Kamis, 15 Desember 2016

Makalah Relasi Gender dalam Agama Buddha

RELASI GENDER DALAM AGAMA BUDDHA
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah relasi gender
Dosen pembimbing:
Siti Nadroh
Disusun oleh:
Afrida Purwanti
11140321000003
Siti Syifa Fauziah
11140321000024
Syamsul Arifin
11140321000034

PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Dengan Nama Allah SWT, Segala Puji dan Syukur Kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan Nikmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua, Shalawat serta Salam kepada Junjungan Nabi besar Muhammad SAW, beserta Keluarga dan pengikutnya.
Alhamdulillah, penulis dapat menyelesaikan makalah ini, sebagai persyaratan nilai dalam mata kuliah relasi gender di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Program Studi Perbandingan Agama.
Adalah suatu kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Tentu tak lupa ucapan terima kasih yang tinggi kepada D0sen pembimbing dan pihak-pihak yang telah banyak memberikan bantuan dan memberikan informasi dalam penulisan makalah ini.
Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam melengkapi makalah ini sehingga penulisan ini dapat terselesaikan dengan baik, dengan tidak mengurangi rasa hormat penulis kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, semoga Allah membalas dan memberkahi hidup mereka.



Ciputat, 1 Desember  2016


Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dari masa ke masa, pemahaman tentang keperempuanan selalu menarik perhatian. Mereka banyak diperbincangkan, bukan saja karena keanggunan dan kelemah lembutannya yang menawan, tetapi juga karena perlakuan-perlakuan terhadap dirinya yang tidak menempatkannya sebagai sesama ciptaan. Hampir di sepanjang sejarah umat manusia, kapan pun, dimana pun kaum perempuan selalu ditempatkan sebagai insan kelas dua, setelah kaum laki-laki.
Belakangan ini kajian terhadap peranan dan kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat begitu marak dikaji. Apalagi dengan munculnya analisis gender yang ingin mengungkapkan dan melihat secara jelas akar-akar persoalan yang menyebabkan kaum perempuan “termarginalkan” di tengah masyarakat. Berbagai organisasi dibentuk dengan tujuan untuk membela dan memberdayakan kaum perempuan, bahkan di negara ini ada satu kementrian, yang khusus menangani masalah tersebut.
Salah satu aspek penting dalam pembentukan struktur masyarakat adalah pembagian peranan berdasarkan jenis kelamin atau apa yang dikenal dengan gender. Ilmu sosial menjadikan gender sebagai analisis yang bermanfaat untuk melihat hubungan laki-laki dan perempuan dalam berbagai masyarakat yang berbeda.
Adanya kesenjangan antara Buddha awal (peralihan agama Hindu ke Buddha) dan implementasi dari praktek-praktek religiusitas dan tradisi Buddha sekarang ini menjadi alasan kuat bagi penulis untuk mengkaji lebih jauh tentang perempuan dalam agama Buddha.
B.  Perumusan Masalah
Agar dalam pembahasan makalah ini tidak meluas ke dalam persoalan yang tak bertepi dan mengaburkan fokus penelitian, maka penulis merumuskan masalah tentang relasi gender dalam agama Buddha, mengkaji status perempuan dalam Buddha. Peranan yang dimaksud disini adalah tugas dan kewajiban perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam keberagamaan dalam agama Buddha.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Status Perempuan Dalam Ajaran Agama Buddha
Agama Budha tidak mengaanggap tujuan hidup satu-satunya seorang perempuan adalah menikah serta melahirkan dan membesarkan anak. Setelah Buddha menjelaskan corak sejati dari kehidupan dan kematian, ketidakadilan sosial dan prasangka terhadap perempuan perlahan-lahan berkurang. Ini memberdayakan perempuan menuntun gaya hidup mereka. Seorang perempuan dewasa yang tidak menikah, bahkan menjadi seorang Bhiksuni, juga merupakan salah satu tujuan hidup yang pantas.
Menurut agama Buddha, perempuan mempunyai potensi yang sama dengan kaum laki-laki dalam p encapaian kekuatan spiritual. Buddha adalah guru agama yang pertama yang memberikan kesempatan yang sama kepada kaum perempuan dalam pengembangan spiritual, terbukti dalam kitab Therigatha mengenai pencapaian kearahatan oleh 102 Biksuni, termasuk: Maha Prajapati Gotami, Khema, Uppalavanna, Patacara, Nanda, Dhammadinna, Bhadda Kundalakesa, Kisa Gotami, Sona, Sakula, Bhadda-kapilani, dan Sigalamata.[1]
B.     Perempuan Dalam Agama Budha Awal di India.
Dari segi doktrin sejak awal agama Budha memeperlihatkan corak yang egaliter. Budha memberikan pengajar yang sama pada muridnya baik laki-laki maupun perempuan. Budha mendirikan sebuah ordo rahib laki-laki (bikhsu-sangha) dan sebuah ordo rahib permpuan (bikhsuni-sangha) untuk menunjukan kehidupan yang sepenuhnya diabadikan guna mampu jalan Nirwana.[2]
Vinaya atau kitab tentang kedisiplinan, memuat sebuah uraian kuno tentang pembentukan ordo rahib wanita (David dan Oldenberg 1881, 3: 320-326; Horner 1930, 95ff.; 1979, 82-86). Menurut Buddha Vinaya aliran Therevada, Budha mengakui bahwa perempuan benar-benar dapat menjadi arhant, yaitu orang-orang mencapai nirwana.
Para rahib laki-laki tidak akan dapat mencegah pandangan spiritual kaum perempuan begitu mereka menjadi bagian dari samgha, dan secara jelas membedakan diri dari para raib perempuan di mata kaum awam berdasarkan setatus mereka sebagai para pemimpin. (Homer 1930, 267,; Falk 1980, 208).
C.     Agama Budha Mahayana Awal (100 S.M.-400 M.)
Semula tidak ada ajaran Buddha yang menegaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi beberapa lama setelah Buddha meninggal dunia, para pengikutnya mulai berspekulasi tentang penerapan ajaran-ajarannya. Setelah kurang lebih 300 S.M. dan sebelum 200 M., terjadi krisis doctrinal yang mempersoalkan kemampuan spiritual perempuan dan sebuah usaha sungguh-sungguh dilakukan untuk membuktikan bahwa secara teologis perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Buddha Mahayana berpendapat, Mahayana, “Kendaraan Besar” menuju kelepasan yang memberikan tempat bagi semua makhluk, adalah gerakan utama dalam agama Buddha yang secara pelan-pelan berkembang dari pemikiran dan praktik keagamaan aliran-aliran Buddha yang lebih tua. Sekitar 100 S.M. aliran tersebut telah tampil dengan pemahamannya sendiri tentang pengajaran Buddha yaitu Astaahasrikaprajnaparamitrasutra, sutra tentang kebijakan sempurna dalam 8.000 baris.
Teks-teks yang dimiliki para aliran Buddha awal, seperti Mahavastu dari aliran Lokottaravadin, juga tidak menyebut adanya kelahiran Buddha perempuan pada masa sebelumnya. Para pengikut aliran Theravada tampaknya melihat individu-individu  hanya terdiri dari salah satu gender saja. Tafsir Therighata, yang menguraikan kembali beberapa eksistensi terdahulu para rahib perempuan aliran Theravada, tampaknya tidak memasukan sedikitpun tentang kehidupan perempuan pada masa awal sebagaimana laki-laki (Davids 1909). [3]
Bodhisattva adalah orang yang akan menjadi Buddha. Pada abad pertama Masehi, ada pengikut Buddha yang mempunyai pandangan bahwa seorang perempuan tidak dapat menjadi Buddha, di antaranya ialah para pengikut aliran Theravada (Sharma 1978) dan beberapa pengikut aliran Mahayana (Paul 1979, 169-176). Mereka menegaskan bahwa adanya lima tingkatan kewujudan di dunia yang sama sekali tidak cocok dengan badan seorang perempuan: sehingga ia tidak dapat menjadi dewa Sakra, dewa Berahma atau dewa Mara, tidak dapat menjadi wujud penguasa universal (raja-caktavartin) dan tidak dapat menjadi Budha ( Schuster 1981, 27; Kajiyama 1982, 54ff.) kelima tingkat yang tidak dapat dicapai ini telah disebutkan dalam kitab-kitab Nikaya Pali (M.III. 65-66; A.I.28) dan kitab-kitab Agama berbahasa Cina (T.vol. l, no.26 h.607.b. 10-15; T. vol. II, no. 125, h 757.c.24-29). Kalimat tingkatan tadi juga disebut dalam kitab-kita sutra terkenal aliran Mahayana, Saddharmapundarika (Sutra Lotus, Hurvitz 1976, 201; T. vol. ix, no.262, h. 35. C. 9-11, dan no.26, h. 106.a.14-16); tetapi dalam sebuah rangkaian kejadian yang dramatis, Sutra Lotus tersebut kemudian “membuktikan” bahwa seorang perempuan benar-benar dapat menjadi Budha.[4]
D.    Mahayana dan Paham Agama Budha Vajrayana di Luar India (kira-kira 400M.)
Agama Budha mulai dibawa para misionaris keluar perbatasan India baru pada abad ke-3 S.M. Ordo para rahib perempuan didirikan di Cina pada abad keempat Masehi hingga sekarang. Para rahib Cina diharuskan hidup sesuai dengan aturan-aturan kedisiplinan yang sama seperti halnya para bhiksuni awal di India.
Bagi perempuan Budha Cina, ordo rahib perempuan merupakan lembaga yang sangat penting, terutama karena memberikan kesempatan kepada para perempuan untuk dihargai dan aktif di luar struktur keluar tradisional. Kira-kira pada tahun 516 M., seorang rahib ilmuan, Bao-chang, menulis biografi enam puluh lima rahib perempuan yang dianggapnya luar biasa karena kepercayaan dan asketisme mereka, atau kesempurnaan mereka adalam melakukan meditasi atau dalam pengajaran dan pendidikan agama, karyanya adalah Bi-qiu-ni zhuan,  kehidupan rahib perempuan (Cissell 1972; Li 1981). Seperti halnya Therigatha India Kuno, Bi-qiu-ui zhuan menguraikan sekelompok elite perempuan yang dianggap luar biasa dan layak ditampilkan. Para rahib perempuan Cina ini dipuji karena kesempurnaan mereka. Sebagian besar rahib perempuan yang disebutkan dalam Bi-qiu-ni zhuan dipuji karena memiliki pengetahuan yang mendalam dan keahlian sastra yang tinggi (Cissell 1972, 87-91; Tsai 1981, 12-13; Schuster 1985b, 93-96). Sekalipun beberapa rahib perempuan dikabarkan memperoleh pendidikan dalam masalah-masalah sekuler tradisional sebelum memasuiki ordo (Cissell 1972, 149, 166, 169, 178, 244; Li 1981, 33, 45, 53, 108). Sutra-sutra yang seringkali dipelajari dan dikuasai oleh para rahib perempuan tadi adalah Lotus, prajnaparamita, Vimalakirtinirdesa, Srimaladevi dan Mahaparinirwana (Cessell 1972, 87-89); Tsai 1981, 12; Schuster 1985b, 96).[5]
Banyak rahib perempuan Cina yang kemudian menjadi menjadi guru terkenal yang mengajar rahib-rahib perempuan lain dan mengembangkan kongregasi orang-orang awam berdasarkan sutra-sutra, dank karena itu sangat dihormati dan sedemikian berpengaruh. Seperti hslnys psrs rahib laki-laki, mereka seringkali memiliki banyak teman dari kalangan istana dan mengajar serta bertindak sebagai penasehat spiritual bagi para kasisar dan anggota-anggota lain keluarga istana (Cissell 1972, 89-92; Schuster 1985b, 93ff,). Beberapa rahib perempuan dan laki-laki berdebat di depan umum terkenal dan mengalahkan mereka. Tetapi tidak sedikit rahib perempuan yang menjadi guru, ilmuan dan pemimpin agama terkenal yang menduduki posisi yang berpengaruh sebagai kepala-kepala biara dan ada juga yang mendai direktur-direktur samgha rahib perempuan atau masyarakatnya telah memberika kontribusi penting bagi perkembangan aliran-aliran Buddha di Cina yang muncul pada abad keenam masehi, bahkan mereka berpartisipasi dalam diskusi tentang doktrin dan lembaga keagamaan baru yang telah memunculkan aliran-aliran Buddha di Cina. Ada beberapa rahib-rahib perempuan yang menulis penafsiran dan uraian tentang doktrin (Cissell 1972, 227, 258; Li 1981, 95, 118). [6]
E.     Peran Perempuan Dalam Sejarah Perkembangan Agama Buddha
Kesetaraan gender dalam agama Buddha didasari kewajiban dan tanggungjawab bersama dalam rumahtangga dan adanya kehendak bersama dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Menurut agama Buddha, manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan yang muncul bersama di muka bumi ini. Dan dia dapat terlahir sesuai dengan karmanya masing-masing, sehingga kedudukan antara laki-laki maupun perempuan dalam agama Buddha tidak dipermasalahkan. Agama Buddha membimbing umatnya untuk menghargai gender.[7]
a.       Perempuan sebagai ibu
Pada zaman Buddha mulai ada perubahan. Perempuan mulai menikmati persamaan hak dan penghormatan yang lebih, daripada sebelumnya. Gotama mengajarkan dharma kepada perempuan dan laki-laki mengenai penanggung jawab rumah tangga tanpa perbedaan gender disetujui tanpa bantahan.
b.      Perempuan sebagai anak
Kedudukan wanita dalam agama Buddha sangatlah tinggi hal ini terdapat dalam ajaran Buddha itu sendiri yang mengangkat derajat wanita yang belum menikah dan berada pada derajat yang tinggi.
c.       Perempuan sebagai istri
Sikap patuh kepada suami, melaksanakan perintah suami, mewujudkan keingina-keinginan suam isaja, tanpa memerlukan syaratlain, sudah cukup bagi seorang istri untuk memasuki pintu gerbang Surga. Tidak seperti laki-laki, perempuan tidak perlu melakukan berbagai tata cara dan upacara keagamaan berupa penyajian kurban atau puasa, atau menunjukkan baktinya dengan berdo’a dan memuja untuk mebawanya ke Surga. Kesetiaan kepada suami dan kepatuhan yang terus menerus kepada suami adalah satu-satunya kunci membuka gerbang Surga. Menurut Manu, perempuan tidak berhak mempelajari Weda. Inilah sebabnya mengapa upacara mereka dilakukan tanpa mantra Weda. Pandangan terhadap perempuan ini merupakan penghinaan bagi perempuan  India.
d.      Perempuan sebagai janda
Perempuan sebagai janda dalam agama Buddha, meskipun suaminya telah meninggal, perempuan yang menjadi janda tetap dihormati. Janda tidak kotor. Janda tetap dianggap rasional dalam agama Buddha.Semua pandangan buruk tentang janda sudah tidak ditemukan kembali pada masa agama Buddha.Bila janda maka dia menjadi milik bapak, ibunya dan kakak laki-lakinya, kaumnya atau dharma. Karena itu dia bisa memasuki kehidupan Sangha Biksuni. Karenanya janda yang tidak memiliki suami sama saja perempuan yang tidak menikah.
e.       Perempuan sebagai pekerja
Diantara masyarakat Buddhis golongan menengah atas (kaya) di India, kehidupan perempuan didukung oleh anak-anak, suami atau ayahnya. Mereka tidak berbuat  banyak, jika ada, mereka hanya menjadi ibu, istri atau anak perempuan. Tetapi di antara masyarakat golongan menengah ke bawah (miskin) mereka harus membiayai hidup mereka sendiri, ada yang terlibat dalam perdagangan atau yang menjadikan pekerjaannya sebagai profesi.[8]
F.      Reinterpretasi Dan Adaptasi Peran-Peran Gender Tradisional
Dalam Buddha Mahayana terdapat berbagai macam tradisi-tradisi kecil.Sebagian pemikir Mahayana mengangkat kaum perempuan sehingga dalam Jataka Cina dapat ditemukan Bhodisatwa yang terlahir sebagai perempuan sebelum akhirnya terlahir sebagai laki-laki yaitu BuddhaGotama.Namun, hal tersebut dirasa tidak sesuai dengan ajaran Buddha sehingga pada akhirnya lahir konsep Buddha perempuan di Cina yang terwujud dalam Avalokiteswara dalam bahasa Cina disebut Guan-Yin.
            Untuk membuat kesejajaran gender dikembangkan konsep Bhodisatwa. Bodisatwa mempunyai pengertian yang lebih luas daripada Bhodisatta yaitu orang yang mampu menjadi Buddha namun tidak langsung memasuki nirwana, tetapi mengabdikan dirinya demi orang lain. Jadi Bhodisatwa bukan hanya ada satu orang seperti halnya dengan Bhodisatta.Evolusi Bhodisatwa Guan-Yin menjadi perempuan juga memberikan dampak kehormatan terhadap perempuan dan memberikan arti bahwa perempuan juga bisa menjadi Buddha.[9]
Dalam lapangan sekuler (kehidupan rumahtangga), cacat ini tidak begitu terlihat. Sehingga ada ilmuwan yang menyatakan kesempurnaan teori Sang Budha karena tidak menemukan teks-teks yang bersifat metogenis dalam ajaran dasarnya. Maka seakan-akan, dalam ajaran Sang Budha, kesetaraan gender ini sudah terwujud, padahal sebenarnya tidak juga. Pembaharuan yang dibawa oleh Buddha tersebut mengajarkan kemuliaan seseorangtidak berasal dari kelahirannya yang berjenis kelamin atau dari keturunan tertentu, melainkan ditentukan oleh perbuatan yang dilakukan. Ritual-ritual persembahan atau pengorbanan tidak dapat menyucikan batin dan membebaskan seseorang dari samsara, oleh karenanya salah satu keyakinan yang mendiskreditkan perempuan karena dianggap tidak dapat menyucikan orangtuanya setelah mereka meninggal adalah tidak benar.























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada saat Masyarakat India pra Buddha, sangat tidak menghormati perempuan atau disebut deskriminasi terhadap kaum perempuan. Sampai sekte Brahmanisme berpendapat bahwa yang boleh menjadi pemimpin upacara hanya hanya dari kalangan laki-laki saja.
Pada saat Buddha hadir ia membawa pembaharuan. Kasta dihapuskan, perempuan diberi hak dan kesempatan yang hampir sama dengan laki-laki dalam menjalani kehidupan religius maupun sosial. Tetapi Setelah Buddha meninggal timbulah pandangan bahwa kelahiran sebagai perempuan lebih rendah karena karma buruk telah hilang sebelumnya. Dan ada perdebatan antara status perempuan dalam aliran Theravada dan Mahayana.




DAFTAR PUSTAKA
Dhiya’ul Fauzain, Aris. Perbandingan Agama 3. Jakarta: 2016
Sharma Arvind (ed.), Perempuan Dalam Agama-agama Dunia, Jakarta: Ditpertais Depag RI-CIDA-McGill Project, 2002
Winangun AyatullahSkripsi Peranan Bhiksuni Dalam   Aktivitas Sosial Keagamaan Analisis Gender. Jakarta: Uin syarif hidayatullah, 2009




[1] Ayatullah winangun. Skripsi Peranan Bhiksuni Dalam   Aktivitas Sosial Keagamaan Analisis Gender. (Jakarta: Uin syarif hidayatullah,2009) Hal.14

[2]  Arvind Sharma (ed.), Perempuan Dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Ditpertais Depag RI-CIDA-McGill Project, 2002) Hal. 150

[3] Arvind Sharma (ed.), Perempuan Dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Ditpertais Depag RI-CIDA-McGill Project, 2002) Hal. 159-163
[4] Arvind Sharma (ed.), Perempuan Dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Ditpertais Depag RI-CIDA-McGill Project, 2002) Hal. 168
[5] Aris Dhiyaul Fauzain, Perbandingan Agama 3. (Jakarta: UIN Jakarta,2016) Hal

[6] Arvind Sharma (ed.), Perempuan Dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Ditpertais Depag RI-CIDA-McGill Project, 2002) Hal.171-175
[7] Ayatullah winangun. Skripsi Peranan Bhiksuni Dalam   Aktivitas Sosial Keagamaan Analisis Gender. (Jakarta: Uin syarif hidayatullah,2009) Hal.24
[8]  Ayatullah winangun. Skripsi Peranan Bhiksuni Dalam   Aktivitas Sosial Keagamaan Analisis Gender. (Jakarta: Uin syarif hidayatullah,2009) Hal. 27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar