RELASI
GENDER DALAM AGAMA BUDDHA
Makalah
diajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah relasi gender
Dosen
pembimbing:
Siti
Nadroh
Disusun
oleh:
Afrida
Purwanti
11140321000003
Siti
Syifa Fauziah
11140321000024
Syamsul
Arifin
11140321000034
PROGRAM
STUDI PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
KATA
PENGANTAR
Dengan Nama Allah SWT,
Segala Puji dan Syukur Kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan Nikmat dan
Hidayah-Nya kepada kita semua, Shalawat serta Salam kepada Junjungan Nabi besar
Muhammad SAW, beserta Keluarga dan pengikutnya.
Alhamdulillah, penulis
dapat menyelesaikan makalah ini, sebagai persyaratan nilai dalam mata kuliah
relasi gender di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta,
pada Program Studi Perbandingan Agama.
Adalah suatu kebanggaan
dan kepuasan tersendiri bagi penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Tentu tak
lupa ucapan terima kasih yang tinggi kepada D0sen pembimbing dan pihak-pihak
yang telah banyak memberikan bantuan dan memberikan informasi dalam penulisan
makalah ini.
Kepada semua pihak yang
telah berpartisipasi dalam melengkapi makalah ini sehingga penulisan ini dapat
terselesaikan dengan baik, dengan tidak mengurangi rasa hormat penulis kepada
semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, semoga Allah membalas dan
memberkahi hidup mereka.
Ciputat,
1 Desember 2016
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dari masa ke masa,
pemahaman tentang keperempuanan selalu menarik perhatian. Mereka banyak
diperbincangkan, bukan saja karena keanggunan dan kelemah lembutannya yang
menawan, tetapi juga karena perlakuan-perlakuan terhadap dirinya yang tidak
menempatkannya sebagai sesama ciptaan. Hampir di sepanjang sejarah umat manusia,
kapan pun, dimana pun kaum perempuan selalu ditempatkan sebagai insan kelas
dua, setelah kaum laki-laki.
Belakangan ini kajian
terhadap peranan dan kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat begitu marak
dikaji. Apalagi dengan munculnya analisis gender yang ingin mengungkapkan dan
melihat secara jelas akar-akar persoalan yang menyebabkan kaum perempuan
“termarginalkan” di tengah masyarakat. Berbagai organisasi dibentuk dengan
tujuan untuk membela dan memberdayakan kaum perempuan, bahkan di negara ini ada
satu kementrian, yang khusus menangani masalah tersebut.
Salah satu aspek
penting dalam pembentukan struktur masyarakat adalah pembagian peranan
berdasarkan jenis kelamin atau apa yang dikenal dengan gender. Ilmu sosial
menjadikan gender sebagai analisis yang bermanfaat untuk melihat hubungan
laki-laki dan perempuan dalam berbagai masyarakat yang berbeda.
Adanya kesenjangan
antara Buddha awal (peralihan agama Hindu ke Buddha) dan implementasi dari
praktek-praktek religiusitas dan tradisi Buddha sekarang ini menjadi alasan
kuat bagi penulis untuk mengkaji lebih jauh tentang perempuan dalam agama
Buddha.
B.
Perumusan Masalah
Agar dalam pembahasan
makalah ini tidak meluas ke dalam persoalan yang tak bertepi dan mengaburkan
fokus penelitian, maka penulis merumuskan masalah tentang relasi gender dalam
agama Buddha, mengkaji status perempuan dalam Buddha. Peranan yang dimaksud
disini adalah tugas dan kewajiban perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan
dalam keberagamaan dalam agama Buddha.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Status Perempuan Dalam Ajaran Agama
Buddha
Agama Budha tidak
mengaanggap tujuan hidup satu-satunya seorang perempuan adalah menikah serta
melahirkan dan membesarkan anak. Setelah Buddha menjelaskan corak sejati dari
kehidupan dan kematian, ketidakadilan sosial dan prasangka terhadap perempuan
perlahan-lahan berkurang. Ini memberdayakan perempuan menuntun gaya hidup
mereka. Seorang perempuan dewasa yang tidak menikah, bahkan menjadi seorang
Bhiksuni, juga merupakan salah satu tujuan hidup yang pantas.
Menurut agama Buddha,
perempuan mempunyai potensi yang sama dengan kaum laki-laki dalam p encapaian
kekuatan spiritual. Buddha adalah guru agama yang pertama yang memberikan
kesempatan yang sama kepada kaum perempuan dalam pengembangan spiritual, terbukti
dalam kitab Therigatha mengenai
pencapaian kearahatan oleh 102 Biksuni, termasuk: Maha Prajapati Gotami, Khema,
Uppalavanna, Patacara, Nanda, Dhammadinna, Bhadda Kundalakesa, Kisa Gotami,
Sona, Sakula, Bhadda-kapilani, dan Sigalamata.[1]
B.
Perempuan Dalam Agama Budha Awal di India.
Dari segi doktrin sejak awal agama Budha
memeperlihatkan corak yang egaliter. Budha memberikan pengajar yang sama pada
muridnya baik laki-laki maupun perempuan. Budha mendirikan sebuah ordo rahib
laki-laki (bikhsu-sangha) dan sebuah ordo rahib permpuan (bikhsuni-sangha)
untuk menunjukan kehidupan yang sepenuhnya diabadikan guna mampu jalan Nirwana.[2]
Vinaya atau kitab tentang kedisiplinan, memuat
sebuah uraian kuno tentang pembentukan ordo rahib wanita (David dan Oldenberg
1881, 3: 320-326; Horner 1930, 95ff.; 1979, 82-86). Menurut Buddha Vinaya
aliran Therevada, Budha mengakui bahwa perempuan benar-benar dapat menjadi arhant,
yaitu orang-orang mencapai nirwana.
Para rahib laki-laki tidak akan dapat mencegah
pandangan spiritual kaum perempuan begitu mereka menjadi bagian dari samgha,
dan secara jelas membedakan diri dari para raib perempuan di mata kaum awam
berdasarkan setatus mereka sebagai para pemimpin. (Homer 1930, 267,; Falk 1980,
208).
C.
Agama Budha Mahayana Awal (100 S.M.-400 M.)
Semula tidak ada ajaran Buddha yang menegaskan
perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi beberapa lama setelah Buddha
meninggal dunia, para pengikutnya mulai berspekulasi tentang penerapan
ajaran-ajarannya. Setelah kurang lebih 300 S.M. dan sebelum 200 M., terjadi
krisis doctrinal yang mempersoalkan kemampuan spiritual perempuan dan sebuah
usaha sungguh-sungguh dilakukan untuk membuktikan bahwa secara teologis
perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Buddha Mahayana berpendapat,
Mahayana, “Kendaraan Besar” menuju kelepasan yang memberikan tempat bagi semua
makhluk, adalah gerakan utama dalam agama Buddha yang secara pelan-pelan
berkembang dari pemikiran dan praktik keagamaan aliran-aliran Buddha yang lebih
tua. Sekitar 100 S.M. aliran tersebut telah tampil dengan pemahamannya sendiri
tentang pengajaran Buddha yaitu Astaahasrikaprajnaparamitrasutra, sutra tentang
kebijakan sempurna dalam 8.000 baris.
Teks-teks yang dimiliki para aliran Buddha
awal, seperti Mahavastu dari aliran Lokottaravadin, juga tidak menyebut adanya
kelahiran Buddha perempuan pada masa sebelumnya. Para pengikut aliran Theravada
tampaknya melihat individu-individu
hanya terdiri dari salah satu gender saja. Tafsir Therighata, yang
menguraikan kembali beberapa eksistensi terdahulu para rahib perempuan aliran
Theravada, tampaknya tidak memasukan sedikitpun tentang kehidupan perempuan
pada masa awal sebagaimana laki-laki (Davids 1909). [3]
Bodhisattva adalah orang yang akan menjadi
Buddha. Pada abad pertama Masehi, ada pengikut Buddha yang mempunyai pandangan
bahwa seorang perempuan tidak dapat menjadi Buddha, di antaranya ialah para
pengikut aliran Theravada (Sharma 1978) dan beberapa pengikut aliran Mahayana
(Paul 1979, 169-176). Mereka menegaskan bahwa adanya lima tingkatan kewujudan
di dunia yang sama sekali tidak cocok dengan badan seorang perempuan: sehingga
ia tidak dapat menjadi dewa Sakra, dewa Berahma atau dewa Mara, tidak dapat
menjadi wujud penguasa universal (raja-caktavartin) dan tidak dapat menjadi
Budha ( Schuster 1981, 27; Kajiyama 1982, 54ff.) kelima tingkat yang tidak
dapat dicapai ini telah disebutkan dalam kitab-kitab Nikaya Pali (M.III. 65-66;
A.I.28) dan kitab-kitab Agama berbahasa Cina (T.vol. l, no.26 h.607.b. 10-15;
T. vol. II, no. 125, h 757.c.24-29). Kalimat tingkatan tadi juga disebut dalam
kitab-kita sutra terkenal aliran Mahayana, Saddharmapundarika (Sutra Lotus,
Hurvitz 1976, 201; T. vol. ix, no.262, h. 35. C. 9-11, dan no.26, h.
106.a.14-16); tetapi dalam sebuah rangkaian kejadian yang dramatis, Sutra Lotus
tersebut kemudian “membuktikan” bahwa seorang perempuan benar-benar dapat
menjadi Budha.[4]
D.
Mahayana dan Paham Agama Budha Vajrayana di
Luar India (kira-kira 400M.)
Agama Budha mulai dibawa para misionaris
keluar perbatasan India baru pada abad ke-3 S.M. Ordo para rahib perempuan
didirikan di Cina pada abad keempat Masehi hingga sekarang. Para rahib Cina
diharuskan hidup sesuai dengan aturan-aturan kedisiplinan yang sama seperti
halnya para bhiksuni awal di India.
Bagi perempuan Budha Cina, ordo rahib
perempuan merupakan lembaga yang sangat penting, terutama karena memberikan
kesempatan kepada para perempuan untuk dihargai dan aktif di luar struktur
keluar tradisional. Kira-kira pada tahun 516 M., seorang rahib ilmuan,
Bao-chang, menulis biografi enam puluh lima rahib perempuan yang dianggapnya
luar biasa karena kepercayaan dan asketisme mereka, atau kesempurnaan mereka
adalam melakukan meditasi atau dalam pengajaran dan pendidikan agama, karyanya
adalah Bi-qiu-ni zhuan, kehidupan
rahib perempuan (Cissell 1972; Li 1981). Seperti halnya Therigatha India Kuno, Bi-qiu-ui
zhuan menguraikan sekelompok elite perempuan yang dianggap luar biasa dan
layak ditampilkan. Para rahib perempuan Cina ini dipuji karena kesempurnaan
mereka. Sebagian besar rahib perempuan yang disebutkan dalam Bi-qiu-ni zhuan
dipuji karena memiliki pengetahuan yang mendalam dan keahlian sastra yang
tinggi (Cissell 1972, 87-91; Tsai 1981, 12-13; Schuster 1985b, 93-96).
Sekalipun beberapa rahib perempuan dikabarkan memperoleh pendidikan dalam
masalah-masalah sekuler tradisional sebelum memasuiki ordo (Cissell 1972, 149,
166, 169, 178, 244; Li 1981, 33, 45, 53, 108). Sutra-sutra yang seringkali
dipelajari dan dikuasai oleh para rahib perempuan tadi adalah Lotus,
prajnaparamita, Vimalakirtinirdesa, Srimaladevi dan Mahaparinirwana (Cessell
1972, 87-89); Tsai 1981, 12; Schuster 1985b, 96).[5]
Banyak rahib perempuan Cina yang kemudian
menjadi menjadi guru terkenal yang mengajar rahib-rahib perempuan lain dan
mengembangkan kongregasi orang-orang awam berdasarkan sutra-sutra, dank karena
itu sangat dihormati dan sedemikian berpengaruh. Seperti hslnys psrs rahib
laki-laki, mereka seringkali memiliki banyak teman dari kalangan istana dan
mengajar serta bertindak sebagai penasehat spiritual bagi para kasisar dan
anggota-anggota lain keluarga istana (Cissell 1972, 89-92; Schuster 1985b,
93ff,). Beberapa rahib perempuan dan laki-laki berdebat di depan umum terkenal
dan mengalahkan mereka. Tetapi tidak sedikit rahib perempuan yang menjadi guru,
ilmuan dan pemimpin agama terkenal yang menduduki posisi yang berpengaruh
sebagai kepala-kepala biara dan ada juga yang mendai direktur-direktur samgha
rahib perempuan atau masyarakatnya telah memberika kontribusi penting bagi
perkembangan aliran-aliran Buddha di Cina yang muncul pada abad keenam masehi,
bahkan mereka berpartisipasi dalam diskusi tentang doktrin dan lembaga
keagamaan baru yang telah memunculkan aliran-aliran Buddha di Cina. Ada
beberapa rahib-rahib perempuan yang menulis penafsiran dan uraian tentang
doktrin (Cissell 1972, 227, 258; Li 1981, 95, 118). [6]
E. Peran Perempuan Dalam Sejarah
Perkembangan Agama Buddha
Kesetaraan gender dalam
agama Buddha didasari kewajiban dan tanggungjawab bersama dalam rumahtangga dan
adanya kehendak bersama dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Menurut
agama Buddha, manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan yang muncul bersama
di muka bumi ini. Dan dia dapat terlahir sesuai dengan karmanya masing-masing,
sehingga kedudukan antara laki-laki maupun perempuan dalam agama Buddha tidak
dipermasalahkan. Agama Buddha membimbing umatnya untuk menghargai gender.[7]
a. Perempuan sebagai ibu
Pada zaman Buddha mulai ada perubahan.
Perempuan mulai menikmati persamaan hak dan penghormatan yang lebih, daripada
sebelumnya. Gotama mengajarkan dharma kepada perempuan dan laki-laki mengenai
penanggung jawab rumah tangga tanpa perbedaan gender disetujui tanpa bantahan.
b. Perempuan sebagai anak
Kedudukan wanita dalam agama Buddha
sangatlah tinggi hal ini terdapat dalam ajaran Buddha itu sendiri yang
mengangkat derajat wanita yang belum menikah dan berada pada derajat yang tinggi.
c. Perempuan sebagai istri
Sikap patuh kepada suami, melaksanakan
perintah suami, mewujudkan keingina-keinginan suam isaja, tanpa memerlukan
syaratlain, sudah cukup bagi seorang istri untuk memasuki pintu gerbang Surga.
Tidak seperti laki-laki, perempuan tidak perlu melakukan berbagai tata cara dan
upacara keagamaan berupa penyajian kurban atau puasa, atau menunjukkan baktinya
dengan berdo’a dan memuja untuk mebawanya ke Surga. Kesetiaan kepada suami dan
kepatuhan yang terus menerus kepada suami adalah satu-satunya kunci membuka
gerbang Surga. Menurut Manu, perempuan tidak berhak mempelajari Weda. Inilah
sebabnya mengapa upacara mereka dilakukan tanpa mantra Weda. Pandangan terhadap
perempuan ini merupakan penghinaan bagi perempuan India.
d. Perempuan sebagai janda
Perempuan sebagai janda dalam agama
Buddha, meskipun suaminya telah meninggal, perempuan yang menjadi janda tetap dihormati.
Janda tidak kotor. Janda tetap dianggap rasional dalam agama Buddha.Semua
pandangan buruk tentang janda sudah tidak ditemukan kembali pada masa agama
Buddha.Bila janda maka dia menjadi milik bapak, ibunya dan kakak laki-lakinya,
kaumnya atau dharma. Karena itu dia bisa memasuki kehidupan Sangha Biksuni.
Karenanya janda yang tidak memiliki suami sama saja perempuan yang tidak
menikah.
e. Perempuan sebagai pekerja
Diantara masyarakat Buddhis golongan
menengah atas (kaya) di India, kehidupan perempuan didukung oleh anak-anak,
suami atau ayahnya. Mereka tidak berbuat
banyak, jika ada, mereka hanya menjadi ibu, istri atau anak perempuan.
Tetapi di antara masyarakat golongan menengah ke bawah (miskin) mereka harus
membiayai hidup mereka sendiri, ada yang terlibat dalam perdagangan atau yang
menjadikan pekerjaannya sebagai profesi.[8]
F. Reinterpretasi Dan Adaptasi Peran-Peran
Gender Tradisional
Dalam Buddha Mahayana terdapat berbagai macam
tradisi-tradisi kecil.Sebagian pemikir Mahayana mengangkat kaum perempuan
sehingga dalam Jataka Cina dapat ditemukan Bhodisatwa yang terlahir sebagai
perempuan sebelum akhirnya terlahir sebagai laki-laki yaitu BuddhaGotama.Namun,
hal tersebut dirasa tidak sesuai dengan ajaran Buddha sehingga pada akhirnya
lahir konsep Buddha perempuan di Cina yang terwujud dalam Avalokiteswara dalam
bahasa Cina disebut Guan-Yin.
Untuk membuat kesejajaran gender dikembangkan konsep Bhodisatwa. Bodisatwa mempunyai pengertian yang lebih luas daripada Bhodisatta yaitu orang yang mampu menjadi Buddha namun tidak langsung memasuki nirwana, tetapi mengabdikan dirinya demi orang lain. Jadi Bhodisatwa bukan hanya ada satu orang seperti halnya dengan Bhodisatta.Evolusi Bhodisatwa Guan-Yin menjadi perempuan juga memberikan dampak kehormatan terhadap perempuan dan memberikan arti bahwa perempuan juga bisa menjadi Buddha.[9]
Untuk membuat kesejajaran gender dikembangkan konsep Bhodisatwa. Bodisatwa mempunyai pengertian yang lebih luas daripada Bhodisatta yaitu orang yang mampu menjadi Buddha namun tidak langsung memasuki nirwana, tetapi mengabdikan dirinya demi orang lain. Jadi Bhodisatwa bukan hanya ada satu orang seperti halnya dengan Bhodisatta.Evolusi Bhodisatwa Guan-Yin menjadi perempuan juga memberikan dampak kehormatan terhadap perempuan dan memberikan arti bahwa perempuan juga bisa menjadi Buddha.[9]
Dalam lapangan sekuler (kehidupan rumahtangga), cacat ini tidak begitu
terlihat. Sehingga ada ilmuwan yang menyatakan kesempurnaan teori Sang Budha
karena tidak menemukan teks-teks yang bersifat metogenis dalam ajaran dasarnya.
Maka seakan-akan, dalam ajaran Sang Budha, kesetaraan gender ini sudah
terwujud, padahal sebenarnya tidak juga. Pembaharuan yang dibawa oleh Buddha
tersebut mengajarkan kemuliaan seseorangtidak berasal dari kelahirannya yang
berjenis kelamin atau dari keturunan tertentu, melainkan ditentukan oleh
perbuatan yang dilakukan. Ritual-ritual persembahan atau pengorbanan tidak
dapat menyucikan batin dan membebaskan seseorang dari samsara, oleh karenanya
salah satu keyakinan yang mendiskreditkan perempuan karena dianggap tidak dapat
menyucikan orangtuanya setelah mereka meninggal adalah tidak benar.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari penjelasan
diatas dapat disimpulkan bahwa pada saat Masyarakat India pra Buddha, sangat
tidak menghormati perempuan atau disebut deskriminasi terhadap kaum perempuan.
Sampai sekte Brahmanisme berpendapat bahwa yang boleh menjadi pemimpin upacara
hanya hanya dari kalangan laki-laki saja.
Pada saat Buddha
hadir ia membawa pembaharuan. Kasta dihapuskan, perempuan diberi hak dan
kesempatan yang hampir sama dengan laki-laki dalam menjalani kehidupan religius
maupun sosial. Tetapi Setelah Buddha meninggal timbulah pandangan bahwa kelahiran
sebagai perempuan lebih rendah karena karma buruk telah hilang sebelumnya. Dan
ada perdebatan antara status perempuan dalam aliran Theravada dan Mahayana.
DAFTAR
PUSTAKA
Dhiya’ul Fauzain, Aris. Perbandingan Agama
3. Jakarta: 2016
Sharma Arvind (ed.), Perempuan Dalam
Agama-agama Dunia, Jakarta: Ditpertais Depag RI-CIDA-McGill Project, 2002
Winangun
AyatullahSkripsi Peranan Bhiksuni Dalam
Aktivitas Sosial Keagamaan Analisis Gender. Jakarta: Uin syarif
hidayatullah, 2009
[1] Ayatullah
winangun. Skripsi Peranan Bhiksuni Dalam
Aktivitas Sosial Keagamaan
Analisis Gender. (Jakarta: Uin syarif hidayatullah,2009) Hal.14
[2] Arvind Sharma (ed.),
Perempuan Dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Ditpertais Depag
RI-CIDA-McGill Project, 2002) Hal. 150
[3] Arvind Sharma (ed.), Perempuan Dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta:
Ditpertais Depag RI-CIDA-McGill Project, 2002) Hal.
159-163
[4] Arvind Sharma (ed.), Perempuan Dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta:
Ditpertais Depag RI-CIDA-McGill Project, 2002) Hal. 168
[6] Arvind Sharma (ed.), Perempuan Dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta:
Ditpertais Depag RI-CIDA-McGill Project, 2002) Hal.171-175
[7] Ayatullah
winangun. Skripsi Peranan Bhiksuni Dalam
Aktivitas Sosial Keagamaan Analisis Gender. (Jakarta: Uin syarif hidayatullah,2009)
Hal.24
[8] Ayatullah winangun. Skripsi
Peranan Bhiksuni Dalam Aktivitas Sosial
Keagamaan Analisis Gender. (Jakarta: Uin syarif hidayatullah,2009) Hal. 27
[9] https://zeinridwan.wordpress.com/2013/12/01/relasi-gender-dalam-agama-buddha/
diakses 30 november 2016 jam 14:05 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar