RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU
Makalah
Diajukan untuk
Memenuhi Nilai Matakuliah Relasi Gender
Dosen : Siti
Nadroh, MA.
Disusun oleh :
Kelompok 9 ( IVA
)
Adiba Zahrotul Wildah ( 11140321000025 )
M.
Munif Akbar (
11140321000011)
M.
Samtoni (
11140321000014
)
JURUSAN
PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat,
karunia, serta kasih sayang terbesar-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul “Relasi Gender
dalam Agama Hindu”.
Makalah
ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Relasi Gender. Selain
itu sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa/i dalam
menyusun karya tulis.
Kami
menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan dalam
penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik
dari pembaca sekalian demi memperbaiki makalah ini untuk penulisan lain di
kemudian hari.
Semoga
makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua. Sekian dan terimakasih.
Ciputat,
15 September 2016
Penulis
RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU
A.
Ketidaksetaraan
Gender dalam Tradisi dan Teks-Teks Hindu
Dalam kehidupan
berkeluarga, perempuan diposisikan sebagai ardhangana
yaitu hanya memiliki setengah dari hak suami dan sahadharmini yaitu budak suami.Jika seorang suami terlebih dulu
dari istrinya, maka secara teoritis perempuan mempunya dua pilihan yaitu
melakukan sati (perempuan baik) atau
menjanda.Ini merupakan pandangan dari Mahatma Gandhi sebagai bentuk
ketidakpedulian tradisi Hindu terhadap eksistensi perempuan.[1]
Gender dalam Hindu
diartikan sebagai perilaku yang membedakan antara perempuan dan laki-laki yang
diharapkan dapat berperan dan bertindak sesuai ketentuan sosial, moral, etika,
dan budaya karena perilaku dari segi-segi tersebut ada yang pantas dikerjakan
oleh laki-laki saja atau perempuan saja, namun adapula yang pantas dikerjakan
keduanya. Namun hakikatnya agama Hindu mengajarkan bahwa seluruh umat manusia
diperlakukan sama dihadapan Tuhan sesuai dengan dharma bhaktinya.
Gerakan keadilan dan
kesetaraan dalam Hindu seharusnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
yang didukung dengan budaya dan tradisi yang bermoral berdasarkan Dharma. Dalam konteks gerakan keadilan dan
kesetaraan yang diungkap dalam Manawa Dharma Sastra yang merupakan satu-satunya
kitab hukum yang mengatur kehidupan universal yang digunakan sebagai hukum
Hindu hingga saat ini.
Yatra naryastu
pujyante
Ramante
tatra dewatah
Yatraitastu
na pujyante
Sarwastalah
kriyah
Artinya:
Dimana
wanita dihormati, disana ada kebahagiaan dan kesejahteraan, dan dimana wanita
tidak dihormati tidak ada pekerjaan yang menghasilkan [Manawa Dharma Sastra[2].III.
55)[3]
Apabila ayat ini
menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, maka ketidaksetaraan gender
tidak perlu dikhawatirkan, karena perempuan mempunyai tempat dimana mau tidak
mau wajib dihormati oleh siapapun.Tatanan hidup yang bermoral disuatu tempat
atau negara seharusnya dapat menempatkan posisi yang lebih dibanding laki-laki.
Diuraikan dalam teks Hindu sebagai berikut:
Cocanti jamayo
yatra
Winacyatyacu
tatkulam
Na
cocanti tu yatraita
Wardhate
taddhi sarwada.
Artinya:
Dimana
warga wanitanya hidup dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, tetapi
dimana wanita tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia.
Kekerasan terhadap
perempuan seperti merampas hak-hak perempuan merupakan tindakan yang
menempatkan perempuan pada posisi yang sangat tidak dihormati dan kebahagiaan
hidup pun tidak dapat diperoleh keluarganya.Tidak ada alasan apapun untuk tidak
menghormati wanita dan tidak diberikan haknya secara penuh, apalagi sampai
memperlakukan wanita dengan kekerasan. Sebagaimana dalam Manawa Dharma Sastra
dikatakan sebagai berikut:
Na
kaccitdyositah bhaktah
Parahya
parisaksitum
Etairupa
yogaistu cakyasta
Pariraksitam.
Artinya:
Tak seorang laki-laki pun dapat menjaga
wanita dengan kekerasan, tetapi ia dapat dijaga dengan cara-cara sebagai
berikut, [Manawa Dharma Sastra.IX.10]
AraKsita grhe ruddhah
Purusairap takaribhih
Atmanam atmanayastu
Rakseyustah
syraksitah.
Artinya:
Wanita yang tetap tinggal dirumah,
dipercayakan dibawah kepercayaan dan pembantu-pembantu yang setia tidaklah
terjaga baik tetapi mereka yang atas kemauan mereka menjaga diri mereka sendiri
adalah terjaga baik. [Manawa Dharma Sastra.IX.12][4]
Wanita tidak seharusnya
dijaga dengan batasan-batasan norma apapun tanpa persetujua dan kesadaran
perempuan tersebut. Menurut hukum Hindu, perempuan dan laki-laki memiliki hak
dan kewajiban yang sama sederajat, bahkan perempuan diberi keistimewaan
tersendiri. Kewajiban laki-laki adalah menjaga dan mengembalikan kehormatan
seorang wanita yang apabila jatuh moralnya dengan cara yang bijaksana dengan menjadikannya
istri yang utama. Jadi apabila perempuan diwajibkan untuk dihormati, maka
perempuan memiliki tanggung jawab untuk menjaga etika dan moralnya sendiri
karena apabila seorang perempuan jatuh moralya, maka akan berakibat pada
penderitaan dan kehancuran.
Panam durjana samsargah
Patya ca wirako’tanam
Swapno nya geha wasacca
Narisamdursanani
sat.
Artinya:
Meminum-minuman
keras, bergaul dengan orang-orang jahat, berpisah dari suami, tidur pada
jam-jam tidak layak, mengembara keluar daerah, berdiam di rumah laki-laki lain
adalah enam sebab jatuhnya seorang wanita yang menyebabkan kehancuran. [Manawa
Dharma Sastra.IX.13]
Terlepas dari tingginya
posisi perempuan menurut hukum Hindu, perlakuan terhadap perempuan Hindu dalam
tatanan hidup masyarakat sangat diikat oleh dogma adat dan warisan budaya yang
sangat membatasi ruang gerak para perempuan mendapatkan hak-haknya. Apalagi
dengan dibentuknya lembaga adat disetiap wilayah administrasi sebagai wujud
integritas keadatan. Seharusnya kehadiran lembaga adat memberikan ruang yang
lebih luas kepada perempuan sekaligus
memberikan jaminan akan terpenuhinya hak-hak perempuan dan kaum
minoritas, bukan malah sebaliknya.
Dalam ayat yang sudah
ditulis sebelumnya yaitu dalam Manawa Dharma Sastra IX.10 dan 12 yang menjelaskan
bahwa perempuan itu istimewa, terhormat, dan mulia yang seharusnya dijaga oleh
laki-laki dengan cara-cara yang dikehendaki. Namun, ayat ini justru disalah
artikan oleh pihak yang lebih mengutamakan egoistik aturan adat dengan
menafsirkan ayat tersebut bahwa perempuan harus dijaga dengan aturan adat yang
ketat untuk menjaga kehormatan pribadi maupun keluarga. Semestinya aturan adat
menunjang pelaksanaan kaidah-kaidah dan hukum agama Hindu agar kehidupan
beragama menjadi lebih toleran dan menjamin kebahagiaan lahir dan batin
umatnya, bukan sebaliknya. Aturan adat yang seharusnya memberikan kenyamanan
dan kesejahteraan bagi umatnya, justru cenderung membelenggu kaumnya khususnya perempuan.
Jadi aturan adat yang membelenggu kehidupan masyarakatnya secara perlahan-lahan
akan menjadi bumerang dan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri.[5]
Dalam teks-teks Samhita orang-orang
Arya datang ke India pada milenium kedua sebelum masehi membawa tradisi
keluarga Indo-Eropa yang patrilineal dan patrilokal. Agama mereka, seperti
terlihat dalam Rg.weda[6],
memiliki ciri patriarkhal, etnis, perorientasi keluarga dan mempertahankan
hidup. Tujuan hidup mereka adalah mempertahankan dominasi laki-laki dan
identitas bangsa Arya disamping itu juga hasrat untuk memperoleh keturunan,
kemakmuran serta panjang umur, dan ritual-ritual keagamaan untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut didasarkan terutama kepada keluarga. Disamping dominasi
laki-laki, perempuan sebagai istri dan ibu juga penting untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut lagi pula, peranannya dalam keluarga dan ritual-ritual
dikaitkan dengan pemeliharaan tata tertib sosial dan alam tentu saja dapat
ditegaskan bahwa agama Weda memberikan penghargaan baik terhadap feminitas
maupun komplementaritas (saling melengkapi) antara suami dan istri, sekalipun
masih dalam struktur yang bersifat partrialkhal. Penghargaan ini barangkali
merupakan suatu pembaharuan sistem patriarki yang terdapat konteks Indo-Eropa
sebelumnya. Perubahan semantik istilah dampati menggambarkan hal ini dengan
baik, karna awalnya arti kata tersebut adalah tuan rumah dikalangan Indo-Eropa,
namun di India maknanya berubah menjadi “Pasangan”, suami dan istri (shastri
1969,18)[7].
Peranan ideal perempuan umumnya
dapat dipelajari dari gambaran tentang gadis dan pengantin perempuan. Dalam
Rg.Weda anak perempuan (duhita) dan gadis (kanya) dipuji karena cantik wajah
yang berseri-seri, dandanan menarik, senyum manis, pinggul yang sintal dan paha
yang besar. Deskripsi ini menunjukkan adanya internest pada daya tarik
sensualitas feminim dan kemampuan seorang perempuan untuk melahirkan anak.
Dalam festival pertemuan (samana), seorang gadis-gadis muda bertemu laki-laki
pilihan mereka pasangan yang saling tertarik tadi, setelah mengikat hubungan,
menghadap orang tua mereka untuk mendapatkan persetujuan dan merencanakan
perkawinan. Meski ada kesempatan untuk menjalin hubungan percintaan, tidak
seperti di masa-masa kemudian, dapat diduga bahwa seorang gadis, seperti yang
terungkap dari penjelasan tentang upacara berikut, akan diawasi dan dijaga
ketat oleh orang tuanya, karena seorang pengantin perempuan harus perawan.
Upacara perkawinan dijelaskan dengan
gamblang dalam Rg.Weda X.85ff. (Sarasvati dan Vidyalankar 1977,37). Hal ini
yang patut dicatat adalah doa yang ditunjukkan kepada Visvavasu, pelindung
gadis-gadis perawan, agar memindahkan penjagaannya kepada yang lain. Pengantin
perempuan, yang disebut dengan “orang yang beruntung” (sumangali) dan
“menguntungkan) “siva”, dihiasi dengan ornamen-ornamen. Doa-doa ditunjukkan
kepada dewa-dewa agar pasangan pengantin mendapatkan kebahagiaan (saubhagatva),
bersama-sama mencapai umur yang panjang, kemakmuran, memiliki keturunan dan
kesauan hati. Disamping itu, nasehat praktis diberikan kepada pengantin
perempuan. Dia tidak boleh marah atau benci kepada suaminya; harus lembut,
ramah, gembira, melahirkan anak laki-laki, mengasihi para dewa, memberikan
kebahagiaan, membawa berkah bagi hewan-hewan dan menjadi ratu bagi iparnya.
Istilah jaya (orang yang ikut merasakan perasaan suami), jani (ibu anak-anak),
dan patni (partner dalam melakukan berbagai ritual atau yajna) menjadi ciri
peranan perempuan dalam Rg.Weda (Shastri 1969,16)
Karena agama, yang dimaksudkan
untuk memenuhi kesejahteraan keluarga, dipusatkan dirumah yaitu, dewa-dewa diundang
untuk mengunjungi dan menerima hadiah disana – makan istri hadir dalam
peristiwa-peristiwa ini dan
berpartisipasi di dalamnya melalui himne-himne pujian dan sikap-sikap yang
ramah. baik ritual domestik maupun ritual publik menekankan kehadiran bersama
suami dan istri. Pasangan suami istri,
yang ingin sekali memuaskan-Mu dan mempersembahkan pemberian-pemberian
bersama-sama merayakan (pemujaan terhadapMu), demi (memperoleh) sejumlah ternak
(Rg.Weda 1.131.3,Shastri 1969,17)
Dewa-dewa bersifat reseptif
terutama terhadap keluarga, yang definisi minimalnya mencakup suami istri.
Dengan kata lain, kehadiran istri diperlukan untuk menghadirkan dewa-dewa, dan
rumah dipandang menguntungkan (subha) hanya dengan adanya suami-istri. Tentu
saja kesempurnaan hidup (kebahagiaan, kekayaan dan kesejahteraan), pencapaian
keabadian (versi surgawi hidup ini), dan bahkan tata tertib alam dan masyarakat
tidak dapat dipisahkan dari konteks tersebut. Misalnya: (demi keabadian,
kesatuan pribadi yang menyenangkan, mereka (istri dan suami) memuja dewa-dewa.
(Rg.Weda VIII.31.Saraswati dan Vidyalankar 1977,42))[8]
Meskipun perempuan sebagai
istri dan ibu dimuliakan, namun suami tetap memiliki peranan yang dominan,
karena sebagai kepalarumah tangga patriakhal, dia adalah tuan rumah bagi
tamu-tamu dan dewa-dewa, dan bertanggung jawab terutama untuk menyenangkan
mereka, sehingga para dewaberkenanmemberikan hadiah-hadiah kepada keluarga
tersebut. Menurut Weda, perempuan tidak lebihdari seorang partner yang ikut
membantu, meskipun tidak terlibat secara aktif (silent partner), dalam
ritual-ritual Weda. Hal ini dikarenakan alesan bahwa dewa-dewa tidak mungkin
diabaikan dan tidak diperhatikan. Jadi, jika semua laki-laki berada dirumah,
maka secara logis dapat dikatakan (meskipun sulit membuktikannya secara
tekstual) bahwa istri melakukan peran ritual menjamu tamu. Disamping tugas
rutinnya sebagai penjaga api rumah (yang dipandang tidak boleh padam dan
dipandang sebagai; Dewi Agni, “mulut para dewa”, yang menerima persembahan
anggur, padi dan pemberian-pemberian lain), istri mungkin juga melakukan ritual
harian (menggantikan peranan laki-laki) bila laki-laki sebagai kepala rumah
tangga tidak berada diruamah. Dengandemikian istri mempunyai sedikit andil dan
keahlian dalam ritual,yang dalam beberapa hal, masih relatif simple dewasa ini.
Selain itu, ada bukti menunjukan bahwa menyanyikan himne-himne (Sama Weda)
merupakan keahlian khusus perempuan yang terampil bermain musik. (Upadhaya
1974, 185; Basu 1969, 40). Dengan demikian, citra yang muncul kemudian mengenai
brahmavadini (seorang perempuan yang
membaca teks-teks suci), yang mengaitkan perempuan dengan api dan himne-himne
Weda, memperlihatkan adanya kesinambungan sejak periode Weda[9].
Tradisi Hindu telah menyebutkan
beberapa perempuan dalam Rg.Weda tidak hanya sebagai penyitir dan penyanyi
himne-himne tetapi juga sebagai peramal-peramal (rsis; penyair agama yang
dihormati dimasa itu, yang kemudian dipahami sebagai perantara penerima wahyu
Weda). Kenyataan bahwa paling tidak terdapat beberapa perempuan peramal jelas
tidak diragukan, akan tetapi tradisi tersebut mungkin terlalu melebih-lebihkan
jumlah dengan memberikan status rsika kepada tokoh-tokoh perempuan yang hanya
disinggung namanya dalam suatu himne. (Shastri 1969, 23-30)
Sementara kini secara umum
diakui bahwa tidak harus ada hubungan antara status perempuan dalam suatu agama
dengan hadir atau tidaknya dewi-dewi, namun tetap menarik mempertanyakan
bagaimana agama-agama patriarkhal berkaitan dengan gambaran-gambaran feminim
pada level ketuhanan dan apakah perubahan dewa-dewa dapat dikaitkan dengan
perubahan posisi perempuan dalam masyarakat.
Yang tergolong dewa dalam Samitha
mencakup dewi-dewi dan apsara semi dewi, jumlahnya banyak akan tetapi relatif
tidak begitu penting. Beberapa di antaranya digambarkan sebagai (1) tokoh-tokoh
keindahan luar biasa seperti Usa, personifikasi fajar, seorang gadis yang di
beri ornamen dan dicuri yang menampakan dadanya kepada manusia (2) tokoh-tokoh
penting seperti sarvati dan vak. Dewi-dewi seperti aditi, saravati, raka, dan
sinivali dipuja agar memberi kekayaan perlindungan, keturunan dan umur panjang.
Prthivi, ibu bumi dimohon agar berlembut hati kepada orang mati, dan aditi di
minta untuk menjamin kelepasan dari dosa.
Sementara para dewi dikaitkan dengan
para dewa baik sebagai ibu, sauara perempuan, anak perenpuan dan istri, namun
hubungan yang disebut paling akhir yang umum dipakai. Hal ini berkembang dari
metafora pasangan suami istri sebagai sepasang fenomena alam seperti langit dan
bumi, atau langit dan bintang, dan juga dari perluasan sederhana konsep
pasangan menjadi pasangan dewa: dengan demikian munculah pasangan Indra dan
Indrani Varuna dan Varunani, serta Agni dan Agnayi. Sebernanya figur perempuan,
yang bukan dewi, merupakan standar perbandingan biasa dalam metafora dan kiasan
Weda. Bahkan apsara-apsara sekalipun, istri-istri Gandarva-Gandarva, yang
tinggal dalam air, awan, bintang dan terutama pohon-pohon disebut dengan merujuk
pada suatu dan kondisi pada manusia.
Sumbangan kitab-kitab Samhita kepada
psikologi keagamaan Hindu masa berikutnya adalah sebenarnya, tidaklah
berlebihan mengatakan bahwa banyaknya nilai dan gambaran yang dijelaskan di
atas, sekarang ada dalam pemikiran keagamaan perempuan Hindu tradisional.
Indikasi langsung perubahannya adalah pada upacara perkawinan itu sendiri, yang
didasarkan pada Rg.Weda 10:85ff[10].
Ringkasnya, tanpa agama Rg.Weda yang
memperkuat kehidupan, psikologi dan sosiologi keagamaan kalangan perempuan
Hindu akan sangat akan sangat berbeda.
B. Relasi
Kuasa Dewa-Dewa dan Dewi-Dewi
Kemunculan
mitologi Hindu sejak ribuan tahun lalu, hampir bersamaan dengan munculnya agama
Hindu. Mitologi ini diyakini muncul bersamaan ketika Weda mulai berkembang di
anak benua India. Pada saat itu lagu-lagu pujian pada Rig Weda (Weda pertama)
mulai dinyanyikan. Lagu tersebut memuji-muji alam dan unsur-unsurnya seperti Udara,
Air, Petir, Matahari, Api, dan sebagainya. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk
Dewa-dewa yang memiliki gelar masing-masing sesuai unsur Alam, seperti Bayu,
Baruna, Indra, Surya, Agni, dan sebagainya. Dewa-dewi inilah yang akan menjadi bagian
dari mitologi Hindu.
Pada zaman Weda,
pemujaan dan mitologi mengenai Dewa-Dewa merupakan pengetahuan akan ilmu pengetahuan.
Setelah zaman Weda, dilanjutkan oleh kebudayaan zaman Brahmana. Pada zaman ini,
ilmu Weda dikembangkan dengan pengetahuan akan upacara keagamaan. Zaman ini ditandai
dengan cenderungnya pelaksanaan upacara dari pada pengajaran filsafat. Pada zaman
ini mulai disusun kitab-kitab yang menceritamakan tentangmitologi, legenda,
kosmologi, dan sebagainya. Pada zaman Weda umat Hindu memohon anugrah dari para
Dewa, sedangkan pada zaman Brahmana para dewa memiliki kedudukan yang penting terutama
dalam sistem upacara. Reruntuhan jembatan kuno antara India dan Srilanka,
seperti terkisah dalam wiracarita Ramayana.
Zaman Purana merupakan perkembangan
dari kebudayaan terdahulu. Zaman ini merupakan masa-masa ketika mitologi Hindu
dihimpun. Pada zaman tersebut, Dewa-Dewi tersebut memiliki karakter khusus dan dilukiskan
secara detail. Pada zaman ini pula, terjadi kisah epos Ramayana dan Mahabarata,
yang dipercaya sebagai kejadian bersejarah. Pada epos Ramayana dikisahkan bahwa
Sri Rama dan bala tentaranya membangun sebuah jembatan dari India menuju Alengka
(kini Sri Langka). Reruntuhan jembatan kuno yang menghubungkan antara India dan
Sri Langka yang kini terpendam di dasar laut dianggap dan diyakini sebagai bukti
sejarahnya. Bukti arkeologi sangat dibutuhkan untuk meyakinkan apakah cerita tersebut
merupakan bagian dari sejarah atau mitologi belaka.[11]
Mitologi
Hindu tak lepas dari para makhluk supranatural, seperti misalnya Dewa, Asura,
Raksasa, Detya, Gandharwa, Yaksa, dan lain-lain. Makhluk supranatural yang
paling terkenal adalah Dewa, Asura, dan Raksasa. Dalam mitologi Hindu dikenal adanya
Dewa-dewi, yang mana Dewa-Dewi tersebut merupakan personifikasi dari alam atau sebagai
perwujudan dari gelar kemahakuasaan Tuhan. Kepercayaan tentang Dewa-Dewi dalam
agama Hindu sudah muncul sejak zaman Weda, yaitu pada masa agama Hindu baru berkembang.
Dewa-Dewi banyak disebut-sebut dalam Weda sebagai makhluk dibawah derajat Tuhan.
Pada zaman Weda, Dewa-Dewi banyak dipuja sebagai
pelindung diri manusia.
Para Dewa dan Dewi tinggal
menurut tempatnya masing-masing, seperti misalnya Dewa Siwadi gunung Kailasha,
DewaWisnu di Waikauntha, Dewa Brahma di Satyaloka dan sebagainya. Namun, atas sifat-sifat
gaib yang dimilikinya, para Dewa dan Dewi dapat muncul dengan cepat kapan saja dan
dimana saja sesuai dengan keinginan.
Dalam kebudayaan India,
penggambaran terhadap para Dewa dan Dewi dituangkan dalam bentuk pahatan, ukiran
dan lukisan sesuai dengan atributnya. Atribut yang dimiliki oleh para Dewa disesuaikan
dengan karakternya misalnya: Dewa Agni berambut Api, DewaWisnu bertangan empat dan
memegang cakram, Dewa Brahma berwajah empat, dan sebagainya.
Konsep Dewa Dewi
trimurti di sebut dengan sakti. Sakti (kekuatan, kekuasaan atau energi) adalah sebuah
konsep agama Hindu atau perwujudan dari aspek kewanitaan Tuhan,
kadangkala dianggap sebagai 'Ibu surgawi'. Sakti melambangkan keaktifan, asas
dinamis dari kekuatan feminim. Dalam Shaktisme, Sakti dipuja sebagai Dewi
yang utama, namun, dalam tradisi Hindu lainnya, Sakti penjelmaan dari energi
aktif atau kekuatan dari seorang Dewa (Purusha), seperti
misalnya Wisnu dalam Waisnawa atau Siwa dalam Saiwisme.
Saktinya Dewa Wisnu disebut Laksmi, dan Parwati merupakan
saktinya Dewa Siwa.
Dalam beberapa aliran, Sakti berasal dari Dewi Gayatri, Dewi saraswati ,
Dewi Pengetahuan, Sakti Dewa Brahma. Didunia ini , ada 3
Sakti Utama yaitu Dewi Parwati , Dewi Saraswati , dan
Dewi Laksmi.
Parwati adalah salah satu dewi dalam agama Hindu. Menurut mitologi Hindu, Parwati merupakan puteri dari raja gunung dari
Himalaya bernama Himawan, dan seorang apsari bernama Mena. Parwati dianggap
sebagai pasangan kedua dari Siwa, Dewa pelebur dan penghancur dalam agama
Hindu.Dalam perjalanan menuju Dewa Siwa , Parvati seringkali mendapat
kesulitan. Namun
, Parvati selalu tertolong oleh para Dewa. Parvati mempunyai 2 putra,yang menjadi dewa besar di Agama Hindu ,
yaitu Ganesha dan Agni.Namun
, beberapa meyakini , bahwa Agni bukan anak Parvati , melainkan Kartikeya lah anak dari Parwati.Dewi Parwati
sering disamakan dengan istri Siwa yang lain ,
yaitu Durga, Uma , Adi Shakti, Sati, dan Dewi Kali
Beberapa aliran meyakini parwati sebagai adik
dari Wisnu dan adik dari Gangga
banyak pengikut aliran filsafat Shakta meyakininya sebagai dewi yang
utama. Dalam susastra Hindu, Parwati juga dihormati sebagai perwujudan
dari Sati atau Durga. Dalam bahasa Sanskerta, kata Pārvatī berarti
"mata air pegunungan". Parwati juga dikenal dengan berbagai nama,
antara lain: Umā, Gaurī, Iswarī, Durgā, Ambikā, Girijā, dan lain lain.
Dalam beberapa foto, Dewi Parwati sering
digambarkan memegang Bunga Teratai dan Koin Emas .Dalam
beberapa foto yang lain, Dewi Parwati juga sering digambarkan memegang Kapak kecil dan ditemani 2 gajah, dan duduk
bersama Siwa dan Ganesha. Parwati juga merupakan perwujudan dari Durga, yang
bersenjatakan Trisula,Cakra,dan Sangkakala, serta menaiki wahana Singa atau Macan.
Saraswati adalah
salah satu dari tiga dewi utama dalam agama Hindu dua yang lainnya
adalah Dewi Sri (Laksmi) dan Dewi Uma (Durga). Saraswati adalah sakti
(istri) dari Dewa Brahman, Dewa Pencipta. Saraswati berasal dari akar
kata sr yang berarti mengalir. 8Dalam Regweda
V.75.3, Saraswati juga disebut sebagai Dewi Sungai,
disamping Gangga, Yamuna, dan lainnya
Saraswati adalah dewi yang dipuja dalam
agama weda. Nama Saraswati tercantum dalam Regweda dan juga dalam sastra
Purana (kumpulan ajaran dan mitologi Hindu). Ia adalah Dewi Ilmu
Pengetahuan dan Seni. Saraswati juga dipuja sebagai
Dewi Kebijaksanaan. Dalam aliran Wedanta, Saraswati di gambarkan sebagai
kekuatan feminin dan aspek pengetahuan — sakti —
dari Brahman. Sebagaimana pada zaman lampau, ia adalah dewi yang menguasai
ilmu ppengetahuan dan seni. Para penganut ajaran Wedanta meyakini,
dengan menguasai ilmu pengetahuan dan seni, adalah salah satu
jalan untuk mencapai moksa, pembebasan dari kelahiran kembali.
Dewi Laksmi Dalam agama Hindu, Laksmi adalah
dewi kekayaan, kesuburan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keadilan, dan
kebijaksanaan. Dalam kitab-kitab Purana
Dewi Laksmi adalah Ibu dari alam semesta, sakti dari Dewa . Dewi
Laksmi memiliki ikatan yang sangat erat dengan Dewa Wisnu. Dalam beberapa
inkarnasi Wisnu (Awatara) Dewi Laksmi ikut serta menjelma sebagai Sita (ketika Wisnu menjelma sebagai Rama), Rukmini (ketika Wisnu menjelma sebagai Kresna), dan Alamelu (ketika Wisnu menjelma sebagai Wenkateswara).
Dewi Laksmi disebut juga Dewi Uang. Ia juga disebut
"Widya", yang berarti pengetahuan, karena
Dia juga Dewi pengetahuan keagamaan. Ia juga dihubungkan dengan setiap
kebahagiaan yang terjadi di antara keluarga dan sahabat, perkawinan,
anak-anak, kekayaan, dan kesehatan yang menjadikannya Dewi yang
sangat terkenal di kalangan umat Hindu[12].
B.
Gender,
Sistem Kasta, dan Masyarakat yang Seksis
Dalam agama Hindu terdapat konsep “sati” sebagai keutamaan istri yang
mengorbankan dirinya untuk terjun ke dalam panasnya api yang membakar suaminya.
Konsep sati ini menggambarkan bahwa dalam ajaran Hindu, status “janda” itu tak
memberikan keberuntungan terhadap seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya
karena alasan apapun, dan merupakan sebuah perwujudan dari kesetiaan seorang
istri terhadap suami, tapi lambat laun tradisi ini dilarang oleh negara-negara. [13]
Wanita sebagai istri bukanlah
pendamping suami semata, tetapi hidup bersama untuk mensukseskan swadharma grhasta asrama, membina putra
menjadi suputra dan bersama-sama untuk mengabdi pada jagat. Sesungguhnya
wanita menurut pandangan Hindu sangat mulia, sejajar dengan laki-laki. Namun
dalam beberapa ketentuan adat-istiadat sering dijumpai wanita menjadi penggoda
laki-laki, atau hanya sebagai pelaksana kebijakan kaum laki-laki. Perbedaan
laki-laki dan perempuan hanyalah swadharma-nya.
Dengan adanya swadharma, kehidupan
makhluk di alam semesta ini dapat mencerminkan aktivitas yang dinamis,
seimbang, selaras, dan serasi. Kalau swadharma ini diubah oleh manusia sendiri,
hanya atas dasar kemajuan zaman, dan teknologi, itu sama dengan mengubah
kesadaran, keseimbangan dan keserasian alam terhadap isinya. Perubahan
kesadaran bisa timbul disharmoni dan akan berimplikasi negatif terhadap akhlak,
moral, budi dan perilaku manusia sehingga kehancuran tak terhindarkan hal ini
yang disebut kali yuga.
Masyarakat
Hindu mengkonsep adanya kasta-kasta atau yang disebut dengan catur warna. Kasta
dalam agama Hindu dibagi menjadi 4 kelas, Brahmana, Ksatria, Waisya, dan sudra.
Dalam hal ini marilah kita lihat teks berikut:
Catur-varnyam
maya srstam
Guna – karma – vibhagasah,
Tasya kartaram api mam
Viddy akartaram avyayam.
Artinya:
Catur warna
[empat tatanan masyarakat utama] adalah ciptaan-Ku menurut
pembagian kualitas dan kerja tetapi ketahuilah bahwa walaupun Aku penciptanya,
Aku tak berbuat dan merubah diriKu. [Bagawad Gita. IV. 13]
1. Kasta Bhramana merupakan kasta
tertinggi yang bertugas menjalankan upacara-upacara keagamaan. Adapun yg
termasuk kasta ini adalah para Brahmana.
2. Kasta Ksatria bertugas menjalankan
pemerintahan yang termasuk kasta ini adalah para raja, bang sawan, dan prajurit.
3. Kasta waisya dari golongan Pekerja,
seperti para petani dan pedagang.
4. Kasta sudra , merupakan kasta-kasta
yg paling rendah seperti Rakyat biasa (pekerja kasar).[14]
Selanjutnya, sebuah sistem kasta
yang dianut oleh pemeluk agama Hindu, tapi masih saja mengatur hubungan
perkawinan dengan interpretasi yang timpang.
Menurut
Panetje (1986:20), empat kasta dalam agama Hindu yang disebut catur
warna itu satu sama lain sangat terpisah. Seseorang masuk salah satu kasta itu
hanya karena keturunan melalui garis pancar laki-laki (purusa). “patrilineal”
Dalam
Hadiwijono (1982:131) disebutkan bahwa agama Hindu asli mengaitkan kasta dengan
kelahiran, demikian pula kasta di Bali. Menurutnya, keterangan tentang kasta
terdapat pula dalam Upadesa. Dalam Upadesa
disebutkan empat kasta yang disebut Catur Varna bukan menunjukkan kedudukan
atau status kelahiran. Akan tetapi, kata varna diterangkan sebagai
sifat dan bakat kelahiran dalam mengabdi pada masyarakat.[15]
Dalam masyarakat Hindu yang sangat
seksis bila keluarga belum melahirkan anak laki-laki, terasa ada yang kurang.
Karena dalam pandangan Hindu, putra (anak laki-laki) yang akan menyeberangkan
jiwa orangtua ke surga. Dalam agama Hindu, sejak awal kehidupan, perkawinan
merupakan salah satu lembaga efektif. Dalam Wreda Smerti disebutkan bahwa
hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan berusaha
dengan tidak jemu-jemu supaya mereka tidak bercerai dan jangan melanggar kesetiaan
antara satu dengan yang lain. Perkawinan hanya sekali dan jangan melanggar
kesetiaan.
Dalam Wreda Smerti juga disebutkan;
"Hendaknya hubungan suami istri setia sampai mati". Tetapi dalam
kenyataan masyarakat, kawin tidak hanya sekali, laki-laki bisa nikah dengan
wanita lain, maksimal empat orang.
Dalam Reg Wreda disebutkan bahwa
manusia laki-laki dan perempuan sebagai suami istri disebut dengan istilah
Dankapi yang berarti tidak bisa dipisahkan. Dalam perkawinan, laki-laki dan
perempuan adalah satu tubuh sehingga laki-laki dan perempuan dalam keluarga
seharusnya hidup dalam kesetaraan.
Sebagai pedoman berumahtangga, umat
Hindu ini diajarkan untuk harmoni, rukun, yang tertuang dalam tritakarana (tiga
penyebab kebahagiaan), yaitu; manusia harmoni dengan Tuhan, manusia harmoni
dengan sesama, manusia harmoni dengan lingkungan. Dan Sesungguhnya, ajaran
agama Hindu telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi terciptanya kesetaraan
gender antara perempuan dan pria.
C.
Feminis
Hindu: Perjuangan Melawan Ketidaksetaraan
Dalam Hindu, wanita
selalu diberikan kedudukan yang terhormat sejajar dengan laki-laki. Dimana saja
wanita dihormati disana. Keharmonisan akan tercipta dan sebaliknya, dimana
wanitanya tidak dihormati cepat atau lambat akan terjadi prahara di dalam rumah
tangga.
Wanita dikatakan
sebagai lambing utama cita-cita yang luhur dan utama dan sebagai barometer maju
mundurnya rumah tangga.Jadilah wanita yang bersifat mayurastri atau bersifat
seperti burung merak, yang mempunyai wibawa dan kharismatik sebagai seorang
wanita dan mampu memberikan pengayoman dan kesejukan dalam rumah tangga.Seorang
ibu telah berkorban lahir dan batin untuk kepentingan anak dan keluarga.Seorang
ibu sebagai peredam berbagai gejolak dalam rumah tangga, sebagai motivasi
menerima kelebihan dan kekurangan dalam keluarga.
Hari ibu, disinilah
peran seorang ibu sebagai ratu rumah tangga sangat dibutuhkan oleh
anak-anaknya, dan anggota keluarga yang lainnya.Dalam keluarga yang harmonis,
tiap hari anggota keluarga diajarkan saling mengeluarkan pemikiran yang
positif, anggota diajak sembahyang bersama dan diisi juga dengan berbagai
nasihat.[16]
Seorang ibu tidak sengaja dihormati pada
peringatan hari ibu, namun kita hendaknya mampu menghormati dan menempatkan
sesuai dengan tugas dan fungsinya.Seorang ibu mempunyai swadharma yang begitu
komplek dalam kehidupan ini. Dari mengandung anak, melahirkan, mendidik dan memberikan kehidupan
sehingga anaknya berhasil menjadi anak suputra, mendampingi suami dalam keadaan
apapun, mengatur rumah tangga dan sebagainya.Di samping peranan pokoknya
sebagai ibu rumah tangga (Dharmapatni) yang berkewajiban mendampingi suami,
mengasuh anak-anak dan menjalankan peran dan fungsinya sebagai ibu rumah
tangga.
Sesungguhnya kita
sebagai anak mempunyai utang yang sangat besar kepada orangtua yaitu Sarira krt
(yang menyebabkan badan ini ada), annadatta (yang memberi makan dan minum
selama kehidupan) dan pranadatta ( yang memberi hidup dan mengasuhnya). Tidak
ada kasih sayang yang melebihi kasih sayang ibu. Dari ibulah mengalir kasih pertama
yang meresapi tubuh kita. Kasih sayang ibu kepada anaknya sama rata, baik
anaknya yang mampu maupun yang tidak mampu.
Kaum wanita telah mampu
berkarma yang agung baik sebagai ibu rumah tangga, filosof, pujangga, kesatria,
sebagai soko guru kehidupan masyarakat dan Negara, menentukan tegaknya hokum
kebenaran (dharma) dan adat istiadat (dresta).Wanita sangat menentukan maju
mundurnya keluarga, masyarakat dan Negara bahkan sering dijadikan cermin
perkembangan keluarga, masyarakat dan Negara.Dengan demikian seorang ibu
hendaknya memperlihatkan wajah berseri-seri sehingga keharmonisan dan
kebahagiaan dalam keluarga menjadi terwujud.
Oka Rusmini (Tokoh
Feminis Hindu Bali) merupakan salah satu sosok sastrawan yang sangat
diperhitungkan hingga saat ini. Sosok dan karya-karyanya fenomenal dan
seringkali kontroversial karena mengangkat sejumlah persoalan adat-istiadat dan
tradisi Bali yang kolot dan merugikan perempuan, terutama di lingkungan griya,
rumah kaum Brahmana. Oka juga dengan lugas mendobrak tabu, mendedahkan
persoalan seks dan erotica secara gambling. Semuanya itu dengan jelas bias
dinikmati pada novel Tarian Bumi(2000) yang telah dicetak ulang dan terbit
berbahasa Jerman dengan judul Erdentanz (2007). Novel tersebut juga banyak
diilhami kesenian Joged Bumbung, tari pergaulan penuh gerakan erotis yang
sangat popular di Bali.[17]
Membaca
karya-karya Oka, dengan mudah bisa ditemui persoalan ketidakadilan, kekerasan
dan kekelaman yang dialami perempuan, termasuk dirinya.Tema-tema yang
seringkali menjadi bahan pemikiran dan perlawanan kaum feminis tersebut
cenderung menjadi tema sentral pada kebanyakan karya Oka, berkelindan dengan
berbagai rupa pesona erotica yang terdapat di dalamnya.
Metefora-Metafora yang
beraroma erotica tersebut bukanlah sesuatu yang membangkitkan syahwat kaum
laki-laki, melainkan persoalan kehancuran tubuh (perempuan), ketertindasan,
kekelaman, kepedihan tak terperikan, sakit hati dan dendam kesumat.Perhatikan
misalnya petikan puisi Oka yang dibuat pada tahun 1999 berjudul “Mekatu”.Kucurkan
pisau zakar sepuasmu.Tubuhku retak jadi remah-remah tembaga Anyir. Kauingat saat kau kawinkan malam, aku telanjang. Kau jilati tiap remas sisa kantuk. “Kita
Senggama.” Aku menjelma batu, penuh lubang.Mekatu(k) dalam Bahasa Bali berarti
senggama.
Oka mulai tertarik
mengangkat tema-tema erotisme ketika dia sadar apa arti tubuh perempuan. Namun
Oka sendiri mengaku tidak punya pandangan khusus tentang erotisme, meski
baru-baru ini dia menerbitkan antologi puisi berjudul Pandora (Grasindo, Mei
2008) yang bisa menjadi semacam filosofi tubuh perempuan. “proses menstruasi,
tumbuh lancer mengeja tubuh perempuan. Kalaupun karya-karya saya terkesan sadis
dan memilukan mungkin itu potret kehidupan perempuan kita,” ujar pengagum
peraih Nobel Sastra Wislawa Szymborska dan Gabriel Garcia Marques ini.
Karya-karya Oka yang
begitu keras mendrobrak tabu tradisi dan dengan gambling membicarakan tubuh
serta erotika tentu memunculkan riak-riak pertentangan dari keluarga, sejumlah
kawan, atau masyarakat yang membaca karyanya. “Mungkin mereka merasa terganggu.
Tapi saya biarkan saja.Toh pada akhirnya ketika mereka membaca karya saya
dengan baik, mereka akan mengakui kebenarannya dalam hati,” ujar perempuan yang
dalam kesehariannya selalu tampil ceria.[18]
Oka
dibesarkan dengan kultur Bali yang kuat, apalagi tumbuh dalam lingkungan
kehidupan griya yang dituntut berprilaku lebih tertib, sopan dan beradab; harus
pandai membuat perlengkapan upacara Agama Hindu dan sebagainya. Kakek dari
pihak ibunya adalah seorang lurah pada zaman Belanda yang mahir membaca
kita-kitab kuno dan memiliki ilmu gaib yang sering dipamerkan di depannya. Kakek dari pihak ayahnya adalah pembuat
pratima (acara-acara sakral).Nenek dari pihak ayahnya sangat hapal dengan
griyanya yang juga suka bercerita tentang seluk beluk ilmu hitam.Bagi Oka
semuanya itu merupakan pengalaman eksotis dan erotis.“Saya hidup dan dibesarkan
di sebuah keluarga Bali yang benar-benar paham arti menjadi Bali. Ini
mungkin yang memperkuat karya-karya saya.” Ujar perempuan kelahiran Jakarta, 11
Juli 1967 ini.
Oka telah banyak
mencecap pahit getir kehidupan. Dia tumbuh dari keluarga broken home. Sementara
secara struktur sosial keluarganya adalah pihak publik figur dalam masyarakat
Bali. Masa kanak-kanaknya lebih banyak dihabiskan di Jakarta. Ayah ibunya
bercerai ketika Oka masih kecil. Oka diasuh oleh ayahnya yang kemudian menikah
lagi. Ayah Oka seorang tentara dan sangat keras mendidiknya. Oka merasa ayahnya
berlaku tidak adil terhadap ibu kandungnya. Perlahan dendam terhadap lelaki
merasuki dirinya. Konflik batin selalu membayangi dan membentur perjalanan
hidupnya. Bahkan dia pernah memutuskan untuk tidak menikah.
Bersyukur buku harian dan
kegiatan-kegiatan sastra yang sering diikutinya menuntunnya menemukan jati diri.
Menjelang remaja Oka menetap di Denpasar, Bali. Namanya mulai dikenal publi
sastra di Bali ketika dia rajin mengirimkan puisi-puisinya keruang sastra Bali pos
yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Sejak SMP dan SMA, dia juga gemar menulis cerpen
dan cerbung remaja yang banyak di muat di Bali Pos. Bahkan novel Kenanga
(Terbit 2003) ditulisnya ketika masih SMA. Ketika duduk di SMP 1 Denpasar Oka
telah aktif di kegiatan sastra di sekolahnya dibawah naungan Sanggar Cipta Budaya
asuhan penyair GM Sukawidana yang juga merupakan guru bahasa Indonesia nya saat
itu. Puisi-puisi awalnya bisa dilihat dalam Rindu Anak Mendulang Kasih (1987),
sebuah buku kumpulan puisi karya anggota Sanggar Cipta Budaya dan mendapat perhatian
serius dari Fuad Hassan.[19]
Luka
lama kembali ketika ayahnya tidak mengijinkannya mengambilkuliah di jurusan sastra
Indonesia yang sangat diminatinya. Ayahnya menginginkan Oka kuliah di Fakultas
Kedokteran. Oka melawan keinginan ayahnya dengan resiko biaya kuliah tidak ditanggung.
Dia berjuang sendiri untuk menamatkan kuliahnya di jurusan sastra Indonesia,
Fakultas Sastra, Universitas Udayana.
“Mungkin tanpa terasa semua
pengalaman itu menetes dalam karya-karya saya. Tentu pengalaman hidup saya tidak
semuanya menarik dalam membenturkannya pada permasalahan lain yang dialami,
diskusi dengan sahabat-sahabat kreatif membuat karya-karya saya mungkin terlihat
lebih hidup, mungkin juga sakit,” jelas ibu dari Phasa Renaisan ini.
Oka Rusmini memutuskan meninggalkan
gelar Ida Ayu yang di sandangnya sejak terlahir sebagai keturunan Brahmana. Oka
merasa tidak pantas menyandang gelar terhormat. Hal itu juga dilakukannya sebagai
bentuk pemberontakan dan protesnya terhadap ketidakadilan menimpa kaum perempuan
di lingkungan griya, termasuk dirinya sendiri pemberontakannya semakin nyata ketika
Oka memutuskan menerima lamaran penyair Arif Bagus Prasetyo yang berbeda agama
dengan dirinya. Tentu saja pernikahan mereka ditentang keras oleh ayahnya dan keluarga
besar griya.[20]
Sebagai sastrawan, Oka
Rusmini pernah menerima berbagai penghargaan sastra, antara lain “Penghargaan Penulisan
Sastra 2003” dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. Dia juga
sering diundang dalam berbagai forum sastra nasional dan internasional, diantaranya
Festifal Sastra Winternachten di Den Haag dan Amsterdam, Belanda, sekaligus tampil
penulis tamu di Universitas Hamburg, Jerman, pada tahun 2003.
DAFTAR
PUSTAKA
Fauzan., Aris Dhiya’ul, Perbandigan Agama 3, Jakarta: 2016, h. 141-142.
Faur dan Herman, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses
dari http://mylindatugaskuliah.blogspot.co.id/2013/12/makalah-relasi-gender-dalam-agama-hindu.html pada tanggal 14
September2016 pukul 20.02 WIB.
Rofiqoh., Ifa Nur, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses
dari http://relasigenderfirstgroup.blogspot.co.id/2013/11/relasi-gender-dalam-agama-hindu.html
pada tanggal 14 September 2016 pukul 18.25 WIB.
Uzma., Siti Maliha, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses
dari https://relasigenderblog.wordpress.com/2014/12/09/161/
pata tanggal 14 Februari 2016 pukul 23.11 WIB.
Arvind Shamarta, perempuan dalam agama-agama dunia,Yogyakarta:
SUKA press 2006 h. 87-88
[1] Siti Maliha Uzma, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses
dari https://relasigenderblog.wordpress.com/2014/12/09/161/ pata tanggal 14 Februari 2016
pukul 23.11 WIB.
[2] Manawa Dharma Sastra merupakan sebuah sumber hukum peradaban umat
manusia bagi umat Hindu.
[3] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta: 2016, h. 141-142.
[4] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta: 2016, h. 142-143.
[5] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta: 2016, h. 144-145.
[6] Kitab-kitab
Weda merupakan himpunan kitab suci paling awal otoritatif bagi umat Hindu.
Terdiri atas Samhita-samhita(Rg, Yagur, Sama dan Atharwa Weda) dan
tambahan-tambahannya (kitab-kitab Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad) kitab-kitab
tadi biasanya dikatakan berasal dari tahun 1500-500 S.M)
[8] Shamarta Arvind,
perempuan dalam agama-agama dunia,Yogyakarta:
SUKA press 2006 h. 84-85
[9] Shamarta
Arvind, perempuan dalam agama-agama dunia,Yogyakarta:
SUKA press 2006 h. 86
[10] Shamarta
Arvind, perempuan dalam agama-agama dunia,Yogyakarta:
SUKA press 2006 h. 87-88
[11] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta: 2016, h. 145.
[13] Faur dan Herman, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses
dari http://mylindatugaskuliah.blogspot.co.id/2013/12/makalah-relasi-gender-dalam-agama-hindu.html pada tanggal 14 September2016 pukul 20.02 WIB.
[14] Faur dan Herman, Relasi
Gender dalam Agama Hindu, diakses dari http://mylindatugaskuliah.blogspot.co.id/2013/12/makalah-relasi-gender-dalam-agama-hindu.html pada tanggal 14 September2016 pukul 20.02 WIB.
[15] Ifa Nur Rofiqoh, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses
dari http://relasigenderfirstgroup.blogspot.co.id/2013/11/relasi-gender-dalam-agama-hindu.html pada tanggal 14 September 2016
pukul 18.25 WIB.
[16] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta: 2016, h. 146.
[17] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta: 2016, h. 146-147.
[18] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta: 2016, h. 147.
[19] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta:
2016, h. 148.
[20] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta: 2016, h. 148.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar