki[31]
“Maka dengarlah firman TUHAN, hai
perempuan-perempuan, biarlah telingamu menerima firman dari mulut-Nya;
ajarkanlah ratapan kepada anak-anakmu perempuan, dan oleh setiap perempuan
nyanyian ratapan kepada temannya” (Yeremia 9:20).
“Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan
muda mengasihi suami dan anak-anaknya” (Titus 2:4).
“Demikian juga perempuan-perempuan yang tua,
hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan
menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik” (Titus 2:3).
[19]
2. Laki-laki dan perempuan
dipenuhi Roh Kudus
“Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan
Roh-Ku pada hari-hari itu” (Yoel 2:29).[32]
3. Para perempuan yang percaya
sangat menonjol dalam gereja
“Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan
Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah,
dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka” (Kisah 17:4)
4.Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki keselamatan dalam Kristus
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba
atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua
adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28).[33]
C.Status perempuan dalam kehidupan sosial
a. Relasi laki laki dan perempuan
Alkitab berbicara tentang kesederajatan laki-laki dan perempuan. Pada
penciptaan baik laki-laki maupun perempuan dibuat dalam keserupaan dengan
Allah. Mengakui bahwa di masyarakat (dan juga di dalam gereja) aktif di segala
bentuk perbedaan dan hierarki (seks, gender, dan perbedaan sosial lainnya) yang
berimplikasi pada relasi kuasa yang timpang antara perempuan (inverior) dengan
laki-laki (superior). Berdasarkan hal tersebut, semua aturan yang dibuat harus
memenuhi prinsip-prinsip:
1. Persamaan substantik (bukan
kesamaan atau persamaan)
Menjamin persamaan pada akses, kesempatan, dan juga manfaat atau hasil
yang sama bagi kaum perempuan. Contohnya antara lain: ketentuan mengenai
afermatik action (keterwakilan 30 % perempuan pada aras pengambilan keputusan).
Dan pengakuan dan perlindungan atas hak-hak reproduksi perempuan (cuti haid,
cuti hamil).[34]
2. Non Diskriminatif
Diskrimatif terhadap perempuan adalah: “setiap Pembedaan, Pengecualian,
Pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin yang mempunyai pengaruh atau
tujuan: untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau
penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang
politik, ekonomi dan sosial, budaya sipil atau apapun lainnya, oleh kaum
perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara
laki-laki dan perempuan. (pasal 1 Konvensi Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi Terhadap Perempuan / CEDAW).[35]
3. Non Kekerasan
Kekerasan terhadap perempuan adalah: “setiap perbuatan berdasarkan
perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau
penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman
perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara
sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum maupun dalam kehidupan
pribadi. (pasal 1 Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan).[20]
b. Relasi Suami dan Istri
Tanggung jawab
seorang pria adalah memimpin dan bertanggung jawab atas rumah tangganya. Ia
juga harus memelihara dirinya sendiri. Ketika Adam dan Hawa berdosa, Adamlah,
bukan Hawa, yang dimintai penjelasan oleh Tuhan (Kejadian 3:9). Adapun Tanggung Jawab Suami diantaranya adalah :[21]
1. Mencintai Istrinya (Efesus 5:25)
Cinta harus memiliki
kemauan dari pihak individu yang terlibat didalamnya untuk menunjukkannya.[36] Cinta
ditunjukkan oleh perbuatan (Yohanes 14:21), selalu mementingkan orang lain (1
Korintus 13:4-7), menganggap orang lain lebih penting dari dirinya sendiri.
Rasa aman yang muncul dari kasih sayang seorang suami adalah sebuah hal yang
sangat penting bagi seorang istri. Rasa aman berarti memiliki seseorang untuk
bersandar. Suami harus menyediakan rasa aman itu dan cinta bagi istrinya sebagai
tempat untuk bersandar. Cinta adalah memiliki seorang istri, sahabat, dan
kekasih dalam diri seseorang.
2. Memelihara Istrinya (Amsal 31:10; 1 Korintus 7:32-35)
Pria yang menikah
harus menempatkan Tuhan di tempat pertama dalam sebuah pernikahan. Ia juga
harus memenuhi kebutuhan istrinya secara materi (1 Timotius 5:8). Seorang suami
harus memerhatikan istrinya secara fisik (Efesus 5:26-28). Sebuah pengakuan dan
ucapan terima kasih atas sesuatu yang dilakukan oleh seorang istri akan berdampak
luas. Yesus sangat mencintai gereja-Nya, hingga Ia mendampingi dan menolongnya
melalui Roh Kudus. Seorang suami juga harus memerhatikan keadaan rohani
istrinya (Efesus 5:26- 27).[37]
3. Memimpin Istrinya
Seorang suami tidak
dapat mengalihkan tanggung jawab atas rumah tangga dan keluarga kepada
istrinya.[38]
Kepemimpinan memiliki kaitan dengan cinta (Yohanes 13:3-5; 1 Korintus 11:3;
Efesus 5:23). Seorang suami harus memimpin istri dan anak-anaknya melalui
teladan. Ia harus memeriksa kemajuan rohani istrinya, menjalankan perannya
sebagai seorang ayah (Efesus 6:4). Seorang suami haruslah menunjukkan teladan,
mengajar dengan penjelasan (Ulangan 6:4), mendorong dengan nasihat (Kisah Para
Rasul 16:29-34), mendisiplin melalui pengalaman (Amsal 3:12, 23:14; 1 Timotius
3:4,5).
Seorang pria
haruslah menjadi seorang suami yang baik dan memperlakukan istrinya seolah-olah
ia masih sebagai pacarnya, menjadi ayah yang baik, menghadirkan Allah bagi
keluarganya, dan lewat doa membawa keluarganya kepada Tuhan. Tetapi,
pertama-tama ia harus mengenal Bapa Surgawi, menerima disiplin dari-Nya,
mengetahui kehendak-Nya, barulah Ia dapat memampukannya melaksanakan
ajaran-Nya.
Adapun peran istri,
seorang istri harus membuat suaminya bangga atas dirinya, dan menjadikan itu
sebagai hal yang utama dalam hidupnya. Istri tidak sepatutnya bersaing atau
mengkritik suaminya. Seorang istri memiliki tanggung jawab pada suaminya
diantaranya yaitu :[22]
1. Tunduk dan Mengabdi pada Suaminya (1 Petrus 3:1; Efesus 5:22, 24;
dan Kolose 3:18)
Istri harus tunduk
kepada suaminya sebagaimana dunia harus tunduk kepada Kristus. Allah telah
menetapkan bahwa pria harus memimpin keluarga (sebuah tim) sebagaimana
disebutkan dalam 1 Korintus 11:3 dan Efesus 5:23. Tunduk tidak menandakan bahwa
Allah merendahkan istri. Fungsinya memang berbeda, tetapi nilainya tetaplah
sama. Pria tidaklah superior atau inferior. Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa
seseorang superior atau inferior. Dia menetapkan peranan yang berbeda untuk
kita jalani; Dia menjadikan pria sebagai pemimpin dan wanita sebagai pengikut.
Dia menyatukan mereka untuk saling mendukung, menolong, menguatkan, memuji, dan
melengkapi, bukan untuk bertengkar. Kepatuhan seorang istri muncul dari kasih
Allah dan kerinduan akan keteraturan, serta keharmonisan dalam rumah tangga.
2. Memunyai Kehidupan Rohani
1 Petrus 3:1-6
menunjukkan bagaimana seorang istri perlu memunyai kehidupan rohani yang tulus.
Dia harus menjadi wanita seperti yang Tuhan inginkan, menunjukkan perhatian
yang nyata terhadap keselamatan suaminya, dan kekayaan rohani melalui
kesederhanaan dan kecantikan jiwa.
3. Melayani
Amsal 31:10-31 pada
ayat 11-12 menyebutkan bahwa istri harus mendukung suaminya, termasuk dalam
memberikan cinta kasih dan kesetiaan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak
berbuat jahat sepanjang umurnya. Hal ini termasuk di dalamnya memenuhi
kebutuhan suami dan mengimbangi kekurangannya (Kejadian 2:18).[39]
Ayat 13-19
menunjukkan bagaimana seorang istri mengelola pekerjaan rumah tangga, termasuk
tenaga, efisiensi, dan ekonomi. Istri melayani keluarga seperti yang disebutkan
dalam ayat 27 dan 28. Ayat 20-25 menggambarkan pertolongan yang diberikan istri
kepada tetangga-tetangganya. Pertolongan itu berupa keramahan, ketelitian, dan
sifat suka menolong.[40]
Gambaran yang indah
dan seimbang mengenai seorang istri Kristen adalah istri yang sibuk dalam
melayani Tuhan dengan menjadi seorang istri, ibu, pengurus rumah tangga, dan
tetangga yang baik. Jika hanya menekankan satu aspek, kemungkinan akan dapat
mengabaikan aspek yang lain, sehingga dapat melemahkan hubungan
kekeluargaan.[23]
Partisipasi perempuan dalam bidang keagamaan dikisahkan dalam Perjanjian
Baru (PB). Maria Magdalena adalah satu-satunya perempuan yang disebutkan di
keempat Injil, selain sang Perawan Maria. Ia muncul pertama kalinya selama
pelayanan Yesus di Galilea. [41]
Dari sumber-sumber yang
khusus, diceritakan bahwa wanita-wanita tidak diperkenankan untuk membaca atau
berbicara di Bait Allah, tetapi mereka dapat duduk dan mendengarkan di tempat
yang dikhususkan untuk wanita.
Lukas 8:1-3 menunjukkan
bahwa Yesus mengijinkan beberapa wanita untuk menjadi teman seperjalanannya. Ia
memberi semangat pada Martha dan Maria untuk duduk pada kaki-Nya sebagai
murid-murid-Nya (Luk 10:38-42). (hal. 99) Penghargaan Yesus pada wanita adalah
sesuatu yang baru dan sangat menyolok, dan sangat berbeda dari perlakuan
orang-orang Farisi dan Saduki. [42]
Wanita-wanita di dalam kehidupan Kristus:
1.
Maria, Ibu dari Kristus
Maria, ibu dari Yesus adalah seorang wanita yang
baik dan saleh. Tentunya, Maria telah mencontohi Hana, karena nyanyian
pujiannya pada Allah (Luk 1:46-55) sangat mirip dengan nyanyian Hana (1 Sam
12:1-10).[43]
2.
Hana, seorang nabiah
Perjanjian Baru dibuka dengan kisah yang begitu
terkenal tentang kelahiran Yesus. Pada saat upacara pentahiran Maria (Im
12:1-6) seorang nabiah bernama Hana menyatakan pernyataan yang dramatis. Hana
dipakai untuk memperkuat bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat yang
dinanti-nantikan oleh Israel. Karena itu, seorang wanita mempunyai peranan yang
sangat penting di dalam kelahiran Yesus dan di dalam penyerahan-Nya. [44]
3.
Wanita Yang Diampuni, Seorang Pemberita Injil
Di dalam Alkitab, baik laki-laki maupun perempuan
mengikuti Kristus. Wanita diberkati, diampuni dan disembuhkan sama seperti
laki-laki. Seorang wanita yang mempunyai lima suami dan yang sedang hidup
dengan laki-laki lain (yang tidak dinikahinya), telah diberkati dan diampuni
dari semua dosa-dosanya. Sebagai bukti bahwa Yesus tidak pernah lagi melihat
dosa-dosa dari wanita ini, pada hari dimana ia bertobat ia menjadi salah satu
dari pemberita InjilNya (Yoh 4:28,29,39). Ia kemudian membawa seluruh desa itu
pada Kristus.
4.
Wanita yang Mendukung Yesus
Gereja-gereja yang sama di negara-negara Barat yang
menolak kepemimpinan dan pelayanan wanita, lebih suka memberikan uang mereka
untuk mengirim wanita sebagai misionari ke negara-negara lain dan menyuruh
mereka berdiam diri di dalam gereja-gereja serta mengajar pandangan-pandangan
yang tidak Alkitabiah tentang peranan wanita.[45]
5.
Wanita-wanita di dekat Salib
“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya, dan saudara
ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena” (Yoh 19:25). Orang-orang
terakhir di dekat salib adalah seorang wanita (Mrk 15:47). Wanita-wanita
pemberani mau mempertaruhkan nyawanya untuk Yesus. Para pria dengan penuh
ketakutan lari untuk menyelamatkan diri mereka.
6.
Para Wanita yang Menyiarkan Kebangkitan
Seorang wanitalah yang pertama kali berkhotbah tentang
kebangkitan. Dan ia mengkhotbahkannya pada rasul-rasul itu sendiri. Yesus
menyuruhnya untuk melakukan hal itu (Yoh 20:17,19). [46]
A. Perempuan
dalam Persfektif Teolog Kristen
Agama Kristen menganggap perempuan sebagai sumber
kejahatan. “Mereka percaya bahwa setiap perempuan bersalah melakuakan dosa asal
dan dia bertanggungjawab atas pengusiran Adam dari surga. Kisah Adam dan Hawa
adalah penyebab utama penindasan perempuan dalam agama Kristen. “Tertullian”
percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan
mentaati setan dan menentang Tuhan ? Teori yang dikembangkan dan dijelaskan
oleh Tertullian ini menyebabkan terjadinya penindasan dan penghinaan terhadap
perempuan Kristen selama beberepa abad.”[47]
Selain itu, perempuan diharuskan menunjukan perilaku
tertentu di luar dan di dalam gereja, dan Paulus secara tegas menganjurkan hal
berikut : “Perempuan kalian tidak boleh berbicara di dalam Gereja, karena
mereka tidak berhak untuk berbicara jika mereka ingin belajar, kalau perlu
mereka harus bertanya kepada suaminya di rumah karena sangat memalukan jika
seorang perempuan berbicara di dalam Gereja. ”
“Umat Kristen bertakhayul tenang perempuan. Christom
berkata : “Perempuan adalah kejahatan yang tak terhindarkan, bersifat menggoda,
bahaya yang mengancam rumah tangga, rayuan maut, dan setan yang tersembunyi.”[48]
Ahmad Khaki menjelaskan tentang asal-mula takhayul
ini, ia mengatakan: Masyrakat primitive tidak memahami sifat darah, oleh karena
itu mereka takut akan darah dan menghubungkanya dengan “Mana.” Mereka juga
menganggap perempuan sebagai kotor dan busuk selama menstruasi. Seorang
laki-laki harus menjauh dari istrinya dan tidak boleh menyentuhnya sampai dia
berusaha menebus ketidaksucianya dengan cara menumpahkan darah seekor burung.
Selain itu, mereka percaya bahwa perempuan yang sedang menstruasi dapat
mencemari segala sesuatu yang disentuhnya, oleh karena itu seorang laki-laki
harus menghindar dari istrinya yang sedang menstruasi selamanya. Mereka tidur
di kasur yang berbedak mengenakan pakaian dan baju yang berbeda serta minum
dari tempat yang berbeda pula.
Konsekuensinya, kondisi kaum perempuan Kristen
sangat mirip dengn kondisi kaum perempuan Yahudi karena kedua agama tersebut
menjauhkan mereka sebagai kotoran dan najis. Beberapa ahli theologi juga
melampaui hal ini dengan mempersoalkan asal-usul dan kemanusiaan kaum
perempuan. Apakah perempuan memiliki roh ? pertanyaan-pertanyaan ini
dikemukakan dan dibahas di majelis Macon yang diselenggarakan pada 581 M dan
beberapa kali sejak itu.[49]
Alkitab dalam teologi Calvinis adalah sumber dari
ajaran gereja. Sebagai sumber ajaran gereja, Alkitab menduduki posisi penting
dalam perumusan dogma dan pengajaran umat. Namun, landasan operasional
tritunggal panggilan dan pengutusan gereja mengacu pada kesaksian kanon Alkitab
yang ditafsirkan sesuai konteks masa kini. Teks Alkitab dan konteks umat
percaya masa kini terjalin dalam relasi Hermeneutika yang memakai pendekatan
yang komprehensif. Hermeneutika diperlukan guna menemukan kerugma/ pesan Firman
bagi umat masa kini. Berbagai metode dan pendekatan telah dikembangkan oleh
para teolog Kristen guna mengkaji ulang pesan-pesan tertulis agar menjadi
pesan-pesan yang dapat dikaryakan bagi kepentingan martabat manusia dalam
hubungannya dengan Tuhan, sesama dan alam lingkungan.
Ada begitu banyak kisah perempuan yang diceritakan
Alkitab. Kisah mereka bermacam-macam. Ada kisah yang memilukan, menyedihkan
karena mengalami kekerasan seperti kisah Tamar, yang diperkosa saudara seayah
tetapi lain ibu dan Tamar tidak mendapat pembelaan dari ayahnya Raja Daud ata u
tua-tua agama. Terdapat juga kisah perempuan tanpa nama dalam Hakim-Hakim.
Seorang gundik diperkosa oleh penduduk kota Gibea sampai mati. Lalu orang Lewi
pemilik gundik memotong mayat gundiknya dan mengirim kepada suku Israel. Akibat
perbuatan orang Gibea yang adalah suku Benyamin, maka orang Israel dari suku
lain maju berperang melawan suku Benyamin. Kisah tentang kekerasan yang
dilakukan terhadap perempuan juga secara jelas dibaca dalam beberapa teks
Alkitab. Sebut saja Izebel (Raja-Raja) istri Raja Ahab yang mengatas namakan
Raja mengambil kebun anggur Nabot. Nabot diperhadapkan dengan 2 orang saksi
dusta akibatnya ia dilempar dengan batu sampai mati. Kisah Delila yang menjual
suaminya Simson kepada orang Filistin yang mengakibatkan Simson menderita,
matanya dicungkil sehingga ia buta (Hakim-Hakim).
Disamping kisah yang memilukan akibat kekerasan
terhadap perempuan, Alkitab menceritakan juga kisah perempuan-perempuan yang
memilki kharisma khusus seperti nabiah. Ada Deborah (Hakim-Hakim 5), Hana
(Lukas 2 : 36), Hulda (2 Raja- Raja 22:14).
Alkitab menceritakan juga kisah heroik yang
ditampilkan oleh perempuan sebagai pemimpin, pejuang hak asasi, pembela
bangsanya, pendamai, juga pelayan Firman. Tetapi dibandingkan dengan kisah
tentang laki-laki, kisah para perempuan
hebat ini sangat sedikit. Ada ketidak seimbangan dalam menceritakan tentang
kinerja laki-laki dan perempuan. Ketidak seimbangan itu ada sebabnya. Saya
mencoba mencarinya dalam kisah tentang penciptaan.
Bagian Alkitab yang paling sering dikutip oleh
teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar teologi mereka, yang juga
dikenal sebagai magna carta of humanity adalah Galatia 3:2839 yang berbunyi:
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau
orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah
satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia
3:28 dipandang sebagai ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi
dan subordinasi pria. Bagian-bagian lain
yang juga berbicara tentang kesederajatan adalah: Kejadian 34:12; Keluaran
21:7, 22:17, Imamat 12:1-5; Ulangan 24:1-4; 1 Samuel 18:25 yang berbicara bahwa
wanita dan pria memiliki status sosial yang sama; Hakim-hakim 4:4, 5:28-29; 2
Samuel 14:2, 20:16; 2 Raja-raja 11:3, 22:14; Nehemia 6:14, adalah ayat-ayat
yang memperlihatkan bahwa wanita memiliki tempat dalam kehidupan religius dan
sosial bangsa Israel, kecuali dalam hal keimaman; sedangkan dalam Kejadian 1:27
dikatakan bahwa wanita dan pria adalah makhluk yang sama-sama diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah.
Berdasarkan penafsiran terhadap ayat-ayat di atas khususnya Galatia
3:28, para feminis menyimpulkan bahwa Paulus dengan jelas mengukuhkan
kesetaraan antara pria dan wanita dalam komunitas Kristen; pria dan wanita
memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama baik di gereja maupun dalam
rumah tangga. Kesimpulan lain dari
penafsiran ini ialah bahwa tujuan panggilan Kristen adalah kemerdekaan.
Selain itu, di dalam usaha menelaah sejarah kaum wanita
di dalam Alkitab, teolog-teolog feminis tidak hanya menemukan ide tentang
kesederajatan pria dan wanita. Di dalam
Alkitab mereka ternyata menemukan bahwa Allah orang Kristen bukan Allah yang
paternal; dari sejumlah ayat yang terdapat di Alkitab mereka menemukan
bukti-bukti yang mendukung konsep Allah yang maternal. Itulah sebabnya sebagian teolog feminis
menuntut agar Allah tidak hanya disebut sebagai Bapa tetapi juga Ibu. Secara
tajam mereka pun mengkritik rumusan baptisan yang berbunyi: “dalam nama Bapa,
Anak dan Roh Kudus.”
Ruether juga menggunakan istilah “metode korelasi”
ketika ia menguraikan metode interpretasi feminis. Bandingkan dengan pendapat Daphne Hampson,
salah seorang teolog feminis yang lebih radikal, yang mengemukakan hal senada
ketika ia mengatakan bahwa teologi haruslah merupakan jembatan antara masa lalu
dan masa kini. Menurutnya, teologi harus
menghubungkan masa lalu dan masa kini melalui tiga pendekatan, salah satunya
disebut pendekatan kairos, yakni suatu pengakuan bahwa masa lalu pada dasarnya
bersifat normatif, namun bisa saja terjadi perkembangan (Theology). (Namun tidak jelas apa yang ia maksud dengan
“bisa saja terjadi perkembangan.” Apakah
itu berarti perkembangan dalam bentuk perubahan sehingga yang normatif itu
tidak lagi normatif?) Pendapat ini juga
serupa dengan yang dikatakan Tillich bahwa para teolog berada di antara dua
kutub. Kutub pertama adalah otoritas
teologis, yakni Alkitab sebagai sumber teologi.
Kutub ini perlu untuk menjamin agar teologi yang dihasilkan bersifat
otoritatif. Kutub yang lain adalah
situasi. Jadi, tugas para teolog adalah
menjembatani berita Alkitab dengan situasi masa kini.
Dengan ditetapkannya “Dasawarsa Oikumenis
Gereja-gereja dalam Solidaritas dengan Wanita” oleh Dewan Gereja-gereja se-Dunia,
gereja-gereja dipanggil untuk menguji kembali struktur gereja dan mengusahakan
keseimbangan dalam arti memberi peranan penuh dari seluruh anggotanya tanpa
terkecuali. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mendapat peran yang
seimbang dalam gereja, sehingga mereka benar-benar dapat berperan sesuai dengan
bakat dan talentanya masing-masing.
Sebagai gambar Allah, perempuan diciptakan sempurna.
Sama baiknya dengan laki-laki. Perempuan mempunyai hak dan kesempatan yang
sama. Menyia-nyiakan hak dan kesempatan pemberian dari Allah sama dengan
menyia-nyiakan berkatnya. Karena itu, gereja dipanggil untuk memberdayakan
kemampuan dan keahlian perempuan agar semakin hari semakin berkualitas. Di sisi
lain perempuan sendiri diingatkan bahwa panggilan iman Kristiani menantang
dirinya untuk berkarya dan menyumbangkan kemampuannya secara penuh. Dengan
motivasi yang demikian, apapun yang dilakukan oleh perempuan bukan merupakan
ambisi pribadi atau demi dirinya sendiri, namun lebih pada kesadaran akan
panggilan Ilahi.
Dalam ajaran Katolik menegaskan bahwa laki-laki dan
perempuan menempati posisi yang setara dan sederajat. Antara lain dalam kitab
Kejadian 1:27-28: “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri,
menurut gambar Allah diciptakan laki-laki dan perempuan. Allah memberkati
mereka dan lalu berfirman: “beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi
dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung di udara
dan atas segala binatang yang merayap di bumi.
Dalam kristen Protestan dalam ajaran Alkitab, Allah
mewujudkan kasih-Nya terhadap manusia tanpa memandang jenis kelamin, golongan,
maupun usia dan nyata benar dalam terang kasih Allah antara laki-laki dan
wanita.
Seperti disebutkan di atas, selain anggapan terhadap
perempuan yang lemah, banyak juga kejadian tentang kekerasan terhadap
perempuan. Kekerasan terhadap perempuan dari pemahaman-pamahaman yang besumber
dari kitab suci dan tradisi.
Pertama, melalui Kitab
Suci. Menurut Elisabeth Schussler Fiorenza, di dalam perjuangan bertahan hidup
serta pembebasan diri dalam masyarakat dan gereja yang patriarkis, para
perempuan menemukan kitab suci telah digunakan sebagai alat untuk menentang
perempuan. Namun demikian, pada saat yang sama, kitab suci juga dapat menjadi
sumber keberanian, pengharapan, dan komitmen dalam perjuangan para perempuan
ini. Sehingga, menurut Elisabeth, yang perlu dilakukan dalam interpretasi
feminis bukanlah mempertahankan kitab suci untuk melawan para pengkritik
feminis, melainkan untuk memahami dan menafsirkannya sedemikian rupa sehingga
kekuatan penindasan dan pembebasannya sangat jelas dapat dikenali.
Kedua, Tradisi dalam
perjalanan historisnya, terbentuk dan berkembang. Tradisi menjadi sesuatu yang
hidup, terbuka untuk untuk perkembangan secara terus menerus. Perkembangan
tradisi secara umum ditentukan, antara lain, dengan pendalaman di bidang
ajaran. Dalam hal ini, peran para teolog sangat penting untuk membantu
melakukan penyelidikan dalam mendalami misteri ilahi dan menyingkapkannya bagi
Gereja tuntutan-tuntutan yang terkandung dalam misteri itu. Faktor lainnya
adalah keterkaitan pendalaman ajaran tersebut dengan pengalaman hidup konkret.
a. Status
dan peran perempuan dalam perspektif teologi Kristen
·
Mereka percaya bahwa
setiap perempuan bersalah melakukan dosa asal dan dia bertanggungjawab atas
pengusiran adam dari surga
·
Tertullian percaya
bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer bukanlah perempuan mentaati setan
dan menentang tuhan.
·
Bagian alkitab yang
paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar
teologi mereka, yang juga dikenal sebagai magna carta of humanity adalah
Galatia 3.2839 yang berbunyi “ dalam hal ini tidak ada orang yahudi atau orang
yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki laki atau perempuan,
karena kamu semua adalah satu didalam krestus yesus” Galatia 3.28 dipandang
sebagai ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi dan subordinasi
pria. [50]
Agama Kristen menganggap perempuan sebagai sumber
kejahatan “mereka percaya bahwa setiap perempuan bersalah melakukan dosa asal
dan dia bertanggungjawab atas pengusiran adam dari surga. Kisah adam dan hawa
adalah penyebab utama penindasan perempuan dalam agama Kristen. “Tertullian”
percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan
mentaati setan dan menentang tuhan ? teori yang dikembangkan dan dijelaskan
oleh Tertullian ini menyebabkan terjadinya penindasan dan penghinaan terhadap
perempuan Kristen selama beberapa abad.” [51]
Selain itu, perempuan diharuskan menunjukan prilaku
tertentu diluar dan didalam gereja, dan paulus secara tegas menganjurkan hal
berikut : “perempuan kalian tidak boleh berbicara di dalam gereja, karena
mereka tidak berhak untuk berbicara jika mereka ingin belajar, kalau perlu
mereka harus bertanya kepada suaminya di rumah karena sangat memalukan jika
seorang perempuan berbicara di dalam gereja.”[52]
Umat Kristen bertakhayul tentang perempuan. Christom
berkata: “perempuan adalah kejahatan yang tak terhindarkan, bersifat menggoda,
bahaya yang mengancam rumah tangga, rayuan maut, dan setan yang tersembunyi.”
Ahmad khaki menjelaskan tentang asal mula takhayul
ini, ia mengatakan : masyarakat primitive tidak memahami sifat darah, oleh
karena itu mereka takut akan darah dan menghubungkannya dengan “manna” mereka
juga menganggap perempuan sebagai kotor dan busuk selama menstruasi. Seorang
laki laki harus menjauh dari istrinya dan tidak boleh menyentuhnnya sampai dia
berusaha menebus ketidaksuciannya dengan cara menumpahkan darah seekor burung.
Selain itu, mereka percaya bahwa perempuan yang sedang menstruasi dapat
mencemari segala sesuatu yang disentuhnya, oleh karena itu seorang laki laki
harusmenghindari dari istrinya yang sedang menstruasi selamanya. Mereka tidur
dikasur yang berbedak mengenakan pakaian dan baju yang berbeda serta minuman
dari tempat yang berbeda pula. “[53]
Konsekuensinya, kondisi kaum perempuan Kristen
sangat mirip dengan kondisi kaum perempuan yahudikarena kedua agama tersebut
menjauhkan mereka sebagai kotoran dan najis. Beberapa ahli teologi juga
melamaui hal ini dengan mempersoalkan asal usul dan kemanusiaan kaum perempuan.
Apakah perempuan memiliki roh? Pertanyaan pertanyaan ini dikemukakan dan
dibahas di majelis macon yang diselenggarakan pada 581 m dan beberapa kali
sejak itu. [54]
Ada begitu banyak kisah perempuan yang diceritakan
alkitab. Kisah mereka bermacam-macam. Ada kisah yang memilukan, menyedihkan
karena mengalami kekerasan seperti kisah tamar, yang diperkosa saudara seayah
tetapi lain ibu dan tamar tidak mendapat pembelaan dari ayahnnya raja daud atau
tua tua agama. Terdapat juga kisah perempuan tanpa nama dalam hakim-hakim.
Seorang gundik diperkosa oleh penduduk kota gibea sampai mati, lalu orang lewi
pemilik gundik memotong mayat gundiknya dan mengirim kepada suku Israel akibat
perbuatan orang gibea yang adalah suku benyamin. Kisah tentang kekerasan yang
dilakukan terhadap perempuan juga secara jelas dibaca dalam beberapa teks al
kitab. tokoh- tokoh teolog Kristen dan fokus kajian
a.
Tertullian
Seperti yang kita ketahui dalam penjelasan sebelumanya
bahwa dalam agama Kristen perempuan sebagai sumber kejahatan kerena
perbuatannya adam ditutrunkan dari sorga.“Mereka percaya bahwa setiap perempuan
bersalah melakuakan dosa asal dan dia bertanggungjawab atas pengusiran Adam
dari surga. Kisah Adam dan Hawa adalah penyebab utama penindasan perempuan
dalam agama Kristen. “Tertullian” percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan
Lucifer. Bukankah perempuan mentaati setan dan menentang Tuhan ? Teori yang
dikembangkan dan dijelaskan oleh Tertullian ini menyebabkan terjadinya
penindasan dan penghinaan terhadap perempuan Kristen selama beberapa abad.”
[31]
Mengenai doktrin dimana setiap perempuanlah yang
berdosa karena tergoda iblis untuk memakan buah pohon pengetahuan yang akhirnya
membuat adam tergoda oleh hawa. [32]Tertullian percaya bahwa kaum perempuan
adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan mentaati setan dan menentang Tuhan.
b.
Agustinus
”Though widely quoted we cannot verify that this is
an actual quote by Augustine.”
“Perempuan bersama dengan laki- laki adalah gambaran
Allah sehingga semua hakekatnya adalah satu gambaran. Tetapi ketika perempuan
ditugaskan sebagai penolong [laki- laki], yang ditujukan kepada perempuan itu
sendiri, ia bukan gambaran Allah: namun demikian apa yang berhubungan dengan
laki- laki sendiri, adalah gambaran Allah sebagaimana secara penuh dan komplit
ia digabungkan dengan perempuan itu menjadi satu. (St. Agustinus, De Trinitate,
12,7,10).[33]
Dari pernyataan ini memang banyak timbul reaksi yang
sepertinya menuduh St. Agustinus sepertinya menganggap perempuan sebagai ‘warga
kelas dua’, seperti halnya pandangan orang- orang yang hidup sejaman dengan St.
Agustinus. Namun sebenarnya St. Agustinus hanya bermaksud menjelaskan bahwa
berdasarkan kenyataan bahwa perempuan diciptakan setelah laki- laki, maka
secara fisik dan sosial ia inferior jika dibandingkan dengan laki- laki; dan
tentang urutan penciptaan yang sudah ditentukan Allah, St. Agustinus tidak
mempertanyakannya (lih. Rev. T.J. van Bavel, O.S.A, Journal Augustiniana, “Augustine’s
View on Women”, 1989). Namun demikian, melalui tulisan- tulisan lainnya, St.
Agustinus percaya bahwa perempuan secara spiritual dan moral lebih tinggi dari
laki- laki. Ia kerap berbicara melawan diskriminasi terhadap perempuan oleh
hukum Roma dan pandangannya tentang kasih perkawinan yang mengisyaratkan adanya
kesetaraan pria dan wanita sebagai pasangan, belum pernah diajarkan/ dijelaskan
dengan rinci oleh orang lain sebelumnya. Maka walaupun terkesan St. Agustinus
sepertinya ‘sexist‘ menurut ukuran sekarang, namun ia sangat ‘maju’ dalam hal
pandangan tentang persamaan derajat pria dan wanita- jika dibandingkan orang-
orang sejamannya.
c.
St.Thomas
“As regards the individual nature, woman is
defective and misbegotten, for the active force in the male seed tends to the
production of a perfect likeness in the masculine sex; while the production of
woman comes from defect in the active force or from some material
indisposition, or even from some external influence; such as that of a south wind,
which is moist, as the Philosopher observes (De Gener. Animal. iv, 2). On the
other hand, as regards human nature in general, woman is not misbegotten, but
is included in nature’s intention as directed to the work of generation. Now
the general intention of nature depends on God, Who is the universal Author of
nature. Therefore, in producing nature, God formed not only the male but also
the female.” (Summa Theology I, q.92, a.1)[34]
Di sini terlihat bahwa St. Thomas menggunakan
argumen berdasarkan penemuan ilmu pengetahuan saat itu yang mengajarkan bahwa
perempuan dilahirkan sebagai akibat dari 1) kurangnya kekuatan aktif dari benih
laki- laki; 2) semacam disposisi yang kurang baik dari material/ zat tubuh atau
3) pengaruh luar seperti angin selatan yang lembab, seperti diamati oleh para
ahli. Namun demikian St. Thomas mengajarkan juga kesetaraan peran wanita dengan
pria dalam hal mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah, sebab tanpa
wanita, pria tidak dapat berkembang biak dan melaksanakan perannya sesuai
dengan kehendak Allah.
d.
Christom
“Umat Kristen bertakhayul tentang perempuan.”
Christom berkata : “Perempuan adalah kejahatan yang tak terhindarkan, bersifat
menggoda, bahaya yang mengancam rumah tangga, rayuan maut, dan setan yang
tersembunyi.”Mayoritas teolog Kristen menyamakan tatanan sosial laki-laki
dengan tatanan yang diciptakan Tuhan atau hukum alam. Mereka meyakini bahwa
kepemimpinan laki-laki sifatnya melekat secara natural dan dikehendaki oleh
Tuhan. Oleh sebab itu meletakkan posisi perempuan di kelas kedua adalah sebuah
keharusan. Dan beragam upaya untuk menempatkan perempuan setara dengan
laki-laki dianggap sebagai perbuatan yang melanggar ketentuan Tuhan.
B.Tokoh-tokoh yang Suport pada kesetaraan gender
a.
Elisabeth Schussler Fiorenza
Dalam bukunya In Memory of Hear, A Feminist
Theological Reconstruction of Christian Origin, Elisabeth Schussler Fiorenza
mendasarkan pemikirannya pada gagasan bahwa kaum perempuan di masa lampau tidak
hanya dimarginalkan dan dikorbankan, tetapi mereka juga menjadi agen sejarah
yang telah menghasilkan, membentuk, dan mempertahankan kehidupan sosial pada
umumnya dan hubungan sosio-religius Kristen pada awalnya.[35]
Elisabeth Schussler Fiorenza , Profesor perjanjian
baru dan theologi di Universitas Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat itu
secara tegas menolak gagasan bahwa perempuan tidak memiliki arti bagi sejarah
dan kehidupan sosial kekistrenan. Sebaliknya, dalam buku itu, dia berusaha
memperlihatkan kedudukan perempuan di dalam dan di pusat narasi sejarah.
Gagasan dasar yang diangkatnya adalah “pada saat yang sama dalam kenyataan,
perempuan dan laki-laki telah bertindak dalam sejarah dan membentuk kehidupan
sosial politik, budaya dan keagamaan di masa lampau”. Untuk itulah dia
melakukan rekonstruksi teologis feminis tentang asal usul kekristenan.[36]
b.
Angelina Grimke
Terdapat banyak aktivis dan pemikir yang memberikan
hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. Angelina Grimke misalnya,
menyatakan bahwa kelemahan wanita dalam hal intelektualitas dan kepemimpinan
bukanlah hal yang alami, namun karena adanya penyimpangan-penyimpangan sosial.
Sekali perempuan dibebaskan dari ketidakadilan sosial, maka ia akan mendapatkan
hak dan kesempatan yang sama.[37]
c.
Antoinette Brown
Pada tahun 1853, tuntutan atas kesempatan yang sama
dalam gereja diwujudkan dalam pentahbisan pertama atas seorang wanita dalam
kependetaan, dia adalah Antoinette Brown, seminari teologi pertama yang
menerima wanita.[38]
3.
Partisipasi perempuan di dalam Gereja
Alkitab dan tradisi gereja sering
dijadikan dasar atau alasan penyebab terjadinya permasalahan ketidakseimbangan
peran dan tempat antara laki-laki dan perempuan. Tradisi gereja selama
berabad-abad telah menggunakan konsep-konsep yang diperoleh pada beberapa
bagian Alkitab dan sebagai dasar untuk membeberkan pemahaman tentang tempat
perempuan yang berbeda dengan laki-laki. Perempuan selalu dianggap lebih
rendah, lemah, dan kurang mampu sehingga gampang dikuasai, sedangkan laki-laki
kedudukannya lebih tinggi, sebagai pihak yang menguasai, karenanya laki-laki
lebih banyak mempunyai kesempatan untuk memegang kekusaan dan kepemimpinan.
Konsep yang demikian masih sering mempengaruhi cara
berpikir gereja di zaman ini. Karena itu, pengaruh yang begitu kuat dari konsep
Alkitabiah terhadap konsep berpikir jemaat tentang perempuan perlu di kritisi
sehingga mempunyai makna yang baru. Apabila kita membaca surat-surat Paulus,
tampaknya memberi kesan adanya konsep pemahaman yang melarang perempuan untuk
terlibat aktif dalam kegiatan pelayanan dan ibadah jemaat misalnya 1 Korintus
11:2-16 berbicara tentang larangan bagi perempuan untuk mengambil bagian aktif
dalam kegiatan doa dan bernubuat. Demikian juga dalam 1 Korintus 14:33-35 dan 1
Timotius 2:11-12. Perikop ini sering dijadikan alasan untuk membatasi
kesempatan pada perempuan untuk terlibat secara aktif dalam kepemimpinan
gereja.
Dalam nas-nas tersebut kita membaca ajaran paulus
kepada jemaat di korintus agar kaum perempuan tidak berbicara dan tidak
terlibat pada ibadah jemaat. Kedua teks ini telah ditafsirkan sedemikian rupa
oleh banyak orang sehingga ada gereja-gereja tertentu yang membatasi peranan
keterlibatan perempuan hanya pada bidang-bidang pelayanan tertentu. Anjuran
agar perempuan tidak berbicara dan mengajar sering mempengaruhi pemahaman
gereja dalam menentukan tempat bagi perempuan. Pemahaman teks yang salah ini
akan sangat menghambat partisipasi total perempuan dalam gereja, bahkan
merupakan penolakan terhadap diterimanya perempuan dalam tingkat pengambilan
keputusan di gereja. Akibatnya, kepemimpinan gereja lebih banyak dipegang oleh
kaum laki-laki dan pengambilan keputusan dalam gereja lebih banyak dilakukan
oleh laki-laki. Sementara perempuan hanya berperan sebagai pelaksana-pelaksana
keputusan yang dibuat oleh laki-laki.
Pada ibadah atau kegiatan jemaat, perempuan harus
berdiam diri, tidak boleh berbicara dan harus tetap pada perintah. Kalau ada
yang ingin ditanyakan atau belum jelas, tidak boleh langsung ditanyakan di
tempat ibadah, tetapi harus minta penjelasan suaminya di rumah, sebab tidak
sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat. Pada peraturan ini
agaknya terkandung kesan bahwa perempuan tidak boleh berbicara dalam jemaat dan
ada kesan laki-laki lebih tahu, lebih pandai dan lebih memahami segala sesuatu
ketimbang perempuan.
Hal yang membedakan pengertian kekerasan terhadap
perempuan dalam gereja katolik dengan kekerasan terhadap perempuan pada umumnya
adalah karena kekatolikan turut menjadi “faktor” dalam persoalan ini. Yang dimaksud
dengan kekatolikan di sini bisa berarti iman, ajaran moral dan etika,
institusi, ataupun tradisi.
Pada umumnya, kekerasan yang dialami perempuan tidak
hanya terjadi di satu lingkup saja atauberdiri sendiri, sekaligus menyangkut
beberapa wilayah serta elemen (sosial, ekonomi, pendidikan, dsb.). misalnya,
seorang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga katolik juga
dipengaruhi atau terkait erat dengan budaya setempat dalam gereja lokal yang
sangat patriarkis yang menggunakan ajaran agama untuk melakukan kekerasan
terhadap perempuan. Permasalahan ini dapat ditemui di beberapa daerah, di mana
budaya patriarkis setempat sangat kuat bertauatan dengan ajaran agama (Gereja)
yang patriakis, seperti dalam hampir semua budaya di Indonesia. Kekerasan yang
dialami seorang perempuan Katolik mencakup pula wilayah rumah tangga, komunitas
(agama dan budaya), maupun negara. Hal ini biasanya terjadi di wilayah-wilayah
konflik, seperti perbatasan timor, Maluku, Papua, dsb.
Generasi gereja yang akan datang harus tumbuh dengan
citra yang benar mengenai perempuan, karena itu peran laki-laki dan perempuan
dalam gereja perlu diseimbangkan sejak dini. Kehidupan gereja merupakan warisan
semangat dan cita-cita menundukkan kerajaan Allah yang dirintis oleh Yesus
Kristus. Gereja sebagai pelopor dan teladan bagi masyarakat dalam sikap,
pemahaman terhadap perempuan, dipanggil untuk terus memainkan perannya.[39]
Didalam pelayanan gereja ada beberapa dogma gereja
tertentu yang masih belum memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada perempuan
bertindak sebagai pemimpin umat maupun pelayan sakramen dalam gereja. [40]
Ada 3 hal yang patut menjadi pertimbangan bahwa
perempuan dapat bertindak sebagai pemimpin umat dan pelayan firman. Pertama
yaitu isi pengajaran, perempuan yang menjadi pelayanan dalam gereja tentunya
akan memaparkan isi pengajaran yang sama tentang karya Allah didalam Yesus
Kristus. Berita yang disampaikan selalu universal dengan demikian tidak ada
alasan bagi sebagian orang tertentu yang masih merasa keberatan dengan posisi
perempuan sebagai pemimpin umat. Kedua yaitu konteks pelayanan firman atau
pengajaran, bahwa kaum perempuan tidak akan berdiri sendiri sebagai pelayan
firman, tetapi dalam system pelayanan gereja tertentu ada yang disebut
pelayanan kolektif (Presbyterian) dimana perempuan dapat bekerja sama dengan
kaum laki-laki sesuai dengan karunia yang dimiliki akan bekerja sama melayani
jemaat lewat pelayanan firman. Dalam pelayanan ini, dapat diberikan kesempatan
kepada kaum perempuan walaupun biasanya tim pelayanan ini akan diketuai oleh
kaum laki-laki. Ketiga yaitu gaya mengajar bahwa kaum perempuan harus bisa
menempatkan diri sebagai pengajar tidak untuk melebih-lebihkan diri dan
berbangga atas karunia mengajar yang diperoleh melainkan dengan kerendahan hati
dan ketulusan menundukkan diri pada otoritas ilahi dan menyampaikan berita
alkitabiah sebagaimana yang tertulis dalam alkitab.
Jemaat masa kini mulai memahami bahwa tidak ada
perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari segi kualitas. Walaupun seringkali
perempuan mendapat keistimewaan khusus dalam hal perlakuan, tetapi ini tidak
berarti bahwa kemampuan perempuan di bawah laki-laki. Memang ada hal-hal
tertentu yang membutuhkan kekuatan fisik dari kaum laki-laki. Tetapi adalah
suatu hal yang kompleks apabila kekuatan fisik itu dipadukan dengan kemampuan
intelektualitas dan emosional dari perempuan. Tentunya akan menghasilkan
kekuatan yang baik untuk pertumbuhan ke
arah positif.[41]
Pemberdayaan
peranan perempuan dalam gereja biasanya menggunakan pemetaan peran dan melihat
setiap kasus secara khusus atau secara relasional. Entah peran dalam keluarga
sebagai sebagai seorang gadis, wanita muda, isteri dari seorang suami, ibu bagi
anak-anaknya, nyonya rumah dengan pramuwismanya, nenek bagi seluruh keluarga atau
sebagai janda, kehidupan perempuan memiliki dinamika tersendiri.(1 Timotius 5:
1-2; Titus 2:3-10; Efesus 5:22-32; 1 Petrus3: 1-7). Di luar rumahnya, peranan
perempuan antara lain sebagai tetangga di kampungnya, pekerja/ wanita karir,
aktifis kegiatan sosial-politik atau keagamaan. Setiap gereja mengembangkan
pelayanan kepada kaum perempuan menurut peranan mereka masing-masing (1
Tesalonika 4: 11-12; 1 Petrus 2: 11-17).
- Pengertian Gereja
Gereja
adalah persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus. Ia lahir seiring
kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus di dunia. Karena itu, apa yang disebut
gereja perdana adalah persekutuan para murid Yesus dan ditambah dengan beberapa
orang lain yang telah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan menjadi saksi atas
kebangkitanNya. Gereja perdana ini memiliki semangat persekutuan, pelayanan,
dan kesaksian yang kuat, sehingga iman Kristen mulai tersebar dari
Yerusalem, seluruh daerah Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung dunia (Kis. 1:8).[55]
Salah seorang murid Yesus yang giat dalam
pekabaran Injil ini adalah rasul Paulus. Ia mengabarkan Injil hampir di seluruh
wilayah kekuasaan Romawi pada abad pertama, baik di kalangan orang-orang Yahudi
diaspora maupun orang-orang bukan Yahudi. Selain rasul Paulus, para murid yang
lain juga aktif mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Konon rasul Thomas
mengabarkan Injil sampai ke India. Karena itu, pada akhir abad pertama dan
memasuki abad kedua, sejumlah jemaat-jemaat Kristen lahir dan bertumbuh di
seluruh wilayah kekuasaan Romawi, dengan latar belakang suku bangsa, [56]bahasa,
dan tradisi yang berbeda. Namun demikian, jemaat-jemaat ini mengakui keesaan
mereka di dalam iman kepada Yesus Kristus dan di dalam tugas panggilan mereka
untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani sebagai jemaat-jemaat Kristen. Jadi,
keesaan mereka pertama-tama terletak pada iman mereka kepada Yesus Kristus dan
panggilan mereka untuk bersaksi di dalam dunia.
Dalam
abad-abad selanjutnya iman Kristen terus bergerak meluas ke Afrika dan Eropa.
Pada periode penjelajahan Samudra di akhir abad pertengahan, iman Kristen
bergerak dari Eropa dan menyebar di wilayah Asia termasuk Indonesia. Hasilnya
adalah bertumbuhnya sejumlah besar gereja dan jemaat lokal di Asia pada umumnya
dan Indonesia pada khususnya, dengan latar belakang budaya, bahasa, tradisi,
dan gaya hidup yang berbeda-beda. Secara doktrinal dan kelembagaan gereja yang
satu dapat berbeda dengan gereja yang lain, sesuai dengan situasi dan kondisi
objektif lingkungannya. Namun secara esensial, gereja-gereja ini mengakui
kesatuan atau keesaan mereka di dalam iman kepada Yesus Kristus dan di dalam
panggilan mereka untuk mengabarkan Injil di dalam dunia. Dalam konteks inilah
kita dapat membicarakan konsep dan praktek keesaan gereja. [57]
Dasar
alkitabiah keesaan gereja sering diambil dari beberapa bagian Alkitab, misalnya
I Korintus 12 tentang rupa-rupa karunia, tetapi satu tubuh, Efesus 2 tentang
kasih karunia dan dipersatukan dalam Kristus, I Petrus 2: 1 – 10 tentang Yesus
Kristus sebagai Batu Penjuru, dan beberapa bagian dari perkataan Tuhan Yesus di
dalam kitab Injil. Salah satu perkataan Yesus yang sering dijadikan perspektif
dalam melihat dan menilai praktek keesaan gereja adalah doa Tuhan Yesus di
dalam injil Yohanes pasal 17, khususnya ayat 20-21: “Dan bukan untuk mereka
ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepadaKu
oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau,
ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita,
supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Bagian
alkitab ini menjadi jiwa dan semangat beberapa lembaga gerakan keesaan seperti
GMKI. Karena itu dalam tulisan singkat ini, kami akan melihat dan menilai
gerakkan keesaan di Indonesia dan di Sulawesi Tengah pada khususnya berdasarkan
perspektif Yohanes 17 tersebut di atas. [58]
C. Perempuan dalam Perspektif Teolog
Kristen
Agama
Kristen menganggap perempuan sebagai sumber kejahatan. “Mereka percaya bahwa
setiap perempuan bersalah melakuakan dosa asal dan dia bertanggungjawab atas
pengusiran Adam dari surga. Kisah Adam dan Hawa adalah penyebab utama
penindasan perempuan dalam agama Kristen. “Tertullian” percaya bahwa kaum
perempuan adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan mentaati setan dan
menentang Tuhan ? Teori yang dikembangkan dan dijelaskan oleh Tertullian ini
menyebabkan terjadinya penindasan dan penghinaan terhadap perempuan Kristen selama beberepa abad.[59]
Selain
itu, perempuan diharuskan menunjukan perilaku tertentu di luar dan di dalam
gereja, dan Paulus secara tegas menganjurkan hal berikut : “Perempuan kalian
tidak boleh berbicara di dalam Gereja, karena mereka tidak berhak untuk
berbicara jika mereka ingin belajar, kalau perlu mereka harus bertanya kepada
suaminya di rumah karena sangat memalukan jika seorang perempuan
berbicara di dalam Gereja. [60]
“Umat
Kristen bertakhayul tenang perempuan. Christom berkata : “Perempuan adalah
kejahatan yang tak terhindarkan, bersifat menggoda, bahaya yang mengancam rumah
tangga, rayuan maut, dan setan yang tersembunyi.”
Ahmad
Khaki menjelaskan tentang asal-mula takhayul ini, ia mengatakan:
Masyrakat
primitive tidak memahami sifat darah, oleh karena itu mereka takut akan darah
dan menghubungkanya dengan “Mana.” Mereka juga menganggap perempuan sebagai
kotor dan busuk selama menstruasi. Seorang laki-laki harus menjauh dari
istrinya dan tidak boleh menyentuhnya sampai dia berusaha menebus
ketidaksucianya dengan cara menumpahkan darah seekor burung. Selain itu, mereka
percaya bahwa perempuan yang sedang menstruasi dapat mencemari segala sesuatu
yang disentuhnya, oleh karena itu seorang laki-laki harus menghindar dari
istrinya yang sedang menstruasi selamanya. Mereka tidur di kasur yang berbedak
mengenakan pakaian dan baju yang berbeda serta minum dari tempat yang berbeda
pula.
Konsekuensinya, kondisi kaum perempuan Kristen sangat mirip
dengn kondisi kaum perempuan Yahudi karena kedua agama tersebut menjauhkan
mereka sebagai kotoran dan najis. Beberapa
ahli theologi juga melampaui hal ini dengan mempersoalkan asal-usul dan
kemanusiaan kaum perempuan. Apakah perempuan memiliki roh ?
pertanyaan-pertanyaan ini dikemukakan dan dibahas di majelis Macon yang
diselenggarakan pada 581 M dan beberapa kali sejak itu.[61]
Alkitab dalam teologi Calvinis adalah
sumber dari ajaran gereja. Sebagai sumber ajaran gereja, Alkitab menduduki
posisi penting dalam perumusan dogma dan pengajaran umat. Namun, landasan
operasional tritunggal panggilan dan pengutusan gereja mengacu pada kesaksian
kanon Alkitab yang ditafsirkan sesuai konteks masa kini. Teks Alkitab dan
konteks umat percaya masa kini terjalin dalam relasi Hermeneutika yang memakai
pendekatan yang komprehensif. Hermeneutika diperlukan guna menemukan kerugma/
pesan Firman bagi umat masa kini. Berbagai metode dan pendekatan telah
dikembangkan oleh para teolog Kristen guna mengkaji ulang pesan-pesan tertulis
agar menjadi pesan-pesan yang dapat dikaryakan bagi kepentingan martabat
manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama dan alam lingkungan.[62]
Ada begitu banyak kisah perempuan yang
diceritakan Alkitab. Kisah mereka bermacam-macam. Ada kisah yang memilukan,
menyedihkan karena mengalami kekerasan seperti kisah Tamar, yang diperkosa
saudara seayah tetapi lain ibu dan Tamar tidak mendapat pembelaan dari ayahnya
Raja Daud atau tua-tua agama. Terdapat juga kisah perempuan tanpa nama dalam
Hakim-Hakim. Seorang gundik diperkosa oleh penduduk kota Gibea sampai mati.
Lalu orang Lewi pemilik gundik memotong mayat gundiknya dan mengirim kepada
suku Israel. Akibat perbuatan orang Gibea yang adalah suku Benyamin, maka orang
Israel dari suku lain maju berperang melawan suku Benyamin. Kisah tentang
kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan juga secara jelas dibaca dalam
beberapa teks Alkitab. Sebut saja Izebel (Raja-Raja) istri Raja Ahab yang
mengatas namakan Raja mengambil kebun anggur Nabot. Nabot diperhadapkan dengan
2 orang saksi dusta akibatnya ia dilempar dengan batu sampai mati. Kisah Delila
yang menjual suaminya Simson kepada orang Filistin yang mengakibatkan Simson
menderita, matanya dicungkil sehingga ia buta (Hakim-Hakim).
Disamping kisah yang memilukan akibat
kekerasan terhadap perempuan, Alkitab menceritakan juga kisah
perempuan-perempuan yang memilki kharisma khusus seperti nabiah. Ada Deborah
(Hakim-Hakim 5), Hana (Lukas 2 : 36), Hulda (2 Raja- Raja 22:14).
Alkitab menceritakan juga kisah heroik
yang ditampilkan oleh perempuan sebagai pemimpin, pejuang hak asasi, pembela
bangsanya, pendamai, juga pelayan Firman. Tetapi dibandingkan dengan kisah
tentang laki-laki, kisah para perempuan hebat ini sangat sedikit. Ada ketidak
seimbangan dalam menceritakan tentang kinerja laki-laki dan perempuan. Ketidak
seimbangan itu ada sebabnya. Saya mencoba mencarinya dalam kisah tentang
penciptaan.[63]
Bagian Alkitab yang paling sering
dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar teologi mereka,
yang juga dikenal sebagai magna carta of humanity adalah Galatia 3:2839 yang
berbunyi: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada
hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua
adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28 dipandang sebagai ayat
yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi dan subordinasi pria.
Bagian-bagian lain yang juga berbicara tentang kesederajatan adalah: Kejadian
34:12; Keluaran 21:7, 22:17, Imamat 12:1-5; Ulangan 24:1-4; 1 Samuel 18:25 yang
berbicara bahwa wanita dan pria memiliki status sosial yang sama; Hakim-hakim
4:4, 5:28-29; 2 Samuel 14:2, 20:16; 2 Raja-raja 11:3, 22:14; Nehemia 6:14,
adalah ayat-ayat yang memperlihatkan bahwa wanita memiliki tempat dalam
kehidupan religius dan sosial bangsa Israel, kecuali dalam hal keimaman;
sedangkan dalam Kejadian 1:27 dikatakan bahwa wanita dan pria adalah makhluk
yang sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Berdasarkan
penafsiran terhadap ayat-ayat di atas khususnya Galatia 3:28, para feminis
menyimpulkan bahwa Paulus dengan jelas mengukuhkan kesetaraan antara pria dan
wanita dalam komunitas Kristen; pria dan wanita memiliki hak-hak dan
kewajiban-kewajiban yang sama baik di gereja maupun dalam rumah tangga.
Kesimpulan lain dari penafsiran ini ialah bahwa tujuan panggilan Kristen adalah
kemerdekaan.
Selain itu, di dalam usaha menelaah sejarah kaum wanita di dalam Alkitab,
teolog-teolog feminis tidak hanya menemukan ide tentang kesederajatan pria dan
wanita. Di dalam Alkitab mereka ternyata menemukan bahwa Allah orang
Kristen bukan Allah yang paternal; dari sejumlah ayat yang terdapat di Alkitab
mereka menemukan bukti-bukti yang mendukung konsep Allah yang maternal.
Itulah sebabnya sebagian teolog feminis menuntut agar Allah tidak hanya disebut
sebagai Bapa tetapi juga Ibu. Secara tajam mereka pun mengkritik rumusan
baptisan yang berbunyi: “dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.”[64]
Ruether juga menggunakan istilah “metode korelasi” ketika ia
menguraikan metode interpretasi feminis. Bandingkan dengan pendapat
Daphne Hampson, salah seorang teolog feminis yang lebih radikal, yang
mengemukakan hal senada ketika ia mengatakan bahwa teologi haruslah merupakan
jembatan antara masa lalu dan masa kini. Menurutnya, teologi harus
menghubungkan masa lalu dan masa kini melalui tiga pendekatan, salah satunya
disebut pendekatan kairos, yakni suatu pengakuan bahwa masa lalu pada dasarnya
bersifat normatif, namun bisa saja terjadi perkembangan (Theology).
(Namun tidak jelas apa yang ia maksud dengan “bisa saja terjadi
perkembangan.” Apakah itu berarti perkembangan dalam bentuk perubahan
sehingga yang normatif itu tidak lagi normatif?) Pendapat ini juga serupa
dengan yang dikatakan Tillich bahwa para teolog berada di antara dua
kutub. Kutub pertama adalah otoritas teologis, yakni Alkitab sebagai
sumber teologi. Kutub ini perlu untuk menjamin agar teologi yang
dihasilkan bersifat otoritatif. Kutub yang lain adalah situasi.
Jadi, tugas para teolog adalah menjembatani berita Alkitab dengan situasi masa
kini.
Dengan ditetapkannya “Dasawarsa
Oikumenis Gereja-gereja dalam Solidaritas dengan Wanita” oleh Dewan
Gereja-gereja se-Dunia, gereja-gereja dipanggil untuk menguji kembali struktur
gereja dan mengusahakan keseimbangan dalam arti memberi peranan penuh dari
seluruh anggotanya tanpa terkecuali. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama
mendapat peran yang seimbang dalam gereja, sehingga mereka benar-benar dapat
berperan sesuai dengan bakat dan talentanya masing-masing.
Sebagai gambar Allah, perempuan
diciptakan sempurna. Sama baiknya dengan laki-laki. Perempuan mempunyai hak dan
kesempatan yang sama. Menyia-nyiakan hak dan kesempatan pemberian dari Allah
sama dengan menyia-nyiakan berkatnya. Karena itu, gereja dipanggil untuk
memberdayakan kemampuan dan keahlian perempuan agar semakin hari semakin
berkualitas. Di sisi lain perempuan sendiri diingatkan bahwa panggilan iman
Kristiani menantang dirinya untuk berkarya dan menyumbangkan kemampuannya secara
penuh. Dengan motivasi yang demikian, apapun yang dilakukan oleh perempuan
bukan merupakan ambisi pribadi atau demi dirinya sendiri, namun lebih pada
kesadaran akan panggilan Ilahi.[12]
Dalam ajaran Katolik menegaskan bahwa
laki-laki dan perempuan menempati posisi yang setara dan sederajat. Antara lain
dalam kitab Kejadian 1:27-28: “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya
sendiri, menurut gambar Allah diciptakan laki-laki dan perempuan. Allah
memberkati mereka dan lalu berfirman: “beranakcuculah dan bertambah banyak,
penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan
burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.
Dalam kristen Protestan dalam ajaran
Alkitab, Allah mewujudkan kasih-Nya terhadap manusia tanpa memandang jenis
kelamin, golongan, maupun usia dan nyata benar dalam terang kasih Allah antara
laki-laki dan wanita.
Seperti disebutkan di atas, selain
anggapan terhadap perempuan yang lemah, banyak juga kejadian tentang kekerasan
terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan dari pemahaman-pamahaman yang
besumber dari kitab suci dan tradisi.
Pertama, melalui Kitab
Suci. Menurut Elisabeth Schussler Fiorenza, di dalam perjuangan bertahan hidup
serta pembebasan diri dalam masyarakat dan gereja yang patriarkis, para
perempuan menemukan kitab suci telah digunakan sebagai alat untuk menentang
perempuan. Namun demikian, pada saat yang sama, kitab suci juga dapat menjadi
sumber keberanian, pengharapan, dan komitmen dalam perjuangan para perempuan
ini. Sehingga, menurut Elisabeth, yang perlu dilakukan dalam interpretasi
feminis bukanlah mempertahankan kitab suci untuk melawan para pengkritik
feminis, melainkan untuk memahami dan menafsirkannya sedemikian rupa sehingga
kekuatan penindasan dan pembebasannya sangat jelas dapat dikenali.[13]
Kedua, Tradisi dalam
perjalanan historisnya, terbentuk dan berkembang. Tradisi menjadi sesuatu yang
hidup, terbuka untuk untuk perkembangan secara terus menerus. Perkembangan
tradisi secara umum ditentukan, antara lain, dengan pendalaman di bidang
ajaran. Dalam hal ini, peran para teolog sangat penting untuk membantu
melakukan penyelidikan dalam mendalami misteri ilahi dan menyingkapkannya bagi
Gereja tuntutan-tuntutan yang terkandung dalam misteri itu. Faktor lainnya
adalah keterkaitan pendalaman ajaran tersebut dengan pengalaman hidup konkret.[14]
C.
Partisipasi Perempuan
di dalam Gereja
Pengajaran utama mengenai kedudukan perempuan dalam
Jemaat terdapat dalam surat-surat Paulus.[65]
pada zaman itu perempuan hampir selalu dianggap lebih rendah daripada
laki-laki, khususnya pada dunia Yahudi yang dikuasai sepenuhya oleh laki-laki.
Dibeberapa tempat dalam lingkungan orang-orang bukan Yahudi, seperti Mekdonia,
perempuan-perempuan dibeli hak yang lebih luas, tetapi orang-orang penyembah
berhala secara keseluruhan tidak terdapat gagasan kesamaan hak bagi laki-laki
dan perempuan. Disaping itu tidak ada pendidikan untuk anak-anak perempuan
Yahudi dan diantara anak-anak perempuan dari dalam suasana yang berorientasi
pada kaum laki-laki seperti inilah jemaat-jemaat Kristen berkembang.[66]
Pernyataan Paulus yang tegas dalam Galatia 3:28 “Dalam
hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang
merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua dalah satu di
dalam Kristus Yesus”.[67]Merupakan
suatu pandangan yang revolusioner, karena bertentangan dengan keyakinan zaman
itu yang menempatkan kaum laki-laki sebagai kaum yang lebih unggul. Pernyataan
ini tidak berlaku hanya dalam hubungan dengan keselamatan, seolah-olah prinsip
keunggulan laki-laki masih diterapkan dalam bidang-bidang lain kecuali dakam
hal keselamatan itu.
Dalam Jemaat Kristen, perempuan-perempuan mempunyai
status yang sama dengan laki-laki, dengan pengertian bahwa semua orang diterima
atas dasar pekerjan Kristus yang sama bagi kepentingan mereka. Laki-laki tidak
dapat menuntut hak yang lebih dari perempuan.[68]
Prinsip kesamaan bagi perempuan ini sama sekali bertetangan dengan situasi
lingkungan orang-orang Yahudi atau pun orang-orang penyembah berhala, dan
tidaklah mengherankan bahwa persoalan muncul pada waktu proses penyesuaian ini
mulai diterapkan. [69]
Ada dua macam pokok yang termasuk dalam nasihatnya:
yang pertama berhubungan dengan perepuan-perempuan yang berbicara di
dalam Jemaat, yang keduaa berkaitan dengan masalah wewenang. Dalam I Korintus
14:34-35 “Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus,
perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab
mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukan diri,
seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat(34). Jika mereka ingin mengetahui
sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak
sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat (35).[70]
Bahwasannya perempuan harus berdiam diri dalam Spertemuan Jemaat, tetapi banyak
perdebatan mengenai apa yang dimaksudkannya dengan perkataan itu. Ia
memerintahkan untuk tunduk, tetapi ia menentukan kepada siapa perempuan harus
tunduk tetapi ia tidak menentukan kepada siapa perempuan-perempuan harus
tunduk. Karena pernyataan ini diikuti denga pernyataan lain yang mengingatkan
perempuan-perempuan untuk bertanya kepada suami mereka di rmah, maka ayat ini
pernah ditafsirkan sebagai suatu nasihat untuk tunduk kepada suami. Tetapi yang
dimaksud dengan tunduk di sini dapat dihubungkan dengan pengajaran. Disamping
itu, pernyataan dalam ayat 34-35 pernah dianggap sebagai pandangan-pandangan
dari kelompok tertentu dalam Jemaat, bukan pandangan Paulus sendiri. Pemecahan
yang menjadi pokok dari keseluruhan konteks yang memuat perkataan ini ialah
perlunya ibadat yang teratur. Paulus tidak mentolerir hal-hal apapun yang
menguragi keteraturan ibadat Kristen, dan jika sikap beberapa perempuan
tercantu mengakibatkan keadaan ibadat menjadi tidak teratur, maka dapatlah
dipahami bahwa ia menyuruh mereka untuk diam.[71]
Pada saat I Korintus 14:34-35 dibicrakan. Kita harus
mengingat bahwa perempuan-perempuan diizinkan untuk berdoa dan bernubuat dengan
hak yang sama dengan laki-laki. I Korinus 11:5 “Tetapi tiap-tiap perempuan
yang berdoa atau bernubuat dengan kepala
yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang
dicukur rambutnya”.[72]
Nampaknya berbeda dengan I Korintus 14:34-35 dengan perintah bahwa perempuan
harus diam, mungkn untuk berpendapat bahwa perempuan-perempuan hanya dapat
berdoa dan beribadat dalam rumah mereka senidir, anggapan ini tidak
bertentangan dengan I Korintus14:34-35. Namun, pembahasan mengenai rambut
perempuan dan tentang pemakaian tudung kepala tidak ada artinya jika doa dan
nubuat hanya dilakukan bukan di depan Jemaat.
Dalam
perikop kedua yang berkaitan dengan masalah ini, yaitu I Timotius 2:11-15”Seharusnyalah perempuan berdiam
diri dan menerima ajaran dengan patuh”(11). Aku tidak mengizinkan
perempuan mengajar dan tidak juga mengizinkannya memerintah laki-laki;hendaklah
ia berdiam diri(12). Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa
(13). Lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang
tergoda dan jatuh ke dalam dosa(14). Tetapi perempuan akan diselamatkan karena
melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan
segala kesederhanaan(15).[73]
Dari ayat-ayat diatas Paulus menasehati perempuan-perempuan untuk belajar
berdiam diri dan untuk menahan dari memerintah laki-laki. Didalam perjanjian
lama dikutip untuk menunjukkan bahwa Hawa lebih bersalah daripada Adam,yang
didalamnya mungkin tercakup sikap tunduk. Mengenai perikop dari Perjanjian
Lamaitu, dapat dikatakan bahwa Kejadian 1 dan 2 tidak mengharuskan perempuan
untuk tunduk kepada laki-laki, karena laki-lakilah yang harus meninggalkan
keluarganya untuk bersatu dengan istrinya, bukan sebaliknya.
Persoalan
utama ialah untuk menentukan pemerintahan yang bagaimana yang dimaksudkan
Paulus dalam I Timotius 2:12 “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan
tidak juga mengizinkannya memerintah laki-laki;hendaklah ia berdiam diri”
ayat tersebut dapat dimengerti dalam hubungan pernikahan, tetapi konteks di
sekitar ayat itu menyarankan suatu penerapan yang lebih umum. Oleh karena itu
yang menjadi pusat perhatian utama ialah hal mengajar, maka nampaknya paling
baik untuk menghubungkan pemerintahan (wewenang) tersebut dengan hal mengajar.
Dengan demikian yang diamksudkan ialah bahwa seseorang perempuan tidak
diberikan hak untuk mengajar laki-laki dengan cara memerintah (secara beribawa).[74]
Hal ini harus dipahami latar belakang kisah Adam dan Hawa, sebab dalam
peristiwa itu Adam membiarkan dirinya diperintah oleh Hawa dalam hal yang
salah, sehingga ia tertipu. Pernyataan Paulus tidak boleh berarti bahwa perempuan mempunyai sifat mudah ditipu,
ataupun dengan maksud untuk membebaskan Adam dari tanggung jawab pelanggaranya
sendiri.
Dalam
surat pengembalaan, perempuan-perempuan diizinkan untuk mengajar anak-anak dan
perempuan-perempuan lain[75]
terdapat dalam 2 Timotius 1:5 “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus
ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenkmu Lois dan di dilam
ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga didalam dirimu” , 2 Timotius
3:14-15”tetapi hendaklah engkau tetap berpegang kepada kebenaran yang telah
engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu ,mengingat oramg yang telah
mengajarkan kepadamu(14). Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal
kitab suci yang dapat member hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada
keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus(15).” dan Titus 2:3-4“Demikian
juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang
beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba Anggur, tetapi cakap
mengajajarkan hal-hal yang baik(3). Dan dengan demikian mendidik
perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya(4).”, hal ini
menjelaskan bahwa Paulus tidak berpendapat bahwa karena sifat yang dimilikinya
maka perempuan-perempuan sama sekali tidak boleh mengajar. Di dalam kisah Hawa
yang diperdaya digunakan dalam II Korintus 11:3 “Tetapi aku takut, kalau-kalau
pikiran kamudisesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada kristus, sama
seperti hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya” yaitu sebagai
kesejajaran bagi siapa saja (laki-laki maupun perempuan) yang disesatkan dari
kesetiaan yang sejati kepada Kristus. [76]
Dalam
I Timotius 3:11 “Demikianlah pula istri-istri hendaklah orang terhormat,
jangan memfitnah dapat menahan diri dankeluarganya dengan baik” dapat
ditujukan kepada perempuan-perempuan yang melayani sebagai diaken, walaupun
beberapa orang menafsirkan bahwa ayat ini ditujukan kepada istri-istri diaken.
Jika yang dimaksudkan ialah diaken-diaken maka tidaklah perlu menduga bahwa
yang dipikirkan ialah suatu jabatan, hanya bahwa perempuan-perempuan yang
melakukan pekerjaan seorang diaken harus memenuhi kualitas-kualitas tertentu
yang ditetapkan. Dalam Perjanjian Baru Rum 16:1 menegaskan tidak ada feminine
untuk kata diaken tersebut.[77]
Telah
disebutkan diatas bahwa dalam Jemaat di Korintus terdapat perempuan-perempuan
yang bernubuat dan berdoa. Ada beberapa perempuan yang memiliki kemampuan di
Filipi, disamping itu janda-janda yang lebih tua di Efesus didaftarkan bukan
hanya untuk memerntah bantuan kenangan tetapi juga umtuk mengambil bagian dalam
pelyanan “” (1 Timotius 5:9-10). Semua bukti ini memberikan kesan bahwa Paulus
melihat pekerjaan dari perempuan-perempuan Kristen sangat diperlukan di salam
Jemaat Kristen.
Segi
lain dalam status perempuan yang timbul sebagai akibat kedatangan kristus adalah
hal yang berhubungan dengan pernikahan[78].
Paulus menggunakan kiasan mempelai perempuan untuk melambangkan Jemaaat,
terhadap kesatuan seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Haruslah diakui
bahwa jiasan tersebut memberikan kepada perempuan yang sudah menikah suatu
kedudukan dalam Jemaat yang berbeda secara mendasar dengan kedudukan para
perempuan dimasa itu. Di luar Jemaat dia tidak memiliki hak apapun, tetapi”di
dalam Kristus” dia merupakan seorang yang sangat diperlukan oleh suaminya dan
tanpa perempuan seorang laki-laki tidaklah lengkap. Keduanya menjadi satu
daging, seperti Allah maksudkan. Paulus tidak memberikan pengajaran yang khusus
mengenai peranan perempuan yang tidak menikah, walaupun secara jelas ia
memandang bahwa keadaan tidak menikah itu bermanfaat dalam situasi-situasi
tertentu.[79]
Paulus
menunjukkan bahwa Paulus sama sekali bukanlah seorang pembenci kaum perempuan,
walaupun kadang-kadang ia dinggap mempunyai sikap ini. Sebaliknya, ia mengerti
secara luar biasa bahwa kuasa Injil yang memerdekakan akan mengubah kedudukan
perempuan yang besifat rendah pada zamannya. Ia melihat bahwa Jemaat Kristen
harus merupakan perintis yang mengangkat martabat kaum perempuan.[80]
Daftar Pustaka
Guthrie, Donald.2012. Teologi Perjanjian
Baru. Jakarta: Gunung Mulia
dhiya’ul fauzain Aris.2016 Perbandingan
Agama, Jakarta.
https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama
[1] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama diakses pada tanggal 16
september 2106 pukul 17:00 WIB
[6] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama diakses pada tanggal
16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama diakses pada
tanggal 16 september 2106 pukul 17:00
[8] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama diakses pada
tanggal 16 september 2106 pukul 17:00
z
[13] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[14] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[15] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[16] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[17] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama
[18] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[20] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[23] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[24] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[25] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html
diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[26] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html
diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[27] Kitab Suci Injil. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2011. Hlm.
6-7.
[31] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html
diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[33] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html
diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[35] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html
diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[36] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html
diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[37] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html
diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[38] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html
diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[39] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.105
[40] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html
diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[47] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[48] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[49] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses
pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[54]Aris
dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.134
[55]Diakses
melalui http://richsonblogs.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-gereja-secara-alkitabiah.html
pada tanggal 09 November 2106 pukul 21:00 WIb
[56] Diakses melalui http://richsonblogs.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-gereja-secara-alkitabiah.html
pada tanggal 09 November 2106 pukul 21:00 WIb
[57] Diakses
melalui http://richsonblogs.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-gereja-secara-alkitabiah.html
pada tanggal 09 November 2106 pukul 21:00 WIb
[58] Diakses
melalui http://richsonblogs.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-gereja-secara-alkitabiah.html
pada tanggal 09 November 2106 pukul 21:00 WIb
[59] Diakses
melalui http://ahmadsyafiq881.blogspot.co.id/2013/12/relasi-gender-dalam-teologi-kristen_10.html
pada tanggal 10 November 2016 pukul 10:20 WIB
[60] Fatimah Umar Nasif, Menggugat
Sejarah Perempuan, (Jakarta : Cendekia Sentra Muslim, 2001), h. 48
[61] Fatimah
Umar Nasif, Menggugat Sejarah Perempuan, (Jakarta : Cendekia Sentra
Muslim, 2001), h. 49
[62] Diakses melalui http://ahmadsyafiq881.blogspot.co.id/2013/12/relasi-gender-dalam-teologi-kristen_10.html
pada tanggal 10 November 2016 pukul 10:20 WIB
[63] Pdt. Frederika Patrecia Kulas,
M.Th, Buklet
Seri Agama Ketidakadilan Gender dalam Tafsir Kristen : Sebuah Pengantar Gerakan
Keadilan Gender dalam Perspektif Kristen, Jakarta: Komunitas untuk
Indonesia yang Adil dan Setara (KIAS) dan Institut Mosintuwu, 2011.
[64] Diakses
melalui http://ahmadsyafiq881.blogspot.co.id/2013/12/relasi-gender-dalam-teologi-kristen_10.html
pada tanggal 10 November 2016 pukul 10:20 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar