Kamis, 24 November 2016

Makalah Relasi Gender dalam Agama Hindu



RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU

Makalah
Diajukan untuk Memenuhi Nilai Matakuliah Relasi Gender


Dosen : Siti Nadroh, MA.
Disusun oleh :
Kelompok 9 ( IVA )
Adiba Zahrotul Wildah        ( 11140321000025 )
M. Munif Akbar                   ( 11140321000011)
M. Samtoni                          ( 11140321000014 )


JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016

KATA PENGANTAR


            Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat, karunia, serta kasih sayang terbesar-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Relasi Gender dalam Agama Hindu”.
            Makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Relasi Gender. Selain itu sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa/i dalam menyusun karya tulis.
            Kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sekalian demi memperbaiki makalah ini untuk penulisan lain di kemudian hari.
            Semoga makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua. Sekian dan terimakasih.



Ciputat, 15 September  2016

                                                                                                      Penulis


RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU

A.    Ketidaksetaraan Gender dalam Tradisi dan Teks-Teks Hindu
Dalam kehidupan berkeluarga, perempuan diposisikan sebagai ardhangana yaitu hanya memiliki setengah dari hak suami dan sahadharmini yaitu budak suami.Jika seorang suami terlebih dulu dari istrinya, maka secara teoritis perempuan mempunya dua pilihan yaitu melakukan sati (perempuan baik) atau menjanda.Ini merupakan pandangan dari Mahatma Gandhi sebagai bentuk ketidakpedulian tradisi Hindu terhadap eksistensi perempuan.[1]
Gender dalam Hindu diartikan sebagai perilaku yang membedakan antara perempuan dan laki-laki yang diharapkan dapat berperan dan bertindak sesuai ketentuan sosial, moral, etika, dan budaya karena perilaku dari segi-segi tersebut ada yang pantas dikerjakan oleh laki-laki saja atau perempuan saja, namun adapula yang pantas dikerjakan keduanya. Namun hakikatnya agama Hindu mengajarkan bahwa seluruh umat manusia diperlakukan sama dihadapan Tuhan sesuai dengan dharma bhaktinya.
Gerakan keadilan dan kesetaraan dalam Hindu seharusnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang didukung dengan budaya dan tradisi yang bermoral berdasarkan Dharma. Dalam konteks gerakan keadilan dan kesetaraan yang diungkap dalam Manawa Dharma Sastra yang merupakan satu-satunya kitab hukum yang mengatur kehidupan universal yang digunakan sebagai hukum Hindu hingga saat ini.
Yatra naryastu pujyante
Ramante tatra dewatah
Yatraitastu na pujyante
Sarwastalah kriyah


Artinya:
Dimana wanita dihormati, disana ada kebahagiaan dan kesejahteraan, dan dimana wanita tidak dihormati tidak ada pekerjaan yang menghasilkan [Manawa Dharma Sastra[2].III. 55)[3]
Apabila ayat ini menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, maka ketidaksetaraan gender tidak perlu dikhawatirkan, karena perempuan mempunyai tempat dimana mau tidak mau wajib dihormati oleh siapapun.Tatanan hidup yang bermoral disuatu tempat atau negara seharusnya dapat menempatkan posisi yang lebih dibanding laki-laki. Diuraikan dalam teks Hindu sebagai berikut:
Cocanti jamayo yatra
Winacyatyacu tatkulam
Na cocanti tu yatraita
Wardhate taddhi sarwada.
Artinya:
Dimana warga wanitanya hidup dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, tetapi dimana wanita tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia.
Kekerasan terhadap perempuan seperti merampas hak-hak perempuan merupakan tindakan yang menempatkan perempuan pada posisi yang sangat tidak dihormati dan kebahagiaan hidup pun tidak dapat diperoleh keluarganya.Tidak ada alasan apapun untuk tidak menghormati wanita dan tidak diberikan haknya secara penuh, apalagi sampai memperlakukan wanita dengan kekerasan. Sebagaimana dalam Manawa Dharma Sastra dikatakan sebagai berikut:
Na kaccitdyositah bhaktah
Parahya parisaksitum
Etairupa yogaistu cakyasta
Pariraksitam.
 

Artinya:
Tak seorang laki-laki pun dapat menjaga wanita dengan kekerasan, tetapi ia dapat dijaga dengan cara-cara sebagai berikut, [Manawa Dharma Sastra.IX.10]
AraKsita grhe ruddhah
Purusairap takaribhih
Atmanam atmanayastu
Rakseyustah syraksitah.
Artinya:
Wanita yang tetap tinggal dirumah, dipercayakan dibawah kepercayaan dan pembantu-pembantu yang setia tidaklah terjaga baik tetapi mereka yang atas kemauan mereka menjaga diri mereka sendiri adalah terjaga baik. [Manawa Dharma Sastra.IX.12][4]
Wanita tidak seharusnya dijaga dengan batasan-batasan norma apapun tanpa persetujua dan kesadaran perempuan tersebut. Menurut hukum Hindu, perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama sederajat, bahkan perempuan diberi keistimewaan tersendiri. Kewajiban laki-laki adalah menjaga dan mengembalikan kehormatan seorang wanita yang apabila jatuh moralnya dengan cara yang bijaksana dengan menjadikannya istri yang utama. Jadi apabila perempuan diwajibkan untuk dihormati, maka perempuan memiliki tanggung jawab untuk menjaga etika dan moralnya sendiri karena apabila seorang perempuan jatuh moralya, maka akan berakibat pada penderitaan dan kehancuran.
Panam durjana samsargah
Patya ca wirako’tanam
Swapno nya geha wasacca
Narisamdursanani sat.
Artinya:
Meminum-minuman keras, bergaul dengan orang-orang jahat, berpisah dari suami, tidur pada jam-jam tidak layak, mengembara keluar daerah, berdiam di rumah laki-laki lain adalah enam sebab jatuhnya seorang wanita yang menyebabkan kehancuran. [Manawa Dharma Sastra.IX.13]
Terlepas dari tingginya posisi perempuan menurut hukum Hindu, perlakuan terhadap perempuan Hindu dalam tatanan hidup masyarakat sangat diikat oleh dogma adat dan warisan budaya yang sangat membatasi ruang gerak para perempuan mendapatkan hak-haknya. Apalagi dengan dibentuknya lembaga adat disetiap wilayah administrasi sebagai wujud integritas keadatan. Seharusnya kehadiran lembaga adat memberikan ruang yang lebih luas kepada perempuan sekaligus  memberikan jaminan akan terpenuhinya hak-hak perempuan dan kaum minoritas, bukan malah sebaliknya.
Dalam ayat yang sudah ditulis sebelumnya yaitu dalam Manawa Dharma Sastra IX.10 dan 12 yang menjelaskan bahwa perempuan itu istimewa, terhormat, dan mulia yang seharusnya dijaga oleh laki-laki dengan cara-cara yang dikehendaki. Namun, ayat ini justru disalah artikan oleh pihak yang lebih mengutamakan egoistik aturan adat dengan menafsirkan ayat tersebut bahwa perempuan harus dijaga dengan aturan adat yang ketat untuk menjaga kehormatan pribadi maupun keluarga. Semestinya aturan adat menunjang pelaksanaan kaidah-kaidah dan hukum agama Hindu agar kehidupan beragama menjadi lebih toleran dan menjamin kebahagiaan lahir dan batin umatnya, bukan sebaliknya. Aturan adat yang seharusnya memberikan kenyamanan dan kesejahteraan bagi umatnya, justru cenderung membelenggu kaumnya khususnya perempuan. Jadi aturan adat yang membelenggu kehidupan masyarakatnya secara perlahan-lahan akan menjadi bumerang dan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri.[5]
            Dalam teks-teks Samhita orang-orang Arya datang ke India pada milenium kedua sebelum masehi membawa tradisi keluarga Indo-Eropa yang patrilineal dan patrilokal. Agama mereka, seperti terlihat dalam Rg.weda[6], memiliki ciri patriarkhal, etnis, perorientasi keluarga dan mempertahankan hidup. Tujuan hidup mereka adalah mempertahankan dominasi laki-laki dan identitas bangsa Arya disamping itu juga hasrat untuk memperoleh keturunan, kemakmuran serta panjang umur, dan ritual-ritual keagamaan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut didasarkan terutama kepada keluarga. Disamping dominasi laki-laki, perempuan sebagai istri dan ibu juga penting untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut lagi pula, peranannya dalam keluarga dan ritual-ritual dikaitkan dengan pemeliharaan tata tertib sosial dan alam tentu saja dapat ditegaskan bahwa agama Weda memberikan penghargaan baik terhadap feminitas maupun komplementaritas (saling melengkapi) antara suami dan istri, sekalipun masih dalam struktur yang bersifat partrialkhal. Penghargaan ini barangkali merupakan suatu pembaharuan sistem patriarki yang terdapat konteks Indo-Eropa sebelumnya. Perubahan semantik istilah dampati menggambarkan hal ini dengan baik, karna awalnya arti kata tersebut adalah tuan rumah dikalangan Indo-Eropa, namun di India maknanya berubah menjadi “Pasangan”, suami dan istri (shastri 1969,18)[7].
            Peranan ideal perempuan umumnya dapat dipelajari dari gambaran tentang gadis dan pengantin perempuan. Dalam Rg.Weda anak perempuan (duhita) dan gadis (kanya) dipuji karena cantik wajah yang berseri-seri, dandanan menarik, senyum manis, pinggul yang sintal dan paha yang besar. Deskripsi ini menunjukkan adanya internest pada daya tarik sensualitas feminim dan kemampuan seorang perempuan untuk melahirkan anak. Dalam festival pertemuan (samana), seorang gadis-gadis muda bertemu laki-laki pilihan mereka pasangan yang saling tertarik tadi, setelah mengikat hubungan, menghadap orang tua mereka untuk mendapatkan persetujuan dan merencanakan perkawinan. Meski ada kesempatan untuk menjalin hubungan percintaan, tidak seperti di masa-masa kemudian, dapat diduga bahwa seorang gadis, seperti yang terungkap dari penjelasan tentang upacara berikut, akan diawasi dan dijaga ketat oleh orang tuanya, karena seorang pengantin perempuan harus perawan.
            Upacara perkawinan dijelaskan dengan gamblang dalam Rg.Weda X.85ff. (Sarasvati dan Vidyalankar 1977,37). Hal ini yang patut dicatat adalah doa yang ditunjukkan kepada Visvavasu, pelindung gadis-gadis perawan, agar memindahkan penjagaannya kepada yang lain. Pengantin perempuan, yang disebut dengan “orang yang beruntung” (sumangali) dan “menguntungkan) “siva”, dihiasi dengan ornamen-ornamen. Doa-doa ditunjukkan kepada dewa-dewa agar pasangan pengantin mendapatkan kebahagiaan (saubhagatva), bersama-sama mencapai umur yang panjang, kemakmuran, memiliki keturunan dan kesauan hati. Disamping itu, nasehat praktis diberikan kepada pengantin perempuan. Dia tidak boleh marah atau benci kepada suaminya; harus lembut, ramah, gembira, melahirkan anak laki-laki, mengasihi para dewa, memberikan kebahagiaan, membawa berkah bagi hewan-hewan dan menjadi ratu bagi iparnya. Istilah jaya (orang yang ikut merasakan perasaan suami), jani (ibu anak-anak), dan patni (partner dalam melakukan berbagai ritual atau yajna) menjadi ciri peranan perempuan dalam Rg.Weda (Shastri 1969,16)
              Karena agama, yang dimaksudkan untuk memenuhi kesejahteraan keluarga, dipusatkan dirumah yaitu, dewa-dewa diundang untuk mengunjungi dan menerima hadiah disana – makan istri hadir dalam peristiwa-peristiwa  ini dan berpartisipasi di dalamnya melalui himne-himne pujian dan sikap-sikap yang ramah. baik ritual domestik maupun ritual publik menekankan kehadiran bersama suami dan istri. Pasangan  suami istri, yang ingin sekali memuaskan-Mu dan mempersembahkan pemberian-pemberian bersama-sama merayakan (pemujaan terhadapMu), demi (memperoleh) sejumlah ternak (Rg.Weda 1.131.3,Shastri 1969,17)
               Dewa-dewa bersifat reseptif terutama terhadap keluarga, yang definisi minimalnya mencakup suami istri. Dengan kata lain, kehadiran istri diperlukan untuk menghadirkan dewa-dewa, dan rumah dipandang menguntungkan (subha) hanya dengan adanya suami-istri. Tentu saja kesempurnaan hidup (kebahagiaan, kekayaan dan kesejahteraan), pencapaian keabadian (versi surgawi hidup ini), dan bahkan tata tertib alam dan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari konteks tersebut. Misalnya: (demi keabadian, kesatuan pribadi yang menyenangkan, mereka (istri dan suami) memuja dewa-dewa. (Rg.Weda VIII.31.Saraswati dan Vidyalankar 1977,42))[8]
                   Meskipun perempuan sebagai istri dan ibu dimuliakan, namun suami tetap memiliki peranan yang dominan, karena sebagai kepalarumah tangga patriakhal, dia adalah tuan rumah bagi tamu-tamu dan dewa-dewa, dan bertanggung jawab terutama untuk menyenangkan mereka, sehingga para dewaberkenanmemberikan hadiah-hadiah kepada keluarga tersebut. Menurut Weda, perempuan tidak lebihdari seorang partner yang ikut membantu, meskipun tidak terlibat secara aktif (silent partner), dalam ritual-ritual Weda. Hal ini dikarenakan alesan bahwa dewa-dewa tidak mungkin diabaikan dan tidak diperhatikan. Jadi, jika semua laki-laki berada dirumah, maka secara logis dapat dikatakan (meskipun sulit membuktikannya secara tekstual) bahwa istri melakukan peran ritual menjamu tamu. Disamping tugas rutinnya sebagai penjaga api rumah (yang dipandang tidak boleh padam dan dipandang sebagai; Dewi Agni, “mulut para dewa”, yang menerima persembahan anggur, padi dan pemberian-pemberian lain), istri mungkin juga melakukan ritual harian (menggantikan peranan laki-laki) bila laki-laki sebagai kepala rumah tangga tidak berada diruamah. Dengandemikian istri mempunyai sedikit andil dan keahlian dalam ritual,yang dalam beberapa hal, masih relatif simple dewasa ini. Selain itu, ada bukti menunjukan bahwa menyanyikan himne-himne (Sama Weda) merupakan keahlian khusus perempuan yang terampil bermain musik. (Upadhaya 1974, 185; Basu 1969, 40). Dengan demikian, citra yang muncul kemudian mengenai brahmavadini (seorang perempuan yang membaca teks-teks suci), yang mengaitkan perempuan dengan api dan himne-himne Weda, memperlihatkan adanya kesinambungan sejak periode Weda[9].
              Tradisi Hindu telah menyebutkan beberapa perempuan dalam Rg.Weda tidak hanya sebagai penyitir dan penyanyi himne-himne tetapi juga sebagai peramal-peramal (rsis; penyair agama yang dihormati dimasa itu, yang kemudian dipahami sebagai perantara penerima wahyu Weda). Kenyataan bahwa paling tidak terdapat beberapa perempuan peramal jelas tidak diragukan, akan tetapi tradisi tersebut mungkin terlalu melebih-lebihkan jumlah dengan memberikan status rsika kepada tokoh-tokoh perempuan yang hanya disinggung namanya dalam suatu himne. (Shastri 1969, 23-30)
                Sementara kini secara umum diakui bahwa tidak harus ada hubungan antara status perempuan dalam suatu agama dengan hadir atau tidaknya dewi-dewi, namun tetap menarik mempertanyakan bagaimana agama-agama patriarkhal berkaitan dengan gambaran-gambaran feminim pada level ketuhanan dan apakah perubahan dewa-dewa dapat dikaitkan dengan perubahan posisi perempuan dalam masyarakat.
            Yang tergolong dewa dalam Samitha mencakup dewi-dewi dan apsara semi dewi, jumlahnya banyak akan tetapi relatif tidak begitu penting. Beberapa di antaranya digambarkan sebagai (1) tokoh-tokoh keindahan luar biasa seperti Usa, personifikasi fajar, seorang gadis yang di beri ornamen dan dicuri yang menampakan dadanya kepada manusia (2) tokoh-tokoh penting seperti sarvati dan vak. Dewi-dewi seperti aditi, saravati, raka, dan sinivali dipuja agar memberi kekayaan perlindungan, keturunan dan umur panjang. Prthivi, ibu bumi dimohon agar berlembut hati kepada orang mati, dan aditi di minta untuk menjamin kelepasan dari dosa.
            Sementara para dewi dikaitkan dengan para dewa baik sebagai ibu, sauara perempuan, anak perenpuan dan istri, namun hubungan yang disebut paling akhir yang umum dipakai. Hal ini berkembang dari metafora pasangan suami istri sebagai sepasang fenomena alam seperti langit dan bumi, atau langit dan bintang, dan juga dari perluasan sederhana konsep pasangan menjadi pasangan dewa: dengan demikian munculah pasangan Indra dan Indrani Varuna dan Varunani, serta Agni dan Agnayi. Sebernanya figur perempuan, yang bukan dewi, merupakan standar perbandingan biasa dalam metafora dan kiasan Weda. Bahkan apsara-apsara sekalipun, istri-istri Gandarva-Gandarva, yang tinggal dalam air, awan, bintang dan terutama pohon-pohon disebut dengan merujuk pada suatu dan kondisi pada manusia.
            Sumbangan kitab-kitab Samhita kepada psikologi keagamaan Hindu masa berikutnya adalah sebenarnya, tidaklah berlebihan mengatakan bahwa banyaknya nilai dan gambaran yang dijelaskan di atas, sekarang ada dalam pemikiran keagamaan perempuan Hindu tradisional. Indikasi langsung perubahannya adalah pada upacara perkawinan itu sendiri, yang didasarkan pada Rg.Weda 10:85ff[10].
            Ringkasnya, tanpa agama Rg.Weda yang memperkuat kehidupan, psikologi dan sosiologi keagamaan kalangan perempuan Hindu akan sangat akan sangat berbeda.
B. Relasi Kuasa Dewa-Dewa dan Dewi-Dewi
Kemunculan mitologi Hindu sejak ribuan tahun lalu, hampir bersamaan dengan munculnya agama Hindu. Mitologi ini diyakini muncul bersamaan ketika Weda mulai berkembang di anak benua India. Pada saat itu lagu-lagu pujian pada Rig Weda (Weda pertama) mulai dinyanyikan. Lagu tersebut memuji-muji alam dan unsur-unsurnya seperti Udara, Air, Petir, Matahari, Api, dan sebagainya. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk Dewa-dewa yang memiliki gelar masing-masing sesuai unsur Alam, seperti Bayu, Baruna, Indra, Surya, Agni, dan sebagainya. Dewa-dewi inilah yang akan menjadi bagian dari mitologi Hindu.
Pada zaman Weda, pemujaan dan mitologi mengenai Dewa-Dewa merupakan pengetahuan akan ilmu pengetahuan. Setelah zaman Weda, dilanjutkan oleh kebudayaan zaman Brahmana. Pada zaman ini, ilmu Weda dikembangkan dengan pengetahuan akan upacara keagamaan. Zaman ini ditandai dengan cenderungnya pelaksanaan upacara dari pada pengajaran filsafat. Pada zaman ini mulai disusun kitab-kitab yang menceritamakan tentangmitologi, legenda, kosmologi, dan sebagainya. Pada zaman Weda umat Hindu memohon anugrah dari para Dewa, sedangkan pada zaman Brahmana para dewa memiliki kedudukan yang penting terutama dalam sistem upacara. Reruntuhan jembatan kuno antara India dan Srilanka, seperti terkisah dalam wiracarita Ramayana.
Zaman Purana merupakan perkembangan dari kebudayaan terdahulu. Zaman ini merupakan masa-masa ketika mitologi Hindu dihimpun. Pada zaman tersebut, Dewa-Dewi tersebut memiliki karakter khusus dan dilukiskan secara detail. Pada zaman ini pula, terjadi kisah epos Ramayana dan Mahabarata, yang dipercaya sebagai kejadian bersejarah. Pada epos Ramayana dikisahkan bahwa Sri Rama dan bala tentaranya membangun sebuah jembatan dari India menuju Alengka (kini Sri Langka). Reruntuhan jembatan kuno yang menghubungkan antara India dan Sri Langka yang kini terpendam di dasar laut dianggap dan diyakini sebagai bukti sejarahnya. Bukti arkeologi sangat dibutuhkan untuk meyakinkan apakah cerita tersebut merupakan bagian dari sejarah atau mitologi belaka.[11]
Mitologi Hindu tak lepas dari para makhluk supranatural, seperti misalnya Dewa, Asura, Raksasa, Detya, Gandharwa, Yaksa, dan lain-lain. Makhluk supranatural yang paling terkenal adalah Dewa, Asura, dan Raksasa. Dalam mitologi Hindu dikenal adanya Dewa-dewi, yang mana Dewa-Dewi tersebut merupakan personifikasi dari alam atau sebagai perwujudan dari gelar kemahakuasaan Tuhan. Kepercayaan tentang Dewa-Dewi dalam agama Hindu sudah muncul sejak zaman Weda, yaitu pada masa agama Hindu baru berkembang. Dewa-Dewi banyak disebut-sebut dalam Weda sebagai makhluk dibawah derajat Tuhan. Pada zaman Weda, Dewa-Dewi banyak dipuja sebagai pelindung diri manusia.
Para Dewa dan Dewi tinggal menurut tempatnya masing-masing, seperti misalnya Dewa Siwadi gunung Kailasha, DewaWisnu di Waikauntha, Dewa Brahma di Satyaloka dan sebagainya. Namun, atas sifat-sifat gaib yang dimilikinya, para Dewa dan Dewi dapat muncul dengan cepat kapan saja dan dimana saja sesuai dengan keinginan.
Dalam kebudayaan India, penggambaran terhadap para Dewa dan Dewi dituangkan dalam bentuk pahatan, ukiran dan lukisan sesuai dengan atributnya. Atribut yang dimiliki oleh para Dewa disesuaikan dengan karakternya misalnya: Dewa Agni berambut Api, DewaWisnu bertangan empat dan memegang cakram, Dewa Brahma berwajah empat, dan sebagainya.
Konsep Dewa Dewi trimurti di sebut dengan sakti. Sakti (kekuatan, kekuasaan atau energi) adalah sebuah konsep agama Hindu atau perwujudan dari aspek kewanitaan Tuhan, kadangkala dianggap sebagai 'Ibu surgawi'. Sakti melambangkan keaktifan, asas dinamis dari kekuatan feminim. Dalam Shaktisme, Sakti dipuja sebagai Dewi yang utama, namun, dalam tradisi Hindu lainnya, Sakti penjelmaan dari energi aktif atau kekuatan dari seorang Dewa (Purusha), seperti misalnya Wisnu dalam Waisnawa atau Siwa dalam Saiwisme. Saktinya Dewa Wisnu disebut Laksmi, dan Parwati merupakan saktinya Dewa Siwa. Dalam beberapa aliran, Sakti berasal dari Dewi Gayatri, Dewi saraswati , Dewi Pengetahuan, Sakti Dewa Brahma. Didunia ini , ada 3 Sakti Utama yaitu Dewi Parwati , Dewi Saraswati , dan Dewi Laksmi.
Parwati adalah salah satu dewi dalam agama Hindu. Menurut mitologi Hindu, Parwati merupakan puteri dari raja gunung dari Himalaya bernama Himawan, dan seorang apsari bernama Mena. Parwati dianggap sebagai pasangan kedua dari Siwa, Dewa pelebur dan penghancur dalam agama Hindu.Dalam perjalanan menuju Dewa Siwa , Parvati seringkali mendapat kesulitan. Namun , Parvati selalu tertolong oleh para Dewa. Parvati mempunyai 2 putra,yang menjadi dewa besar di Agama Hindu , yaitu Ganesha dan Agni.Namun , beberapa meyakini , bahwa Agni bukan anak Parvati , melainkan Kartikeya lah anak dari Parwati.Dewi Parwati sering disamakan dengan istri Siwa yang lain , yaitu Durga, Uma , Adi Shakti, Sati, dan Dewi Kali
Beberapa aliran meyakini parwati sebagai adik dari Wisnu dan adik dari Gangga banyak pengikut aliran filsafat Shakta meyakininya sebagai dewi yang utama. Dalam susastra Hindu, Parwati juga dihormati sebagai perwujudan dari Sati atau Durga. Dalam bahasa Sanskerta, kata Pārvatī berarti "mata air pegunungan". Parwati juga dikenal dengan berbagai nama, antara lain: UmāGaurīIswarīDurgāAmbikāGirijā, dan lain lain.
Dalam beberapa foto, Dewi Parwati sering digambarkan memegang Bunga Teratai dan Koin Emas .Dalam beberapa foto yang lain, Dewi Parwati juga sering digambarkan memegang Kapak kecil dan ditemani 2 gajah, dan duduk bersama Siwa dan Ganesha. Parwati juga merupakan perwujudan dari Durga, yang bersenjatakan Trisula,Cakra,dan Sangkakala, serta menaiki wahana Singa atau Macan.
Saraswati adalah salah satu dari tiga dewi utama dalam agama Hindu dua yang lainnya adalah Dewi Sri (Laksmi) dan Dewi Uma (Durga). Saraswati adalah sakti (istri) dari Dewa Brahman, Dewa Pencipta. Saraswati berasal dari akar kata sr yang berarti mengalir. 8Dalam Regweda V.75.3, Saraswati juga disebut sebagai Dewi Sungai, disamping Gangga, Yamuna, dan lainnya
Saraswati adalah dewi yang dipuja dalam agama weda. Nama Saraswati tercantum dalam Regweda dan juga dalam sastra Purana (kumpulan ajaran dan mitologi Hindu). Ia adalah Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni. Saraswati juga dipuja sebagai Dewi Kebijaksanaan. Dalam aliran Wedanta, Saraswati di gambarkan sebagai kekuatan feminin dan aspek pengetahuan — sakti — dari Brahman. Sebagaimana pada zaman lampau, ia adalah dewi yang menguasai ilmu ppengetahuan dan seni. Para penganut ajaran Wedanta meyakini, dengan menguasai ilmu pengetahuan dan seni, adalah salah satu jalan untuk mencapai moksa, pembebasan dari kelahiran kembali.
Dewi Laksmi Dalam agama Hindu, Laksmi adalah dewi kekayaan, kesuburan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keadilan, dan kebijaksanaan. Dalam kitab-kitab Purana Dewi Laksmi adalah Ibu dari alam semesta, sakti dari Dewa . Dewi Laksmi memiliki ikatan yang sangat erat dengan Dewa Wisnu. Dalam beberapa inkarnasi Wisnu (Awatara) Dewi Laksmi ikut serta menjelma sebagai Sita (ketika Wisnu menjelma sebagai Rama), Rukmini (ketika Wisnu menjelma sebagai Kresna), dan Alamelu (ketika Wisnu menjelma sebagai Wenkateswara).
Dewi Laksmi disebut juga Dewi Uang. Ia juga disebut "Widya", yang berarti pengetahuan, karena Dia juga Dewi pengetahuan keagamaan. Ia juga dihubungkan dengan setiap kebahagiaan yang terjadi di antara keluarga dan sahabat, perkawinan, anak-anak, kekayaan, dan kesehatan yang menjadikannya Dewi yang sangat terkenal di kalangan umat Hindu[12].

B.     Gender, Sistem Kasta, dan Masyarakat yang Seksis
Dalam agama Hindu terdapat konsep “sati” sebagai keutamaan istri yang mengorbankan dirinya untuk terjun ke dalam panasnya api yang membakar suaminya. Konsep sati ini menggambarkan bahwa dalam ajaran Hindu, status “janda” itu tak memberikan keberuntungan terhadap seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya karena alasan apapun, dan merupakan sebuah perwujudan dari kesetiaan seorang istri terhadap suami, tapi lambat laun tradisi ini dilarang oleh negara-negara. [13]
Wanita sebagai istri bukanlah pendamping suami semata, tetapi hidup bersama untuk mensukseskan swadharma grhasta asrama, membina putra menjadi suputra dan bersama-sama untuk mengabdi pada jagat. Sesungguhnya wanita menurut pandangan Hindu sangat mulia, sejajar dengan laki-laki. Namun dalam beberapa ketentuan adat-istiadat sering dijumpai wanita menjadi penggoda laki-laki, atau hanya sebagai pelaksana kebijakan kaum laki-laki. Perbedaan laki-laki dan perempuan hanyalah swadharma-nya.
Dengan adanya swadharma, kehidupan makhluk di alam semesta ini dapat mencerminkan aktivitas yang dinamis, seimbang, selaras, dan serasi. Kalau swadharma ini diubah oleh manusia sendiri, hanya atas dasar kemajuan zaman, dan teknologi, itu sama dengan mengubah kesadaran, keseimbangan dan keserasian alam terhadap isinya. Perubahan kesadaran bisa timbul disharmoni dan akan berimplikasi negatif terhadap akhlak, moral, budi dan perilaku manusia sehingga kehancuran tak terhindarkan hal ini yang disebut kali yuga.
     Masyarakat Hindu mengkonsep adanya kasta-kasta atau yang disebut dengan catur warna. Kasta dalam agama Hindu dibagi menjadi 4 kelas, Brahmana, Ksatria, Waisya, dan sudra. Dalam hal ini marilah kita lihat teks berikut:
Catur-varnyam maya srstam
Guna – karma – vibhagasah,
Tasya kartaram api mam
Viddy akartaram avyayam.
Artinya:
Catur warna [empat tatanan masyarakat utama]  adalah ciptaan-Ku menurut pembagian kualitas dan kerja tetapi ketahuilah bahwa walaupun Aku penciptanya, Aku tak berbuat dan  merubah diriKu. [Bagawad Gita. IV. 13]
1.      Kasta Bhramana merupakan kasta tertinggi yang bertugas menjalankan upacara-upacara keagamaan. Adapun yg termasuk kasta ini adalah para Brahmana.
2.      Kasta Ksatria bertugas menjalankan pemerintahan yang termasuk kasta ini adalah para raja, bang sawan, dan prajurit.
3.      Kasta waisya dari golongan Pekerja, seperti para petani dan pedagang.
4.      Kasta sudra , merupakan kasta-kasta yg paling rendah seperti Rakyat biasa (pekerja kasar).[14]
Selanjutnya, sebuah sistem kasta yang dianut oleh pemeluk agama Hindu, tapi masih saja mengatur hubungan perkawinan dengan interpretasi yang timpang.
Menurut Panetje (1986:20), empat kasta dalam agama Hindu yang disebut catur warna itu satu sama lain sangat terpisah. Seseorang masuk salah satu kasta itu hanya karena keturunan melalui garis pancar laki-laki (purusa). “patrilineal”
Dalam Hadiwijono (1982:131) disebutkan bahwa agama Hindu asli mengaitkan kasta dengan kelahiran, demikian pula kasta di Bali. Menurutnya, keterangan tentang kasta terdapat pula dalam  Upadesa. Dalam  Upadesa disebutkan empat kasta yang disebut Catur Varna bukan menunjukkan kedudukan atau status kelahiran. Akan tetapi, kata  varna diterangkan sebagai sifat dan bakat kelahiran dalam mengabdi pada masyarakat.[15]
Dalam masyarakat Hindu yang sangat seksis bila keluarga belum melahirkan anak laki-laki, terasa ada yang kurang. Karena dalam pandangan Hindu, putra (anak laki-laki) yang akan menyeberangkan jiwa orangtua ke surga. Dalam agama Hindu, sejak awal kehidupan, perkawinan merupakan salah satu lembaga efektif. Dalam Wreda Smerti disebutkan bahwa hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan berusaha dengan tidak jemu-jemu supaya mereka tidak bercerai dan jangan melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain. Perkawinan hanya sekali dan jangan melanggar kesetiaan.
Dalam Wreda Smerti juga disebutkan; "Hendaknya hubungan suami istri setia sampai mati". Tetapi dalam kenyataan masyarakat, kawin tidak hanya sekali, laki-laki bisa nikah dengan wanita lain, maksimal empat orang.
Dalam Reg Wreda disebutkan bahwa manusia laki-laki dan perempuan sebagai suami istri disebut dengan istilah Dankapi yang berarti tidak bisa dipisahkan. Dalam perkawinan, laki-laki dan perempuan adalah satu tubuh sehingga laki-laki dan perempuan dalam keluarga seharusnya hidup dalam kesetaraan.
Sebagai pedoman berumahtangga, umat Hindu ini diajarkan untuk harmoni, rukun, yang tertuang dalam tritakarana (tiga penyebab kebahagiaan), yaitu; manusia harmoni dengan Tuhan, manusia harmoni dengan sesama, manusia harmoni dengan lingkungan. Dan Sesungguhnya, ajaran agama Hindu telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi terciptanya kesetaraan gender antara perempuan dan pria.


C.    Feminis Hindu: Perjuangan Melawan Ketidaksetaraan
Dalam Hindu, wanita selalu diberikan kedudukan yang terhormat sejajar dengan laki-laki. Dimana saja wanita dihormati disana. Keharmonisan akan tercipta dan sebaliknya, dimana wanitanya tidak dihormati cepat atau lambat akan terjadi prahara di dalam rumah tangga.
Wanita dikatakan sebagai lambing utama cita-cita yang luhur dan utama dan sebagai barometer maju mundurnya rumah tangga.Jadilah wanita yang bersifat mayurastri atau bersifat seperti burung merak, yang mempunyai wibawa dan kharismatik sebagai seorang wanita dan mampu memberikan pengayoman dan kesejukan dalam rumah tangga.Seorang ibu telah berkorban lahir dan batin untuk kepentingan anak dan keluarga.Seorang ibu sebagai peredam berbagai gejolak dalam rumah tangga, sebagai motivasi menerima kelebihan dan kekurangan dalam keluarga.
Hari ibu, disinilah peran seorang ibu sebagai ratu rumah tangga sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya, dan anggota keluarga yang lainnya.Dalam keluarga yang harmonis, tiap hari anggota keluarga diajarkan saling mengeluarkan pemikiran yang positif, anggota diajak sembahyang bersama dan diisi juga dengan berbagai nasihat.[16]
Seorang ibu tidak sengaja dihormati pada peringatan hari ibu, namun kita hendaknya mampu menghormati dan menempatkan sesuai dengan tugas dan fungsinya.Seorang ibu mempunyai swadharma yang begitu komplek dalam kehidupan ini. Dari mengandung anak, melahirkan, mendidik dan memberikan kehidupan sehingga anaknya berhasil menjadi anak suputra, mendampingi suami dalam keadaan apapun, mengatur rumah tangga dan sebagainya.Di samping peranan pokoknya sebagai ibu rumah tangga (Dharmapatni) yang berkewajiban mendampingi suami, mengasuh anak-anak dan menjalankan peran dan fungsinya sebagai ibu rumah tangga.
Sesungguhnya kita sebagai anak mempunyai utang yang sangat besar kepada orangtua yaitu Sarira krt (yang menyebabkan badan ini ada), annadatta (yang memberi makan dan minum selama kehidupan) dan pranadatta ( yang memberi hidup dan mengasuhnya). Tidak ada kasih sayang yang melebihi kasih sayang ibu. Dari ibulah mengalir kasih pertama yang meresapi tubuh kita. Kasih sayang ibu kepada anaknya sama rata, baik anaknya yang mampu maupun yang tidak mampu.
Kaum wanita telah mampu berkarma yang agung baik sebagai ibu rumah tangga, filosof, pujangga, kesatria, sebagai soko guru kehidupan masyarakat dan Negara, menentukan tegaknya hokum kebenaran (dharma) dan adat istiadat (dresta).Wanita sangat menentukan maju mundurnya keluarga, masyarakat dan Negara bahkan sering dijadikan cermin perkembangan keluarga, masyarakat dan Negara.Dengan demikian seorang ibu hendaknya memperlihatkan wajah berseri-seri sehingga keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga menjadi terwujud.
Oka Rusmini (Tokoh Feminis Hindu Bali) merupakan salah satu sosok sastrawan yang sangat diperhitungkan hingga saat ini. Sosok dan karya-karyanya fenomenal dan seringkali kontroversial karena mengangkat sejumlah persoalan adat-istiadat dan tradisi Bali yang kolot dan merugikan perempuan, terutama di lingkungan griya, rumah kaum Brahmana. Oka juga dengan lugas mendobrak tabu, mendedahkan persoalan seks dan erotica secara gambling. Semuanya itu dengan jelas bias dinikmati pada novel Tarian Bumi(2000) yang telah dicetak ulang dan terbit berbahasa Jerman dengan judul Erdentanz (2007). Novel tersebut juga banyak diilhami kesenian Joged Bumbung, tari pergaulan penuh gerakan erotis yang sangat popular di Bali.[17]
Membaca karya-karya Oka, dengan mudah bisa ditemui persoalan ketidakadilan, kekerasan dan kekelaman yang dialami perempuan, termasuk dirinya.Tema-tema yang seringkali menjadi bahan pemikiran dan perlawanan kaum feminis tersebut cenderung menjadi tema sentral pada kebanyakan karya Oka, berkelindan dengan berbagai rupa pesona erotica yang terdapat di dalamnya.
Metefora-Metafora yang beraroma erotica tersebut bukanlah sesuatu yang membangkitkan syahwat kaum laki-laki, melainkan persoalan kehancuran tubuh (perempuan), ketertindasan, kekelaman, kepedihan tak terperikan, sakit hati dan dendam kesumat.Perhatikan misalnya petikan puisi Oka yang dibuat pada tahun 1999 berjudul “Mekatu”.Kucurkan pisau zakar sepuasmu.Tubuhku retak jadi remah-remah tembaga Anyir. Kauingat saat kau kawinkan malam, aku telanjang. Kau jilati tiap remas sisa kantuk. “Kita Senggama.” Aku menjelma batu, penuh lubang.Mekatu(k) dalam Bahasa Bali berarti senggama.
Oka mulai tertarik mengangkat tema-tema erotisme ketika dia sadar apa arti tubuh perempuan. Namun Oka sendiri mengaku tidak punya pandangan khusus tentang erotisme, meski baru-baru ini dia menerbitkan antologi puisi berjudul Pandora (Grasindo, Mei 2008) yang bisa menjadi semacam filosofi tubuh perempuan. “proses menstruasi, tumbuh lancer mengeja tubuh perempuan. Kalaupun karya-karya saya terkesan sadis dan memilukan mungkin itu potret kehidupan perempuan kita,” ujar pengagum peraih Nobel Sastra Wislawa Szymborska dan Gabriel Garcia Marques ini.
Karya-karya Oka yang begitu keras mendrobrak tabu tradisi dan dengan gambling membicarakan tubuh serta erotika tentu memunculkan riak-riak pertentangan dari keluarga, sejumlah kawan, atau masyarakat yang membaca karyanya. “Mungkin mereka merasa terganggu. Tapi saya biarkan saja.Toh pada akhirnya ketika mereka membaca karya saya dengan baik, mereka akan mengakui kebenarannya dalam hati,” ujar perempuan yang dalam kesehariannya selalu tampil ceria.[18]
Oka dibesarkan dengan kultur Bali yang kuat, apalagi tumbuh dalam lingkungan kehidupan griya yang dituntut berprilaku lebih tertib, sopan dan beradab; harus pandai membuat perlengkapan upacara Agama Hindu dan sebagainya. Kakek dari pihak ibunya adalah seorang lurah pada zaman Belanda yang mahir membaca kita-kitab kuno dan memiliki ilmu gaib yang sering dipamerkan di depannya. Kakek dari pihak ayahnya adalah pembuat pratima (acara-acara sakral).Nenek dari pihak ayahnya sangat hapal dengan griyanya yang juga suka bercerita tentang seluk beluk ilmu hitam.Bagi Oka semuanya itu merupakan pengalaman eksotis dan erotis.“Saya hidup dan dibesarkan di sebuah keluarga Bali yang benar-benar paham arti menjadi Bali. Ini mungkin yang memperkuat karya-karya saya.” Ujar perempuan kelahiran Jakarta, 11 Juli 1967 ini.
Oka telah banyak mencecap pahit getir kehidupan. Dia tumbuh dari keluarga broken home. Sementara secara struktur sosial keluarganya adalah pihak publik figur dalam masyarakat Bali. Masa kanak-kanaknya lebih banyak dihabiskan di Jakarta. Ayah ibunya bercerai ketika Oka masih kecil. Oka diasuh oleh ayahnya yang kemudian menikah lagi. Ayah Oka seorang tentara dan sangat keras mendidiknya. Oka merasa ayahnya berlaku tidak adil terhadap ibu kandungnya. Perlahan dendam terhadap lelaki merasuki dirinya. Konflik batin selalu membayangi dan membentur perjalanan hidupnya. Bahkan dia pernah memutuskan untuk tidak menikah.
Bersyukur buku harian dan kegiatan-kegiatan sastra yang sering diikutinya menuntunnya menemukan jati diri. Menjelang remaja Oka menetap di Denpasar, Bali. Namanya mulai dikenal publi sastra di Bali ketika dia rajin mengirimkan puisi-puisinya keruang sastra Bali pos yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Sejak SMP dan SMA, dia juga gemar menulis cerpen dan cerbung remaja yang banyak di muat di Bali Pos. Bahkan novel Kenanga (Terbit 2003) ditulisnya ketika masih SMA. Ketika duduk di SMP 1 Denpasar Oka telah aktif di kegiatan sastra di sekolahnya dibawah naungan Sanggar Cipta Budaya asuhan penyair GM Sukawidana yang juga merupakan guru bahasa Indonesia nya saat itu. Puisi-puisi awalnya bisa dilihat dalam Rindu Anak Mendulang Kasih (1987), sebuah buku kumpulan puisi karya anggota Sanggar Cipta Budaya dan mendapat perhatian serius dari Fuad Hassan.[19]
Luka lama kembali ketika ayahnya tidak mengijinkannya mengambilkuliah di jurusan sastra Indonesia yang sangat diminatinya. Ayahnya menginginkan Oka kuliah di Fakultas Kedokteran. Oka melawan keinginan ayahnya dengan resiko biaya kuliah tidak ditanggung. Dia berjuang sendiri untuk menamatkan kuliahnya di jurusan sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Udayana.
“Mungkin tanpa terasa semua pengalaman itu menetes dalam karya-karya saya. Tentu pengalaman hidup saya tidak semuanya menarik dalam membenturkannya pada permasalahan lain yang dialami, diskusi dengan sahabat-sahabat kreatif membuat karya-karya saya mungkin terlihat lebih hidup, mungkin juga sakit,” jelas ibu dari Phasa Renaisan ini.
Oka Rusmini memutuskan meninggalkan gelar Ida Ayu yang di sandangnya sejak terlahir sebagai keturunan Brahmana. Oka merasa tidak pantas menyandang gelar terhormat. Hal itu juga dilakukannya sebagai bentuk pemberontakan dan protesnya terhadap ketidakadilan menimpa kaum perempuan di lingkungan griya, termasuk dirinya sendiri pemberontakannya semakin nyata ketika Oka memutuskan menerima lamaran penyair Arif Bagus Prasetyo yang berbeda agama dengan dirinya. Tentu saja pernikahan mereka ditentang keras oleh ayahnya dan keluarga besar griya.[20]
Sebagai sastrawan, Oka Rusmini pernah menerima berbagai penghargaan sastra, antara lain “Penghargaan Penulisan Sastra 2003” dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. Dia juga sering diundang dalam berbagai forum sastra nasional dan internasional, diantaranya Festifal Sastra Winternachten di Den Haag dan Amsterdam, Belanda, sekaligus tampil penulis tamu di Universitas Hamburg, Jerman, pada tahun 2003.















DAFTAR PUSTAKA

Fauzan., Aris Dhiya’ul, Perbandigan Agama 3, Jakarta:             2016, h. 141-142.
Faur dan Herman, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses dari http://mylindatugaskuliah.blogspot.co.id/2013/12/makalah-relasi-gender-dalam-agama-hindu.html  pada tanggal 14 September2016 pukul 20.02 WIB.
Rofiqoh., Ifa Nur, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses dari http://relasigenderfirstgroup.blogspot.co.id/2013/11/relasi-gender-dalam-agama-hindu.html pada tanggal 14 September 2016 pukul 18.25 WIB.
Uzma., Siti Maliha, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses dari https://relasigenderblog.wordpress.com/2014/12/09/161/ pata tanggal 14 Februari 2016 pukul 23.11 WIB.
https://id.wikipedia.org/wiki/Sakti, di akses pada tanggal 20 september 2016 pukul 19:45 WIB
Arvind Shamarta, perempuan dalam agama-agama dunia,Yogyakarta: SUKA press 2006 h. 87-88


[1] Siti Maliha Uzma, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses dari https://relasigenderblog.wordpress.com/2014/12/09/161/ pata tanggal 14 Februari 2016 pukul 23.11 WIB.
[2] Manawa Dharma Sastra merupakan sebuah sumber hukum peradaban umat manusia bagi umat Hindu.
[3] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta:             2016, h. 141-142.
[4] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta:             2016, h. 142-143.
[5] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta:             2016, h. 144-145.
[6] Kitab-kitab Weda merupakan himpunan kitab suci paling awal otoritatif bagi umat Hindu. Terdiri atas Samhita-samhita(Rg, Yagur, Sama dan Atharwa Weda) dan tambahan-tambahannya (kitab-kitab Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad) kitab-kitab tadi biasanya dikatakan berasal dari tahun 1500-500 S.M)
[7] Shamarta Arvind, perempuan dalam agama-agama dunia,Yogyakarta: SUKA press 2006 h. 83
[8] Shamarta Arvind, perempuan dalam agama-agama dunia,Yogyakarta: SUKA press 2006 h. 84-85

[9] Shamarta Arvind, perempuan dalam agama-agama dunia,Yogyakarta: SUKA press 2006 h. 86
[10] Shamarta Arvind, perempuan dalam agama-agama dunia,Yogyakarta: SUKA press 2006 h. 87-88
[11] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta:             2016, h. 145.
[12] https://id.wikipedia.org/wiki/Sakti, di akses pada tanggal 20 september 2016 pukul 19:45 WIB
[13] Faur dan Herman, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses dari http://mylindatugaskuliah.blogspot.co.id/2013/12/makalah-relasi-gender-dalam-agama-hindu.html  pada tanggal 14 September2016 pukul 20.02 WIB.
[14] Faur dan Herman, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses dari http://mylindatugaskuliah.blogspot.co.id/2013/12/makalah-relasi-gender-dalam-agama-hindu.html  pada tanggal 14 September2016 pukul 20.02 WIB.
[15] Ifa Nur Rofiqoh, Relasi Gender dalam Agama Hindu, diakses dari http://relasigenderfirstgroup.blogspot.co.id/2013/11/relasi-gender-dalam-agama-hindu.html pada tanggal 14 September 2016 pukul 18.25 WIB.
[16] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta:             2016, h. 146.
[17] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta:             2016, h. 146-147.
[18] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta:             2016, h. 147.
[19] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta:             2016, h. 148.
[20] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandigan Agama 3, Jakarta:             2016, h. 148.